Ahmad Imam Satriya
Ahmad Imam Satriya Guru

mencintai 4 wanita cantik Rizka, Adzra, Rania, dan Alida! Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people - Elenaor Roosevelt Seorang guru di sebuah sekolah negeri. Pemerhati humaniora. Paling senang berada di tengah keluarga dan di dalam kelas belajar bersama siswa.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"O My God", Liriknya Parah!

15 November 2017   14:48 Diperbarui: 15 November 2017   15:06 272 1 0
"O My God", Liriknya Parah!
Daftar lagu pilihan siswa, dokpri

Itu yang diucapkan siswa saya tatkala diputar lagu yang dia pilih. Tidak menyangka, ternyata lagu yang biasa dia dengar di radio karena enak di telinga, punya lirik yang menurut dia cukup parah. Cukup vulgar dan rasanya ga enak banget dibaca di kelas. "Pak, saya mau ganti lagu!" Begitu lanjutnya. Akhirnya lagu distop karena dia merasa ga enak banget.

Kejadian itu ada di kelas Bahasa dan Sastra Inggris kelas XI. Kebetulan materinya adalah lagu. Nah yang biasanya saya menyajikan lagu, giliran mereka yang menentukan lagu apa yang ingin diputar dan dibaca liriknya. Sebagian besar memilih lagu yang merupakan hits saat ini, seperti New Rules -- Dua Lipa, Havana -- Camila Cabello, Pretty Girl -- Maggie Lindmann, dan Love yourself -- Justine Beiber. Sebagian kecil lagu yang agak lama, seperti Dear God - Avenged Sevenfold.

Ketika kami memutar video lirik lagu Havana, New rules, dan Pretty girl, siswa merasa sadar bahwa liriknya ga cocok untuk mereka. Di samping ada sumpah serapah, lirik juga mengandung kata vulgar. Merekapun merasa tidak enak.

Walau begitu, saya mencoba membesarkan hati mereka bahwa ada hikmah yang bisa diambil. Di sinilah poin yang saya ingin sampaikan kepada mereka. Semacam nasihat. Standar saja sebenarnya namun yang namanya siswa anak remaja terkadang mereka miss.

Beberapa nasihat saya adalah sebagai berikut:

Pertama, yang namanya belajar bahasa asing itu pasti ada muatan budaya yang berbeda dengan apa yang kita punya di sini. Perbedaan itu bisa jadi sangat terasa, dan bisa membawa pengaruh walau sedikit. Jadi harus berhati-hati.

Kedua, tidak ada salahnya mengecek lirik sebelum menyanyikan lagu yang kita suka. Siapa tahu ada yang vulgar atau berisi sumpah serapah, dan tidak sesuai dengan budaya kita.

Ketiga, lagu yang terdengar enak belum tentu sesuai atau baik untuk kita. Musiknya enak, lagunya juga menjadi hits, tetapi belum tentu liriknya pas dengan kita, apalagi kalau disetel di kelas.

Keempat, setiap orang punya sensitifitas yang berbeda. Mungkin di luar negeri sana, lirik ini biasa. Mungkin juga di Indonesia. Mungkin juga bagi sebagian orang di sini biasa, karena persepsi terhadap lagu yang merupakan karya seni. Tetapi mungkin bagi sebagian lain tidak. Mungkin karena ini dibaca oleh teman-temannya di kelas, sensitifitas itu akan meningkat, sehingga lirik ini dirasa tidak cocok.  

Di samping memberi nasihat, saya juga sampaikan bahwa saya percaya pada mereka. Artinya saya percaya mereka tidak akan terpengaruh dan lebih kuat daripada isi lirik lagu hits yang ada saat ini.

Bagi kita para guru, menyikapi isi kurikulum yang satu ini harus bijak. Mendengarkan lagu adalah cara termudah mendapatkan bahasa asing yang otentik dan enak dijadikan bahan pelajaran. Namun karena keotentikannya itulah kita harus berhati-hati. Otentik itu berarti materi dibuat bukan untuk pengajaran, jadi isinya bisa macam-macam. Dalam hal ini kita sebagai guru wajib mengetahui banyak lagu juga terutama yang menjadi hits sehingga bisa memberikan masukan pada siswa yang senang mendengarkan lagu.

Sebenarnya instruksi memilih lagu yang saya sampaikan kepada siswa di awal pelajaran sudah cukup jelas. Saya meminta lagu yang sopan, tidak ada sumpah serapah dan kata vulgar, dan bukan lagu rap. Bahkan saya memberikan masukan seperti lirik lagu Justine Beiber yang menjadi hits biasanya cukup sopan, begitupula boyband Westlife, dan lagu-lagu lama. Namun rupanya, siswa ingin menyajikan lagu yang mereka suka, yang mereka dengar setiap hari dan diputar di radio-radio, dan yang mereka rasa tidak ada yang jelek sependengaran mereka saat itu. Dan mungkin rasanya sulit jika mereka harus menyajikan lagu yang belum mereka kenal, atau lagu lama, atau lagu yang bukan hits. Namun dengan kejadian ini, saya berharap mereka bisa mengambil pelajaran.

Berikut beberapa lagu yang bisa saya rekomendasikan bagi guru yang juga harus menyajikan lagu di dalam kelas. Lagu-lagu ini belum tergolong lagu jadul, begitu pula penyanyinya, tetapi pernah jadi hits di radio.

Scars to your beautiful -- Alessia Cara

The sun comes up -- James Arthur

Never say never -- Justine Beiber

See you again -- Charlie Puth

One call away -- Charlie Puth

Count on me -- Bruno Mars

Lost stars -- Adam Levine

Di akhir kelas, bersama dengan siswa, saya merangkum manfaat yang didapat dengan mendengarkan lagu.

Pertama, belajar menyimak (listening). Dengan lagu kita melatih pendengaran.

Kedua, belajar membaca (reading). Dengan membaca lirik kita berusaha memahami apa isi lagu.

Ketiga, melatih pelafalan. Dengan mendengarkan lagu kita berkesempatan mendengar pelafalan yang benar.

Keempat, mendapatkan kosakata baru. Terkadang ada kosakata yang baru kita ketahui. Itu akan menambah wawasan.

Kelima, menambah wawasan kehidupan. Dengan memahami lirik lagu, wawasan tentang kehidupan akan lebih luas.

Keenam, menghibur diri. Dengan mendengarkan lagu, kita bisa terhibur, terutama di saat sedih atau galau.

Ketujuh, memberikan semangat. Lagu tertentu memberikan semangat saat kita belajar atau bekerja.

Akhirul kalam, semoga pengalaman ini menjadi pelajaran bagi kita.