Ahmad Imam Satriya
Ahmad Imam Satriya Guru

mencintai 4 wanita cantik Rizka, Adzra, Rania, dan Alida! Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people - Elenaor Roosevelt Seorang guru di sebuah sekolah negeri. Pemerhati humaniora. Paling senang berada di tengah keluarga dan di dalam kelas belajar bersama siswa.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Mengenang Suara Vokal Chris Cornell

19 Mei 2017   14:47 Diperbarui: 24 Mei 2017   10:10 430 2 2
Mengenang Suara Vokal Chris Cornell
Gambar diambil dari entertainment.kompas.com

Ada dua vokalis yang saya kagumi dan ikuti dalam dunia vokal. Yang pertama adalah Eddie Vedder, vokalis Pearl Jam dan yang kedua Chriss Cornell, vokalis Soundgarden dan Audio Slave. Sebagai mantan anak band, saya kagumi keduanya karena saya besar di masa Grunge tahun 1990-an, di mana band-band seperti Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, Stone Temple Pilots, dan Smashing Pumpkins eksis.

Vedder dan Cornell, keduanya punya suara berat dan serak. Bedanya, suara Chris Cornell lebih tinggi daripada Eddie Vedder (kabarnya 4 oktaf!) sehingga Cornell pun dijuluki punya suara mengaum bagaikan harimau. Karena suara yang tinggi dan mengaum itulah saya sampai sekarang sulit menyanyikan banyak lagunya, contohnya lagu Cochise (Audioslave). Walau begitu, ada juga beberapa lagu yang bisa saya ikuti, yaitu Black Hole Sun (Soundgarden). Suara vokal di sini cukup rendah dan lagu yang dimainkan terbilang datar, tetapi tetap dahsyat dengan dentuman drum yang menggelegar. Begitu juga dalam Be yourself (Audioslave).

Berita kematian Chriss Cornell tidak dipungkiri mengagetkan saya. Sepertinya baru kemarin membawakan lagu Be Yourself (AudioSlave), baru kemarin mendengarkan flashback Spoonman (Soundgarden) yang unik dan keren banget. Namun, entah apakah memang tren bunuh diri sedang meningkat (karena belum lama salah satu penyanyi idola saya saat esempe, Tommy Page, juga mati bunuh diri walaupun beda aliran yang satu ini kenangannya juga banyak). Chris Cornell pergi selamanya pada 17 Mei 2017, ketika rehat di hotel saat tur di Detroit. Tidak ada pesan ataupun isyarat, bahkan Twitter-nya pun dikabarkan masih berkicau sebelumnya. Sangat misterius!

Saya kaget karena walaupun saat ini saya tidak terlalu aktif nge-band, maklum sudah tuir, tenaga sudah capek untuk berteriak ataupun menabuh drum, bisa menyanyi seperti Chris Cornell tetap menjadi impian saya. Untuk ke arah sana, sehari-hari saya sempatkan mendengar musik grunge, (walau ga selalu mendengar vokal Chris Cornell). Kayak sebuah kewajiban bagi saya. Ada saja satu dua lagu yang saya dengarkan di laptop sambil bekerja. Selain untuk mengenang masa muda, mendengarkan Grunge juga untuk melepas lelah saya, sambil berteriak-teriak asik, mencoba menirukan dan menyamakan suara mereka, terutama suara Chris Cornell.

Suara Chriss Cornell dan variannya, menurut saya, seperti yang terjadi pada diri saya, memberi banyak pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan suara vokal musisi dunia. Banyak vokalis Grunge dengan suara berat juga, seperti Gavin Rossdale (Bush), Daniel Johns (Silver Chair), dan Aaron Lewis (Staind). Di Indonesia, suara vokalis berat juga muncul terutama band-band grunge dan alternatif tahun 90an. Saya cukup yakin mereka juga mengagumi vokal Chris Cornell.   

Selain menjadi dedengkot suara mengaum berat dan dalam, Chris Cornell juga dedengkot keakraban antar-band grunge, seperti dengan personel RATM dan Pearl Jam. Dengan personel RATM, dia membentuk Audioslave, dengan Pearl Jam, Chriss pernah membawakan secara akustik lagunya Pearl Jam, Betterman. Selain itu, juga pernah dengan Band Alice in Chains dan band-band lainnya, termasuk dengan Yusuf at Steven membawakan lagu Father and Son. Kepergiannya tentu akan membawa kenangan yang mendalam bagi para personel band grunge dan band rocker lainnya, seperti Metallica, U2, dan Dream Theater. 

Menurut saya, kiprah Chris Cornel tetap terasa sampai saat ini walau mendiang sempat membubarkan Soundgarden dan kemudian menyanyi solo dan selanjutnya berkarier bersama Audioslave. Buktinya, terakhir dia bermain bersama Soundgarden saat di Detroit. Chris Cornell pun keukeuh bermusik dengan jalur yang berbeda dari rocker-rocker sebelumnya dan itu bukan perkara mudah. Keberanian akan membuatnya dikenang sepanjang masa, seperti para penikmat grunge mengenang Kurt Cobain.

Terakhir yang saya dengar, kabar duka ini membuat para fans grunge gusar. Pasalnya, dari beberapa dedengkot mereka, yang tertinggal hanya Eddie Vedder. Yang sudah wafat, selain, Kurt Cobain, lainnya Scott Weiland (Stone Temple Pilots), Andy Wood (Mother Love Bone), dan sekarang Chriss Cornell.

Karena takut ditinggalkan Eddie Vedder, para fans pun memutuskan untuk menjaganya. Jangan sampai grungekehilangan sekali lagi dedengkotnya. Eddie Vedder yang usianya saat ini sama dengan Chriss Cornell, diharapkan dapat menjaga diri dan dijaga oleh para pengusung grungesedunia, agar dia tetap hidup, dan grungejuga tetap hidup. Itu juga menjadi harapan saya sebagai mantan anak grunge

Akhir kata, sekali lagi kepergian Chris Cornell membawa duka bagi grungesedunia, dan juga membawa duka bagi saya, saat-saat menikmati grungedi masa muda. 

Selamat Jalan Chris.

Sumber1

sumber2