Cerpen highlight headline

Cerpen | Rumah

9 Agustus 2017   08:43 Diperbarui: 9 Agustus 2017   19:23 414 1 0
Cerpen | Rumah
Sumber ilustrasi: obrienhomes.net

Kulit keriputnya memendam cerita perjalanan melintasi waktu antara musim kemarau dan penghujan, guratan-guratan wajahnya mengisahkan ketakberdayaannya tenggelam dalam lautan kepedihan. Rautnya seakan mengungkapkan penyesalan akan keberadaannya dibumi yang baginya sejak kecil selalu saja gersang. Orang-orang lalu-lalang acuh tanpa iba sepercikpun diwajah mereka, sebab mereka juga berada pada garis kegetiran.

Mbah Naryo, lelaki renta yang tidak punya pekerjaan tetap, mampu membeli rumah besar peninggalan almarhum H. Umar, mantan lurah desa, yang saat ini rumah tersebut sudah menjadi milik H. Ali, anak semata wayang almarhum H. Umar, yang sekarang sudah mempunyai rumah besar di samping masjid desa sebelah. Rumah besar peninggalan almarhum H. Umar tersebut sangatlah strategis, sebab berada di sebelah balai desa. Apalagi di depan balai desa akan didirikan sekolah, yang nantinya pasti akan ramai. Sehingga H. Ali menawarkan dengan harga Rp 250.000.000, dan harga tersebut tidak dapat ditawar lagi, dan rencananya uang hasil penjualan rumah tersebut akan dijadikan modal buka usaha ternak ayam petelur.

Sebenarnya warga desa banyak yang ingin membeli rumah tersebut, akan tetapi karena harganya mahal, tidak ada yang berani menawar rumah tersebut.

Mendadak warga desa gempar, setelah mendengar kabar bahwa rumah peninggalan H. Umar sudah terjual, dibeli Mbah Naryo. Warga desa seakan tidak percaya, mereka bertanya-tanya perihal uang asal uang yang digunakan Mbah Naryo untuk membeli rumah tersebut. Padahal, melihat keseharian Mbah Naryo yang serba pas-pasan tidaklah mungkin bisa membeli rumah tersebut.

Kasak-kusuk di antara warga tersebut kebanyakan beranggapan bahwa Mbah Naryo melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pesugihan, ada yang menganggap Mbah Naryo punya Tuyul, ada yang menganggap punya ilmu babi ngepet, bahkan ada yang menganggap Mbah Naryo sudah melakukan perjanjian dengan iblis.

koleksi pribadi
koleksi pribadi

***

"Kamu kira Mbah Naryo punya tuyul?" tanya Pak Munip, ketua RW, saat menanggapi omongan salah satu warganya yang sedang merumpi di pos ronda.

"Pastinya seperti itu pak, kalau tidak seperti itu, dapat uangnya dari mana pak? Mbah Naryo kerjanya kan cuma kalau ada yang menyuruhnya, kalau tidak ada yang menyuruh dan meminta tolong kepadanya, Mbah naryo juga tidak bekerja!" jawab Pak Bejo, yang saat itu ronda bersama Pak sarmin, dan Pak Ngatijan.

"Kalau tidak seperti itu, Mbah Naryo itu juga bisa saja punya ilmu pesugihan, uang sebanyak itu tidak mungkin bisa dimiliki Mbah Naryo dalam waktu sekejap. Lha wong,tidak punya pekerjaan tetap, mana mungkin bisa punya uang sebanyak itu?" tambah Pak Sarmin.

"Apa yang kalian ungkapkan memang ada benarnya, tapi kalian menuduh tanpa ada bukti, bisa-bisa kalian dianggap memfitnah!" Pak Munif menanggapi

"lha terus apa kita diam saja Pak RW? Melihat hal yang di luar kewajaran kita?" ujar Pak Ngatijan serius.

"Begini saja, saya yang nanti akan menyelidiki dari mana asal muasal uang yang didapat oleh Mbah Naryo, kalian tenang saja!" Pak Munif menenangkan.

***

Besoknya, para tetangga Mbah Naryo diundang ke rumah barunya untuk kegiatan tasyakuran atas pembelian rumah tersebut, sehabis sholat maghrib. Pak Munif yang juga mendapat undangan, langsung saja sehabis sholat maghrib cepat-cepat datang lebih awal perihal menanyakan asal muasal uang sebanyak itu.

"Mbah Naryo, saya ikut senang sampean punya rumah baru yang bagus, tapi agar prasangka saya tidak macam-macam, sebenarnya sampean dapat dari mana uang sebanyak itu?"

"Waduh pak.. saya malu membicarakan masalah ini, lhawong sebenarnya saya ini nggak punya uang. Ini semua berkat kebaikan dari Pak Misdi"

"O.. begitu, rupanya seperti itu ceritanya, maafkan saya kalau ada prasangka buruk saya selama ini.." Pak Munif menimpali.

Tidak lama kemudian para undangan sudah mulai berdatangan ke rumah baru Mbah Naryo. Dan setelah dirasa semua sudah datang, Mbah Naryo pun kemudian meminta Pak Munif untuk memulai acara tasyakuran. Dan Mbah Naryo pun diberi kesempatan untuk memberi sambutan dalam acara tersebut. Dalam sambutannya Mbah Naryo mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Misdi, yang atas kebaikannya Mbah Naryo dapat membeli rumah besar tersebut.

Mendengar sambutan Mbah Naryo, Edi keponakan Pak Misdi langsung memerah mukanya terlihat memendam amarah yang sangat dalam. Setelah acara tasyakuran selesai Edi seketika pulang, dan kemudian secepat-cepatnya mendatangi rumah Pak Misdi.

"Pak De... maunya sampean ini apa? Jadi orang tua, kok nggak bisa dipegang omongannya!?" hardik Edi kepada Pak Misdi.

"lho... lho.. Karepmu iku opo? Datang-datang langsung marah! Arek edan...., gak nduwe ahlak nang wong tuo!" balas Pak Misdi.

"Sampean iku pak de... kemarin saya mintai bantuan untuk memberi hutangan ke saya, itu pun mau saya gunakan untuk membenahi rumah agar tidak bocor saat hujan, sampean bilang tidak ada, eh... Mbah Naryo yang bukan siapa-siapa sampean, malah dikasih uang yang banyak.... apa maksud sampean?" jawab Edi.

"Siapa yang bilang kalau saya ngasih uang ke Mbah Naryo? Ngawur omonganmu..."

"Mbah Naryo Sendiri yang bilang... "

"Omongane Mbah naryo iku ngawur, kalau begitu panggil saja Naryo, biar jelas masalahe...."

****

Tidak lama berselang, Mbah Naryo datang bersama Edi ke rumah Pak Misdi. Edi dan Pak Misdi pun duduk di ruang tamu, yang saat itu sudah ada Pak Misdi dan istrinya.

"Mbah Naryo.. sampean saya datangkan ke rumah saya, untuk menjelaskan omongannya sampean yang mengatakan kalau sampean mendapat uang dari saya..." Buru-buru Pak Misdi ingin tahu penjelasan Mbah Naryo.

"Ngapunten, sebelumnya Pak Misdi... sekitar 1 tahun yang lalu, waktu itu Pak Misdi pernah menyuruh saya untuk membersihkan rumah bapak, dan saat itu saya menemukan sebuah cincin akik dengan mata merah, setelah saya beri tahu bapak, bahwa ada cincin merah. Dan ternyata bapak memberikannya kepadaku... masih ingatkan?" Mbah Naryo mencoba menjelaskan.

"Iya.. saya ingat, terus kenapa dengan cincin itu?" tanya Pak misdi

"Setelah cincin tersebut saya bawa pulang, seminggu kemudian Ngatijem (putri semata wayang Mbah Naryo) yang bekerja di Surabaya, tahu kalau ada cincin itu, kemudian menawarkannya kepada juragannya yang di Surabaya, sebab kata Ngatijem juragannya itu kolektor barang-barang antik."

"Setelah dibawa ke Surabaya, juragannya langsung menawarinya dengan harga 250 juta, nggeh Ngatijem langsung mengiyakan, karena akik tersebut ternyata adalah jenis merah delima...." Mbah Naryo tampak puas menjelaskannya.

"Oalah... beg... itu to alasannya.... wes di.. Edi... kamu sudah tahu ceritanya kan? Karena itu, jangan langsung menuduh orang, tanpa tahu sebab-musababnya! Sekarang sudah jelas kan?" timpal Pak Misdi dengan menatap Edi.

Edi yang awalnya emosi, setelah mengetahui asal muasal uang tersebut, ahirnya mukanya memerah dan salah tingkah.

"Inggeh Pak De,Bu De... mohon maaf atas semuanya,... ternyata kulo yang salah," Edi dengan menundukkan mukanya.

***

Setelah pertemuan tersebut, mereka semua kembali ke rumah masing-masing dengan membawa kebenaran, membawa cerita tentang kesalahpahaman.

Malang, 9 Agustus 2017