Ahmad Imam Satriya
Ahmad Imam Satriya Guru

mencintai 4 wanita cantik Rizka, Adzra, Rania, dan Alida! Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people - Elenaor Roosevelt Seorang guru di sebuah sekolah negeri. Pemerhati humaniora. Paling senang berada di tengah keluarga dan di dalam kelas belajar bersama siswa.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Belajar di Sekolah Berasrama, Kok Mau Bebas?

17 Juli 2017   11:34 Diperbarui: 17 Juli 2017   11:52 451 1 0
Belajar di Sekolah Berasrama, Kok Mau Bebas?
Ilustrasi, suasana makan di sekolah asrama (Dokumentasi Pribadi)

Ini sebenarnya cerita lebaran. Saat keluarga besar kumpul, ada sodara yang cerita tentang sekolah berasrama anaknya yang punya aturan cukup bebas, seperti makan prasmanan, makan boleh dibawa ke kamar, boleh pesen ayam krispi atau pizza dari luar, kamar berAC, cuci baju laundry, boleh pulang menginap di rumah, dan lain sebagainya. Sodara saya cukup senang dengan kondisi sekolah anaknya itu. Berbeda dengan sekolah sebelumnya saat di SMP, juga berasrama, tetapi punya kondisi berbeda, seperti makan harus di kantin (ruang makan), menu ga sesuai selera, cuci sendiri, kamar ga ada AC, banyak aturan, disiplin ketat, dan lain sebagainya.

Sodara saya ingin anaknya bahagia di sekolah. Jadi sebisa mungkin, walau sekolah berasrama, tetapi anaknya tetap bebas dalam memenuhi keinginan, berbeda dengan sekolah SMP nya dulu yang juga berasrama tetapi menurut dia kolot. Sekolah jaman sekarang menurut dia harus cukup bebas dan bisa memenuhi keinginan anak, walaupun itu sekolah berasrama.

Apa yang diinginkan sodara saya sah-sah saja, namun menurut saya yang namanya sekolah berasrama aneh kalau seperti itu. Menurut saya, kalau mau bebas di asrama ya mendingan sekolah di sekolah biasa saja, yang bukan asrama.

Sekolah berasrama menurut saya utamanya dibuat agar siswa mandiri. Yang biasanya bersama atau dilayani orang tua atau asisten rumah tangga, di asrama dia belajar melakukannya sendiri. Dari menyiapkan yang harus disiapkan sehari-hari seperti baju seragam, buku pelajaran, sepatu, sampai pada menyelesaikan sendiri masalah yang sehari-hari muncul, seperti kehabisan sabun mandi, kehilangan sendal, terlambat masuk sekolah, dan lain sebagainya.

Namun menurut saya jika di asrama dia bebas dan mendapat pelayanan yang sama seperti di rumah, kemandirian sulit tercapai, walau ada guru di asrama. Menurut saya untuk kasus ini, guru di asrama akan berada di posisi "nanggung". Mau tegas ga bisa karena keinginan orang tua agar anaknya diberi kebebasan, mau memberi kasih sayang ga enak, karena mereka bukan orang tua yang sebenarnya. Pada akhirnya bisa jadi mereka malah jadi pelayan bagi siswa.

Namun memang, ada saja orang tua yang mungkin menginginkan hal itu. Karena kesibukan mereka bekerja, akhirnya mereka masukan anak ke sekolah asrama yang seperti itu. Yang penting anak aman, dilayani, dan mereka bisa bekerja dengan tenang. Sekali lagi sah-sah saja. Namun ya itu, jangan kaget ketika anak kembali ke rumah, harapan anak menjadi baik atau mandiri malah bisa jadi menjadi tidak baik.  

Ketika anak tinggal di sekolah berasrama untuk waktu yang lama, jauh dari orang tua, biasanya akan ada perubahan terhadap sikap dan perilakunya, namanya juga jauh dari asuhan orang tua. Kitapun akan dibuat penasaran seperti apa mereka nanti saat bertemu atau saat di rumah, apakah lebih baik atau tidak, apakah badannya lebih sehat, pikirannya lebih dewasa, lebih rajin, lebih soleh atau lebih lainnya. Menjadi lebih baik tentu yang kita idamkan. Namun kalau ternyata anaknya menjadi tidak lebih baik, malah bisa bikin pusing.

Harapan menjadi lebih baik ini yang umumnya digantungkan oleh orang tua pada pihak sekolah. Harapan yang seyogyanya bisa tercapai dengan melakukan kebiasaan berasrama. Namun terkadang karena tidak biasa dilakukan di rumah, kebiasaan yang dilakukan di asrama dianggap jelek atau ga enak oleh anak. 

Menurut saya, yang umumnya dilakukan di sekolah asrama, walau kata anak kita jelek, bisa jadi sebenarnya tidak jelek. Terkadang anak tidak melihat maksud atau atau tujuan sebenarnya, hanya melihat permukaannya saja. Makan seadanya atau tidak sesuai selera, harus cuci baju sendiri, kamar berbagi, kamar panas hanya boleh pakai kipas angin, tidur tidak boleh telat, bersihkan kamar setiap hari dan lain sebagainya, semuanya itu ga enak, apalagi bagi anak remaja. 

Namun kebiasaan yang katanya ga enak itu ketika mereka bisa lalui dan menjadi kebiasaan, saya yakin bisa menjadi sesuatu yang baik. Banyak hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kehidupan berasrama, seperti belajar sederhana, berbagi dengan teman, peduli lingkungan, rendah hati, sabar, tidak individualis, tidak matrealistis, dan lain sebagainya.  

Sebaliknya, jika di asrama terbiasa enak, maksudnya dilayani, bisa jadi anak kita seperti raja yang ingin terus dilayani, baik di asrama maupun di rumah. Apakah itu yang diharapkan?  

Memang tidak bisa dipungkiri terkadang juga ada kondisi dan kebiasaan di asrama yang benar-benar jelek, seperti senioritas. Itu yang biasanya membuat kita takut dan lebih memilih mencari sekolah yang nyaman dan aman bagi anak. Nah untuk yang satu ini, sebaiknya kita identifikasi lebih awal saat mencari sekolah. Informasi itu bisa dicari lewat internet atau bertanya saat akan mendaftarkan anak ke sana. Bertanya kepada petugas di sekolah atau kepada siswa yang sudah bersekolah di sana. Kalau tercium bau-bau ga enak, ya ga usah dipilih.

Memang, pada akhirnya semua akan berbalik ke orang tua, mau seperti apa anak ketika kita masukan mereka ke sekolah berasrama. Apakah ingin agar mereka lebih mandiri atau hanya sekedar menitipkan dan membuat nyaman saja. Itu tergantung pada masing-masing dan sekali lagi itu sah-sah saja.

Sekian.