Ahmad Imam Satriya
Ahmad Imam Satriya Guru

mencintai 4 wanita cantik Rizka, Adzra, Rania, dan Alida! Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people - Elenaor Roosevelt Seorang guru di sebuah sekolah negeri. Pemerhati humaniora. Paling senang berada di tengah keluarga dan di dalam kelas belajar bersama siswa.

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Bagaimana Cara Mengantisipasi Kekerasan yang Terjadi di Sekolah?

12 Februari 2018   10:02 Diperbarui: 12 Februari 2018   10:07 286 1 0
Bagaimana Cara Mengantisipasi Kekerasan yang Terjadi di Sekolah?
www.gurusiana.id

Belum lama dalam dunia pendidikan, kita dikejutkan oleh kekerasan yang berujung pada kematian. Dilakukan oleh seorang siswa pada gurunya, Almarhum Pak Ahmad Budi di Sampang. Seluruh Indonesia mengecam. Simpatipun berdatangan, termasuk dari sekolah tempat saya bekerja yang menggalang dana untuk disumbangkan pada keluarga khususnya istri almarhum.

Pertanyaannya, kenapa bisa kekerasan seperti itu terjadi? Apakah  anak sekarang lebih agresif, kasar, atau lebih jahat daripada anak dulu? Untuk jawaban itu, kalau boleh saya bilang, tidak sekarang saja, tetapi sudah dari dulu.

Beberapa cerita nyata di bawah ini menjadi alasannya.

Pertama. Pengalaman bapak mertua saya, yang saat ini sudah pensiun dan berumur 74 tahun. Beliau adalah seorang mantan guru dan kepala sekolah yang pernah diancam oleh muridnya yang suka mabok. Karena hal itu, ibu mertua saya sangat ketakutan. Namun hal itu tidak terjadi, karena siswa yang mengancamnya, jatuh ke dalam sumur ketika mabok dan kemudian meninggal dunia.

Kedua. Saat saya SMA, ketika pulang sekolah naik metro mini, segerombolan siswa berseragam naik sambil membawa pentungan baseball, mencari siswa dari sekolah tertentu untuk dihajar. Saat itu musim tawuran (dan yang menyedihkan tawuran masih kerap terjadi saat ini). Untungnya saya tidak berasal dari sekolah itu. Peristiwa itu terjadi tidak sekali tetapi beberapa kali, sehingga tidak bisa dipungkiri saya takut setengah mati saat SMA dulu saat lewat tempat itu.

Dari pengalaman yang dialami oleh saya dan bapak mertua, kekerasan yang dilakukan siswa sudah ada sejak lama, baik yang dialami guru maupun pelajar.

Terus, apakah karena sudah dari dulu maka dibiarkan saja? Ya ga lah, kekerasan di sekolah harus dihilangkan. Namanya dunia pendidikan harus bebas dari hal itu. Namun memang masalah ini menurut saya kompleks dan tulisan ini tidak diarahkan untuk menyelesaikan masalah itu, hanya sedikit berbagi ide sesama guru untuk mengantisipasi lebih awal kekerasan di sekolah.

Yang pertama. Ada baiknya kita mengenal kondisi siswa saat berada dalam kelas, apakah seorang siswa dalam keadaan tenang, sedih, marah, dan lain sebagainya. Ini untuk sekedar menjaga diri guru dan siswa, dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Caranya adalah dengan pertanyaan kecil atau pertanyaan basa-basi saat absen di awal belajar sehingga kita bisa tahu sedikit tentang kondisi mereka. Pertanyaan seperti; apa kabar? sehat? Sudah makan belum? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Ketika kita bertanya biasanya ada respon, apakah dari siswa yang kita tanyakan atau dari temannya, maklum anak remaja. Dari respon ini kita bisa sedikit identifikasi keadaan siswa, apakah sedang sakit, sedang galau, atau sedang sensitif.

Kedua. Berkomunikasi dengan guru BK. Guru BK biasa menangani siswa yang sedang bermasalah. Dengan berkomunikasi, kita bisa tahu siapa siswa yang sedang bermasalah atau siswa yang memang selalu bermasalah. Diharapkan perlakuan kita bisa lebih khusus terhadap siswa bermasalah yang biasanya mereka lebih sensitif dan ga suka diganggu.  

Ketiga. Dalam setiap rapat koordinasi guru, ada baiknya diinfokan keadaan siswa, secara umum dan secara khusus. Dalam rapat ini juga diharapkan, guru saling berbagi informasi mengenai siswanya. Dari kegiatan itu, diharapkan semua guru tahu kondisi siswa, terutama yang bermasalah.  

Dalam rapat ini, guru juga saling berbagi pengalaman dalam menangani siswa. Diharapkan, setiap guru mendapatkan pengetahuan dan wawasan tambahan. Insya Allah setiap pengalaman itu berharga apalagi dari teman satu profesi

Keempat. Sekolah memberikan penanganan khusus pada siswa bermasalah. Bermasalah bisa berarti banyak, mungkin masalah pribadi, masalah akademik, masalah keluarga di rumah dan lain sebagainya. Guru yang berkaitan dengan siswa misalnya, guru BK, wali kelas atau pembimbing akademik, atau guru kelas wajib ikut menangani. Jika perlu dikomunikasikan dengan orang tuanya, diundang ke sekolah atau rumah mereka dikunjungi oleh guru.

Kelima. Jika di sebuah sekolah kekerasan sering terjadi, seperti sering ikut tawuran, ada baiknya kita mengundang polisi untuk hadir di sekolah. Bukan untuk melatih kedisiplinan atau menghukum siswa. Tetapi lebih kepada memberikan pembinaan. Kita hadirkan misalnya saat upacara dengan menjadikan mereka sebagai pembina upacara. Atau dengan mengadakan seminar yang narasumbernya pak polisi. Saya pikir akan banyak faedah yang didapat baik untuk siswa maupun untuk guru.

---

Kekerasan dalam dunia pendidikan, seperti yang terjadi pada almarhum Pak Budi sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Orang yang seharusnya dihormati malah dianiaya. Itu berarti PR bagi dunia pendidikan. Bukan hanya harus mendongkrak kemampuan akademik siswa agar bisa berkompetisi tingkat dunia, namun yang tidak kalah pentingnya harus bisa membawa siswa menjadi anak yang baik, berbudi luhur, religius, dan lain sebagainya. Dan itu harga mati agar generasi penerus nanti bisa membawa bangsa ini kepada bangsa yang lebih baik, lahir dan batin.

Sekian.