Mohon tunggu...
Humor

Banyak Orang Mati di Pinggir Jalan

12 Februari 2019   10:18 Diperbarui: 12 Februari 2019   10:45 0 0 0 Mohon Tunggu...
Banyak Orang Mati di Pinggir Jalan
Sumber: Tribunnews Surabaya (https://tinyurl.com/y6ge86pm)

Rasanya sudah lama saya tidak mencurahkan pikiran melalui tulisan. Sudah lama juga tidak membaca buku, kecuali hanya kemarin buku tentang JK Rowling yang berhasil bangkit dari depresi dan kemiskinan hingga menjadi miliarder berkat karyanya tentang Hary Potter yang dituliskannya dengan berbagai depresi yang menghantui Rowling pada waktu itu. Saat ini saya seperti kaku akibat lama tidak bercengkrama dengan tulis menulis. Tapi berkat rentetan berbagai peristiwa yang saya alami di kampung, saya jadi harus berfikir ala kota tempat calon presiden, calon legislatif dan calon pengangguran beraktivitas.

Ceritanya seperti ini, waktu duduk bersama keluarga di rumah ternyata saya harus menuruti perbincangan para kerabat mengenai hiruk-pikuk pemilu yang sudah banyak tersebar pernak perniknya di berbagai sudut kota dan desa. Yang semuanya suatu bentuk kemeriahan pesta demokrasi atau menurut saya insyallah demokrasi.

Satu hal yang buat hati saya tersenyum mengiringi mulut yang tertawa lebar akibat komedi edukasi para leluhur dulu. Komedi itu dilontarkan oleh paman saya pada waktu itu, yang sedang asyik ngobrol soal pemilu. Ya, maklum para rakyat kecil mampunya menganalisis pemilu hanya melalui asas praduga tanpa adanya data konkret seputar peristiwa pemilu, yang bahasa yang seringkali diungkapkan mahasiswa adalah istilah skeptis.

"Menurut sesepuh, besok akan banyak orang mati di pinggir jalan dan di pohon-pohon tapi orang-orang itu tersenyum." Begitu ungkapan paman saya saat itu. Awalnya cukup aneh dan penuh tanda tanya mendengar ungkapan itu. Ternyata ramalan sesepuh dulu itu mengandung berbagai gambaran masa depan yang akan dilalui oleh anak cucunya sekarang ini.

Jika dianalisa "akan banyak orang mati dipinggir jalan dan pohon tapi orangnya tersenyum", itu dikontekskan dengan pemilu saat ini, menggunakan pernak-pernik benar yang berisi foto para calon presiden dan calon legislatif yang dipajang di pinggir jalan pada pohon-pohon itu sepertinya ada benarnya juga. Maksudnya perkataan sesepuh dulu memang mengandung banyak penafsiran. Apabila mencoba menafsirkan perkataan itu.

Nampaknya, prediksi orang-orang terdahulu yang kurang modern itu sangat mampu menjadi cerminan bahwa sebenarnya bukan orangnya yang mati, akan tetapi gambar para calon presiden dan legislatif yang terus saja aktif tersenyum tanpa merasa malu, serta minta doa dan dukungan supaya menang di arena politik.


KONTEN MENARIK LAINNYA
x