Ahlis Qoidah Noor
Ahlis Qoidah Noor Writer, Educator, Researcher

trying new thing, loving challenge, finding lively life. My Email : aqhoin@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Gorengan Itu Jahat

3 Juni 2018   21:01 Diperbarui: 5 Juni 2018   17:00 2866 14 3
Cerpen | Gorengan Itu Jahat
pexel

Aku tulis pesan ke temanku untuk memastikan aku datang ke rumahnya sore itu. Ada undangan yang harus aku sampaikan ke dia. Bahwa aku akan ujian terbuka minggu depan. Kugandeng anakku dan kubisikkann untuk ikut denganku ke rumahknya. Kucium pipinya karena ia mengiyakan sambil kubelikan peci dan sarung serta baju koko untuk persiapan perpisahan di sekolah dengan teman-temannya. Sekali dayung dua tiga kebutuhan terlampaui.

Maka kuayun sepeda anginku menembus sore. Kulihat banyak orang ngabuburit di sepanjang jalan. Ada deretan 5 orang gadis membawa bungkusan kolak untuk diberikan kepada mereka yang sedang lewat di jalan. Ada serombongan gadis -gadis sedang selfi di ujung taman. 

Angin semeribit menyentuh pundakku. Menyadarkanku bahwa ada si kecil di belakangku sedang membonceng. "Peluk pinggang, mama. nak," kataku lembut. Aku senang sekali menikmati hangatnya badan anakku kalau sedang menyentuh dan memeluk punggungku dari belakang. Ah indahnya menjadi seorang ibu.

"Kita beli peci dulu ya, baru nanti kita ke teman mama," kataku menawarkan ide ke dia. Dia menjawab sambil mengeratkan pelukan. Dhonan, anak kecil yang ada diboncenganku ini sebentar lagi sudah menjadi anak SMP. Tidak lagi bisa mandi sambil berlari- lari mencari handuk. Tidak bisa lagi bermain hujan sambil bertelanjang hanya memakai cawat dan tanpa kaos dalam. 

Ah, sebentar lagi dia pra remaja. Lamunanku buyar ketika sampai di rumah yang terbuat dari ukiran Jepara. Sangat anggun dan tampak sunyi. " Mungkin penghuninya sedang keluar, mah. Itu sepi ", kata anakku menimpali. 

Dari dalam tampak seoran perempuan keluar sambil tersenyum menyambut kedatangan kami.

"Oh, ini mas Dhonan yang pembalap kecil itu , ya?" sapanya sambil menyalami kami. Ya , Dhonan si kecilku ini memang mempunuyai hobbi balap di arean motocross.Lebih tepatnya di kelas mini moto. Dia sudah malang melintang di beberapa kejuaaraan berbagai kota dan telah pulang membawa pulang banyak tropi kejuaraan. Dhonan tersenyum kecil sambil memberi salam dan mencium tangan temanku.

Segera saja kami menuju ke ruang tamu. Ruangan yang cukup luas. Ada terdengar air gemericik dari taman disamping rumah. ada beragam souvenir dari berbagai negara menghias meja sudut,juga foto wisuda dua orang putrinya.

"La ini apa buk, kok banyak obat disini ?" tanyaku iseng saja.

"Ah, itulah aku sudah tua jadi sekarang aku kena diabet dan hipertensi ", temanku mulai merespon pertanyaanku. Kulihat dia tidak sakit seperti orang kebanyakann yang diabet. penderita diabet biasanya kulitnya agak keriput walaupun usia muda. 

"Ceritanya sebenarnya sudah ada sejak lama. Aku dulu waktu kuliah sering sekali mendapati handukku dikerubuti semut , juga badanku. Aku menduga itu karena tempat kost ku yang tidak higienis. Akhirnya seiring berjalannya waktu aku baru tahu bahwa aku menderita dua penyakit itu. Aku pikir aku sangat telat. Dari Browsing aku tahu bahwa gulaku teramat tinggi. 

Sehingga aku putuskan untuk tidak mengkonsumsi nasi putih. Aku ganti dengan nasi merah. Juga tidak lagi gorengan. Aku dulu suka sekali gorengan. Bahkan hampir tiap hari menumis. Sekarang semua serba ku bikin sayur,Kurang sayur juga sangat potensi terhadap penyakit ini. Termasuk kurang gerak/olah raga dan juga kurang minum."

"Adakah gejala lain, bu ?"

"Aku mudah lelah dan mudah mengantuk"

"Bukannya ibu suka tidur larut malam untuk membuat karya sehingga jam tidur ibu kurang dan akhirnya mengantuk ", tanyaku.

"Tidak juga, sudah aku tambah, tetapi efek gampang mengantuk ini tetap ada. Karena diabetik juga.", katanya menimpali.

"Jadi ibu semi vegetarian ? ", kataku lebih lanjut.

"Ya, begitulah , Aku hanya masak filley ikan, kucampur tahu dan sawi sendok, tambah garam dan kuah "

"Apakah enak bu, tidak ditumis ?". Aku bertambah ingin tahu saja.

"La ya itu tadi, aku sudah sangat antipati dengan gorengan. Gorengan itu jahat sekali. Baik dalam bentuk tumisan maupun makanan yang digoreng seperti tahu goreng, martabak , bakwan goreng.Ah, pokoknya yang serba goreng aku sudah jauhi "

"Kenapa sampai begitu bu, apa ada pengalaman yang lain yang membuat ibu begitu?"

"Ya, di bagian payudaraku pernah disedot. Dua kali waktu di luar negeri aku disedot . Diperlihatkan dua bagian . ada yang bening dan juga yang agak hitam. Kata dokter , kanker yang agak hitam itu ada diselimuti oleh lemak. Maka aku lakukan penyedotan di sana".

"Kalau di Indonesia, ibu pernah disedot untuk kasus serupa?"

"Tidak, kata mereka para dokter itu belum diajarkan cara sedot kanker seperti itu jadi mereka tidak mau menangani saya. Akhirnya saya pasrah. Eh malah ketika terjadi kasus serupa aku diminta untuk foto, ternyata tidak terjadi masalah "
" Ini keajaiban bu, semoga ibu lekas sembuh ya ?"

Selanjutya ia meminta ku untuk menyerahkan undangan, sesuai janjiku di WA sehari sebelumnya.

"Wah, selamat ya. Sebentar lagi sudah selesai studinya ."

Kuucapkan terima kasih dan kupeluk ibu itu, tanda kasihku kepadanya. Sambil berpamitan aku ajak si Dhonan menyusuri lagi jalan raya sambil melihat pemandangan . Tiba- tiba ia berkata saat aku baru saja melewati " Pak Ogah " yang ada di sebelah jalan. Pak Ogah itu tampak tak seperti biasanya. Tetapi karena aku fokus ke jalan jadi tak begitu aku perhatikan.

"Mamah lihat , tukang menyeberang tadi, di punggungnya ditulisi ' Maaf, saya tuli ', begitu mah ?"

"Ya, mama lihat,  tapi mama tak melihat dan tak membaca tulisannya , trus ada apa ?", tanyaku lebih jauh dan ingin mengetahui reaksi Dhonan terhadap gejala sosial seperti itu.

"Kita balik kesana ma, kita beli sedikit untuk takjil yok?", kata Dhonan agak memaksa.

Aku tersentuh oleh si Dhonan kecil. Dia memang sering seperti itu. Bila ada pengemis maka dia akan meminta kami untuk berhenti sejenak memberi walaupun kami sedang berada di atas kendaraan. Bila ada kembalian sedikit maka dia meminta kami untuk merelakan , demikian juga bila ada Tukang Kerupuk yang buta yang sering kami lewati , maka dia pun akan meminta kami membelinya walaupun di rumah sudah banyak kerupuk. 

Kadang untuk alasan itulah kami membeli banyak kerupuk. Bapak penjual itu menjual tiga macam kerupuk, kerupuk goreng pasir dengan dua warna, kerupuk mie dan juga kerupuk gendar yang terbuat dari nasi yang dihaluskan dengan bleng.

Kerupuk juga gorengan, tetapi kami belum bisa meninggalkan kerupuk pada saat buka bersama sore ini. Bedug penanda waktu  berbuka sudah ditabuh , Dhonan memberiku segelas es kelapa muda yang tadi sore dia beli. Ah segar rasanya , lepaslah dahaga seharian.