Mohon tunggu...
Ahmad Said Widodo
Ahmad Said Widodo Mohon Tunggu... Sejarawan, Peneliti dan Penulis

Penggemar Sejarah, Politik dan Sastra, Pecinta Alam dan Petualang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pangeran Diponegoro, Para Panglima Perang dan Bala Tentaranya

11 Juli 2020   04:34 Diperbarui: 20 Juli 2020   06:13 188 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pangeran Diponegoro, Para Panglima Perang dan Bala Tentaranya
Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro, Para Panglima Perang dan Bala Tentaranya

Pada Perang Diponegoro 1825-1830 Masehi, Pangeran Diponegoro memiliki jumlah pasukan yang sangat besar bahkan 3 kali lipat daripada kekuatan gabungan Surakarta - Yogyakarta - Mangkunegaran - Paku Alaman.

Untuk membereskan struktur komando, maka Pangeran Diponegoro melakukan pembagian tugas yang sangat rapi. Struktur komando pasukan pangeran adalah seperti berikut:

Pangeran Joyokusumo (lebih dikenal dengan nama Gusti Bei) adalah seorang ahli strategi yang berpengalaman dalam perang Yogyakarta - Thomas Stamford Raffles. Dia diberi kedudukan sebagai penasehat militer Diponegoro. Selain itu juga bertanggungjawab memimpin perlawanan di sebelah Utara Yogyakarta.

Pangeran Mangkubumi, diangkat oleh Diponegoro sebagai pelindung keluarga istri dan keluarga para pemimpin perang dan kepala rumah tangga serta mengurusi bagian logistik.

Kyai Mojo
Kyai Mojo
Kyai Mojo, diangkat sebagai penasehat spiritual dan keagamaan serta panglima dari prajurit Santri.

Menurut Peter Carey (2016) dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 disebutkan bahwa sebanyak 112 kiai, 31 haji serta 15 syekh dan puluhan penghulu berhasil diajak bergabung.

Alibasah Abdul Mustafa Sentot Prawirodirjo
Alibasah Abdul Mustafa Sentot Prawirodirjo
Alibasah Abdul Mustofa Sentot Prawirodirjo, adalah seorang pemuda dari kalangan priyayi santri yang masih berusia 18 tahun yang kerap dipanggil Sentot Prawirodirjo. Dia dipercaya memimpin pasukan berkuda berjumlah 400 orang.

Pasukan ini sangat istimewa karena memiliki kemampuan mengendalikan kuda ala Mataram, yaitu dengan kedua lutut kaki sehingga kedua tangannya bebas memainkan senjata. Keahlian berkuda seperti ini sangat ditakuti oleh Belanda.

Pangeran Anom Diponegoro dan Tumenggung Danukusumo, bertanggungjawab atas perlawanan rakyat di Bagelen. Pangeran Anom Diponegoro adalah putra Pangeran Diponegoro.

Pangeran Adiwinoto dan Pangeran Mangundipuro, bertanggungjawab memimpin perlawanan di daerah Kedu.

Pangeran Abu Bakar dan Tumenggung Joyomurtopo, bertanggungjawab atas perlawanan di daerah Lawang.

Pangeran Adisuryo dan Pangeran Suryonegoro, memimpin perlawanan di daerah Kulon Progo.

Tumenggung Cokronegoro, memimpin perlawanan di daerah Gemblong, Godean.

Tumenggung Surodilogo, membantu Pangeran Joyokusumo (Gusti Bei) memimpin perlawanan di sebelah Utara Yogyakarta.

Tumenggung Suryonegoro dan Tumenggung Suronegoro, memimpin perlawanan di daerah sebelah Timur Yogyakarta.

Joyonegoro, Pangeran Suryodiningrat dan Pangeran Joyowinoto, bertanggungjawab untuk memimpin pasukan pertahanan Gua Selarong.

Pangeran Singosari dan Warsokusumo, bertanggungjawab memimpin perlawanan di Gunung Kidul.

Mertoloyo, Pangeran Wiryokusumo, Sindurejo dan Dipodirjo, bertanggungjawab memimpin perlawanan di daerah Pajang.

Mangun Negoro (Bupati Madiun), memimpin perlawanan di Madiun, Magetan, Kediri dan sekitarnya.

Pangeran Serang memimpin perlawanan di Semarang.

Nyi Ageng Serang
Nyi Ageng Serang
Raden Ajeng Kustiah Mulaningsih Retno Edi (Nyi Ageng Serang), memimpin perlawanan di daerah Purwodadi, Grobogan, Blora, Pati dan Kudus bersama dengan Pasukan Semut Ireng terdiri dari 500 prajurit dengan posisi yang diatur selalu siap siaga. Di Perang Jawa, Semut Ireng yang selalu memakai panji Merah-Putih yang disebut Panji Gula Kelapa.

Selain itu, Pangeran Diponegoro juga memimpin langsung pasukan yang jumlahnya cukup besar. Pasukan ini dibagi menjadi beberapa kesatuan seperti berikut ini:

Tiap kesatuan pasukan dipimpin oleh 1 orang panglima, 2 orang tumengung, 2 orang ulama, dan 1 orang sesepuh adat.

Satuan Bulkiyo : 400 orang
Satuan Penilik : 150 orang
Satuan Surojo : 150 orang
Satuan Mandang : 100 orang
Satuan Mantrijero : 40 orang
Satuan Surogomo : 20 orang
Satuan Suronoto : 20 orang
Satuan Barjumuah : 40 orang
Satuan Jogosuro : 40 orang

Satuan Jogokaryo : 100 orang; pasukan ini di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi dan bertugas menjaga keselamatan keluarga para panglima perang.

Satuan Prawiro Tamtomo : 300 orang
Satuan Jayengan : 80 orang
Satuan Wanengprang : 40 orang
Satuan Turkiyo : 300 orang
Satuan Markiyo : 300 orang
Satuan berkuda Sentot Prawirodirjo berjumlah 400 orang.
Satuan Tamtama Jero, pasukan cadangan yang jumlahnya lebih dari 1.000 orang.

Satuan Kajineman, adalah pasukan berani mati yang bertugas melakukan Sandi Yudha (spionase dan operasi-operasi rahasia) dan juga melakukan sabotase.

Ketika Pangeran Diponegoro diangkat sebagai raja (sultan) oleh para pengikutnya, dia melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:

Pasukan kavaleri berkuda Sentot yang berjumlah 400 orang itu akan ditambah dengan 600 orang pasukan infantri, sehingga genap 1.000 orang. Pasukan yang dipimpin Sentot ini akan disebut sebagai Satuan Pinilih.

Dibentuk satuan Prajurit Suroyo dengan kekuatan 300 orang yang dipimpin oleh Abu Sungeb.

Satuan Bulkiyo diperbesar jumlahnya dari mulanya 400 orang dirubah menjadi 713 orang dan akan dipimpin oleh Haji Muhamad Usman, Aliyabsyah dan Haji Abdul Kadir.

Dibentuk pasukan baru bernama Suryogomo berjumlah 300 orang yang dipimpin oleh Dullah Haji Badarudin.

Dibentuk pasukan Mundungan berjumlah 100 orang, dipimpin oleh Tumenggung Mertoloyo.

Pasukan Mantrijero diperbesar dari semula 40 orang menjadi 400 orang yang dipimpin oleh Tumenggung Puthut Lowo.

Dibentuk pasukan Barjumuah dengan kekuatan 800 orang yang dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro.

Tumenggung Joyonegoro diangkat sebagai panglima perang di Yogyakarta Selatan dengan kekuatan 1.000 orang.

Syekh Haji Muda dan Raden Reksokusumo diangkat sebagai panglima yang bertanggungjawab atas keamanan makam leluhur Mataram di Imogiri.

Tumenggung Karto Pengalasan, Haji Ningso dan Haji Ibrahim beserta pasukannya dikirim ke Kali Progo untuk mengacaukan jalur sebelah Barat Yogyakarta.

Tumenggung Suronegoro dan pasukannya dikirim ke perbatasan Surakarta - Yogyakarta.

Raden Joyo Petono diperintahkan mengamankan Purbalingga dan Muntilan.

Pangeran Ontowiryo (putra Diponegoro), beserta 9 kyai dan 10 tumenggung diperintahkan memimpin perlawanan di Bagelen.

Ada 2 (dua) orang leluhur Penulis, yaitu "Eyang Debok Bosok atau leluhur kesembilan" yang bernama Kanjeng Raden Tumenggung Nilosrobo III (Raden Ngabehi Kartomanggolo) dan puteranya, yaitu "Eyang Gropak Senthe atau leluhur kedelapan", yang bernama Raden Tumenggung Nilosrobo IV (Raden Tumenggung Rogonoyo), yang pada waktu itu menjabat sebagai Bupati Bagelen.

Sri Susuhunan Paku Buwono VI
Sri Susuhunan Paku Buwono VI
Di Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang berkuasa adalah Sri Susuhunan Pakubuana VI pada waktu itu terjadi pergolakan besar di Tanah Jawa yang dinamakan Perang Diponegoro tahun 1825-1830.

Pada waktu itu wilayah Bagelen di bawah Panji-panji Surakarta yang berpura-pura "pro kepada Belanda", tetapi Kanjeng Tumenggung Nilosrobo (ayah dan puteranya) berpihak kepada Pangeran Diponegoro karena masih satu iman keyakinan Islam, sehingga terjadilah perang besar di daerah Bagelen dan sekitarnya. Ibukota Bagelen di Poh-pitu mendapat bantuan senopati-senopati perang yang berjiwa pahlawan dan sakti, antara lain:

Bendoro Raden Ayu Atas Angin (BRA. Retno Palupi) dan dayangnya BRA. Ayu Serang,
RM. Mangunwilogo dan
Putra Pangeran Diponegoro yang bernama Diposonto.

Sangat besar kemungkinannya, leluhur Penulis berjuang dan berperang bersama Pangeran Anom Diponegoro dan Tumenggung Danukusumo yang bertanggungjawab atas perlawanan rakyat di Bagelen dan besar kemungkinannya juga berperang bersama Pangeran Adiwinoto dan Pangeran Mangundipuro yang bertanggungjawab memimpin perlawanan di daerah Kedu, karena Bagelen dan Kedu saling berdekatan wilayahnya.

Laskar Diponegoro, dengan organisasi ala Turki-Usmaniyah: Bulkiyo, Barjumuah, Turkiyo, Harkiyo, Larban, Nasseran, Pinilih, Suropadah, Sipuding, Jagir, Surotandang, Jayengan, Suryogomo dan Wanang Prang.

Hierarki kepangkatan juga beraksen Turki: Alibasah (asal kata dari Ali Pasha) setara komandan divisi,
Basah (asal kata dari Pasha) setara komandan brigade,
Dulah (asal kata dari Agadullah) setara komandan batalion dan
Seh (asal kata dari Syekh) setara komandan kompi.

Pangkat militer paling tinggi adalah Alibasah, yaitu panglima yang membawahi pasukan (infanteri dan kavelari), setara dengan jabatan komandan divisi dalam pasukan Janissari. Jabatan ini dipegang oleh empat orang, yakni Alibasah Kerto Pengalasan (Tumenggung Wirodirejo), Alibasah Pangeran Sumonegoro (Komandan di Kulonprogo), Alibasah Kasan Besari, adik Kiai Mojo dan Alibasah Muhammad Ngusman.

Sementara itu, panglima tertinggi militer dipegang oleh Sentot Prawirodirdjo yang lebih dikenal dengan nama Sentot Alibasah.

Setelah pangkat Alibasah, ada pangkat Basah yang dipercayakan kepada Basah Mertonegoro, Basah Ngabdul Latip dan Basah Gondokusumo.

Pangkat selanjutnya adalah Dulah (Agadulah), komandan militer yang membawahi 400 orang prajurit, setara dengan datasemen.

Pangkat paling rendah adalah Seh, yang membawahi pasukan setara dengan kompi.

Pertama kalinya dalam militer Jawa dikenal kepangkatan. Seperti Diponegoro, para laskarnya juga berserban dan mencukur habis rambutnya gundul.

Selain para panglima perang, Pangeran Diponegoro juga didampingi oleh para pendamping yang sering disebut sebagai pengiring (panakawan), yakni:
  • Joyosuroto (Roto),
  • Ongomerto,
  • Kasimun (Wongsodikromo, Sadikromo),
  • Wongsotaruno (Sotaruno),
  • Banthengwareng,
  • Mertoleksono (Bambang, Gambir),
  • Sahiman (Rujakbeling) dan
  • Teplak (Fikpak, Rujakgadhung).

Pangeran Diponegoro juga mempunyai para pembantu yang lain, yaitu:

  • Nurhamidin (Midin),
  • Mangi,
  • Amadullah (Madula, isteri Joyosuroto),
  • Trunodanti (Gunodanti),
  • Sarintan,
  • Mbok Ongomerto (isteri Ongomerto),
  • Mbok Wongsotaruno (isteri Wongsotaruno),
  • Sarinah (isteri Kasimun),
  • Mina (istri Rojomenggolo),
  • Rumpu (isteri Banthengwareng),
  • Saritah (isteri Mertoleksono) dan
  • Urin (isteri Suronoto).

Mereka para panakawan disebut juga sebagai bocah becik (anak baik) dan berperan bergantian sebagai abdi pengiring, guru, penasihat, peracik obat, pembanyol hingga penafsir mimpi.

Mereka semua, baik para panakawan maupun para pembantu sangat berperan penting sebelum, selama dan sesudah Perang Diponegoro juga turut serta dengan Pangeran Diponegoro bersama keluarga ke pembuangan di Manado hingga Makassar. Sebagian dari mereka ada yang kemudian mengikuti Kyai Mojo di Tondano.

fb-img-1594435285049-5f0e4cb3d541df50922ec862.jpg
fb-img-1594435285049-5f0e4cb3d541df50922ec862.jpg
Catatan:
Para Penguasa di Jawa Pada Masa Perang Diponegoro (1825-1830)

Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
ꦏꦱꦸꦭ꧀ꦠꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦡꦲꦢꦶꦤꦶꦔꦿꦠ꧀
Sri Sultan Hamengkubuwono V (1822-1826)
Sri Sultan Hamengkubuwono II (1826-1828)
Sri Sultan Hamengkubuwono V (1828-1855)

Nagari Kasunanan Surakarta Hadiningrat ꦟꦒꦫꦶꦑꦱꦸꦤꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦯꦸꦫꦏꦂꦠꦲꦢꦶꦤꦶꦁꦫꦠ꧀
Sri Susuhunan Paku Buwono VI (1823-1830)
Sri Susuhunan Paku Buwono VII (1830-1858)

Nagari Kadipatèn Mangkunagaran
ꦟꦒꦫꦶꦑꦢꦶꦥꦠꦺꦤ꧀ꦩꦁꦏꦸꦤꦒꦫꦤ꧀
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro II (1795-1835)

Nagari  Kadipatèn Pakualaman
ꦟꦒꦫꦶꦦꦏꦸꦄꦭꦩ꧀ꦩꦤ꧀
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I (1813-1829)
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam II (1829-1858)

ilustrasi-diponegoro-5f0edf86d541df70d51a4e42.jpg
ilustrasi-diponegoro-5f0edf86d541df70d51a4e42.jpg
**********

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x