Mohon tunggu...
Ahmad Said Widodo
Ahmad Said Widodo Mohon Tunggu... Peneliti Sejarah dan Antropologi, Penulis dan Petualang

Peneliti Sejarah dan Antropologi, Penulis dan Petualang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sejarah Purwakarta dan Kabupaten Purwakarta

26 Mei 2021   11:11 Diperbarui: 26 Mei 2021   11:27 241 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sejarah Purwakarta dan Kabupaten Purwakarta
Sumber: KITLV

Asal-Usul Nama Purwakarta

Menurut manuskrip Babad Wanayasa karya Moehammad Moekri, nama 'Purwakarta' diusulkan oleh seorang cutak -- setingkat wedana atau yang kemudian disebut wedana -- Sindangkasih yang bernama Purbasari. Nama 'Purwakarta' memiliki arti tersendiri, kata 'Purwa' artinya mulai atau baru dan 'Karta' artinya aman, damai dan sejahtera. 

Pada masa itu nama 'Purwakarta' belum popular seperti sekarang. Masyarakat masih mengenal daerah itu dengan nama Sindangkasih, sebuah kelurahan yang saat ini pun masih ada dan berlokasi tidak jauh dari pusat kota. Secara resmi nama Purwakarta disahkan pada hari Rabu tanggal 20 Juli 1831 melalui Besluit Asisten Residen Krawang di Sindangkasih, G. De Seriere.

Sejarah Purwakarta

Menurut catatan sumber Kolonial Hindia Belanda, Java Bode, ketika Kabupaten  Karawang diperintah oleh Bupati Raden Adipati Aria (R.A.A.) Suriawinata (1829-1849), ibukota Kabupaten dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih pada hari Sabtu tanggal 09 Januari 1830. 

Pada masa Hindia Belanda, perpindahan ibukota Kabupaten  bukan hal yang aneh, karena memang terjadi di beberapa daerah. Di Priangan misalnya, antara awal sampai dengan pertengahan abad ke-19, sejumlah Kabupaten mengalami perpindahan   ibukota. Beberapa Kabupaten    bahkan   mengalami   perpindahan ibukota berulangkali. Misalnya, tahun 1810 ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak (Dayeuhkolot sekarang) ke kota Bandung yang didirikan tahun itu. 

Pada tahun yang sama, ibukota Kabupaten Parakanmuncang dipindahkan ke Andawadak (kira-kira Tanjungsari, Sumedang sekarang). Tahun 1815 ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan (perpindahan kedua kali) dari Imbanagara ke Cibatu (Ciamis). Tahun 1832 ibukota Kabupaten Sukapura dipindahkan (perpindahan ketiga kali) dari Sukaraja ke Pasirpanjang, kemudian ke Manonjaya. Pemindahan ibukota Kabupaten pada dasarnya adalah inisiatif bupati yang bersangkutan.

Mengacu pada pemindahan ibukota kabupaten-kabupaten di Priangan, pemindahan ibukota Kabupaten Karawang pun adalah gagasan Bupati yang disetujui oleh Asisten Residen dan Residen. Perpindahan ibukota Kabupaten tentu memiliki alasan dan tujuan. Dalam perpindahan ibukota kabupaten- kabupaten di Priangan, selain berdasarkan alasan yang sama, juga memiliki alasan yang berbeda. Akan tetapi, tujuan utama perpindahan itu sama. Demikian pula tujuan utama perpindahan ibukota Kabupaten Karawang ke Sindangkasih pada dasarnya sama dengan perpindahan ibukota beberapa Kabupaten di Priangan, yaitu untuk kelancaran jalannya pemerintahan dan kemajuan kehidupan pemerintah serta masyarakat daerah setempat. Ibukota Kabupaten Karawang dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih karena Wanayasa yang terletak di bagian Selatan Karawang, kurang strategis sebagai pusat pemerintahan dan beberapa alasan lainnya.   

Menurut beberapa sumber tradisional, seperti manuskrip Babad Wanayasa karya Moehammad Moekri, proses perpindahan itu diawali oleh pencarian tempat yang dianggap baik untuk pusat pemerintahan kabupaten. Pencarian tempat dilakukan oleh Bupati R.A.A. Suriawinata disertai oleh para penasehatnya. Dalam upaya mencari tempat itu, bupati selalu meminta petunjuk dari Allah Subhanahu wa Taala melalui Shalat Istikharah.  Memang ia sangat taat menjalankan ajaran agama Islam. Setiap waktu dan di setiap tempat, ia selalu membaca Shalawat.  Oleh karena itu Bupati R.A.A. Suriawinata mendapat julukan Dalem Shalawat dari masyarakat pribumi Karawang.

Sindangkasih dipilih menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Karawang menggantikan kedudukan Wanayasa, berdasarkan beberapa pertimbangan. Pertimbangan itu menyangkut beberapa faktor. 

Pertama, letak Sindangkasih cukup strategis bagi jalannya pemerintahan, karena berada di bagian tengah daerah Karawang. Kedua, tanahnya subur dan arealnya memungkinkan untuk dikembangkan. Ketiga, memiliki sumber air, yaitu kolam (situ, empang) yang kemudian dibangun menjadi Situ Buleud. Keempat, suhu udara di Sindangkasih cukup menyenangkan (berhawa sedang-panas).  Suhu udara demikian sangat disenangi oleh para pejabat kolonial, antara lain residen dan asisten residen. Kelima, keberadaan Cikao sebagai pelabuhan sungai, adalah salah satu faktor penting bagi kehidupan ekonomi masyarakat daerah setempat.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x