Mohon tunggu...
ahkam jayadi
ahkam jayadi Mohon Tunggu... Dosen - Akademisi Hukum dan Ketua Pusat Studi Pancasila UIN Alauddin Makassar

Laki-laki

Selanjutnya

Tutup

Love

Memahami dan Menyatukan Perbedaan

17 Juli 2021   05:13 Diperbarui: 17 Juli 2021   05:20 84 11 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memahami dan Menyatukan Perbedaan
Love. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Prostooleh

MEMAHAMI DAN MENYATUKAN PERBEDAAN

Oleh: Ahkam Jayadi

            Pasangan berbeda asal Negara (hubungan beda Negara) jamak terjadi dari dulu hingga sekarang sebagai akibat adanya saling interaksi antar bangsa. Perbedaan yang terjadi tidak hanya karena hubungan beda Negara bahkan lebih luas dari itu adalah perbedaan keyakinan atau agama, budaya, etnis atau warna kulit, sifat bawaan (karakter) dan yang lainnya. Pasangan terjalin berdasarkan  pertemanan sesama mahasiswa, hubungan asmara hingga hubungan pernikahan. Tentu sesuatu yang lumrah jika perbedaan-perbedaan tersebut juga melahirkan berbagai permasalahan bila tidak dipahami dan diselami sejak awal hubungan.

            Sejatinya setiap orang yang sejak awal berencana menjalin hubungan beda Negara atau  dengan pasangan yang berbeda latar belakang haruslah mempersiapkan secara detail sejak awal. Memperhitungkan secara cermat konflik atau benturan yang kemungkinan akan terjadi sebagai akibat dari perbedaan latar belakang sebagaimana dikemukakan di atas. Memiliki persiapan serta kemampuan jiwa dan raga untuk menghadapi perbedaan-perbedaan yang ada yang pada saat tertentu mungkin akan menjadi konflik baik yang di sengaja maupun tidak disengaja. Bagi pasangan suami isteri situasi dan kondisi kehidupan yang dijalaninya tentu akan sangat berbeda ketika masih pacaran, awal-awal kehidupan berumah tangga dan belum memiliki anak dan setelah memiliki anak, mulai dari semasa hamil hingga anak-anak tersebut dewasa dengan segala problematika kehidupannya masing-masing.

            Seseorang yang akan menjalin asmara atau berumah tangga dengan pasangan yang berasal dari bangsa lain (hubungan beda Negara) akan diperhadapkan dengan berbagai perbedaan yang kalau tidak di tata dan dipahami dengan baik sejak awal maka tentu pada saatnya nanti akan menjadi konflik yang dapat berakibat pada perpisahan atau perceraian. Dengan kata lain ketika konflik itu terjadi maka kedua pasangan yang ada tidak mampu menghadapi dan menyelesaikan konflik yang terjadi di tambah lagi dengan watak asli yang keras, pemarah, sensitif dan yang lainnya.

            Misalnya pasangan yang karakternya keras, pemarah, disiplin, egois, individual dan yang lainnya akan bermasalah atau berkonflik dengan pasangan yang memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan pasangannya yang lemah lembut, tenang, tidak disiplin, tidak egois dan tidak individual. Pasangannya yang sudah bangun pagi-pagi (jam 4 am) untuk shalat subuh berhadapan dengan pasangannya yang kebetulan beragama lain sehingga tidak perlu bangun pagi-pagi. Pada kehidupan awal sebuah pasangan (satu bulan hingga satu tahun) mungkin masih bisa di terima, dipahami dan dimengerti akan tetapi bagaimana jika hal tersebut telah terjadi ber bulan-bulan atau bertahun-tahun yang membuat pasangan menjadi bosan, muak dan tidak tahan lagi dengan hal tersebut. Tentu saja ujung-ujungnya adalah berpisah atau bercerai yang bagi banyak pasangan berpisah atau bercerai dianggap sebagai solusi yang tepat. Hal tersebut tentu saja tidak sepenuhnya benar oleh karena perpisahan atau perceraian yang akan mengantar kita untuk mencari pasangan baru tentu harus di awali lagi dengan saling mengerti dan memahami watak masing-masing yang lagi-lagi akan bertemu dengan perbedaan bawaan watak (kepribadian) yang akan memicu lagi terjadinya konflik.

            Persiapan yang harus ada sebelum perbedaan yang hendak dipadukan itu tentu saja banyak. Kerelaan untuk saling menerima perbedaan hingga akhirnya dipadukan menjadi kebersamaan hingga perbedaan sudah hilang. Kerelaan untuk menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain yang tidak lagi pada level pengetahuan (teori) akan tetapi telah menjadi amalan dalam realitas. Bagaimana kita bersikap dalam realitas ketika pasangan kita telah menyakiti hati kita dengan mengingkari janji atau komitmen awal sebagai pasangan yang akan menerima kita apa adanya, mencintai kita hingga ujung hayatnya bahkan cinta di dunia hingga akhirat.

            Interaksi yang terjadi dengan pasangan kita tentu tidak akan bermasalah bila itu terjadi dalam zona nyaman (baik-baik saja). Bagaimana bila interaksi itu terjadi dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Misalnya ketika kita menghadapi musibah mobil kita tabrakan sehingga terjadi kerusakan yang parah akibat kelalain kita yang untuk biaya bengkelnya yang sangat besar sementara kita dengan pasangan lagi bermasalah dari sisi finansial.

            Realitas yang kita kemukakan dan gambarkan di atas tentu saja tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan ilmu pengetahuan yang ranah kognitif. Hal-hal sebagaimana dikemukakan di atas hanya bisa diselesaikan dengan pendekatan nilai-nilai agama yang ranahnya adalah hati (qalbu) tempat bersemayangnya realitas kejiwaan seperti: kesetiaan, saling mencintai, saling pengertian dan kesediaan untuk mengalah dan last but not least adalah mengharap adanya pertolongan Tuhan Yang Maha Esa ketika upaya sebagai manusia telah sampai kepada titik ketidak-berdayaan. Sejatinya bila terjadi konflik dengan pasangan maka jangan ingin cari benar dan menang sendiri. Kembalikan dan cermati lah setiap realitas kejadian ke dalam hati kita (voice of the heart), kita akan tau persis dimana kita salah dimana kita benar karena dialah control diri yang hakiki.

            Ketika kita bicara ranah agama maka semua agama pada dasarnya sama yaitu mengajarkan dan menuntut umatnya untuk memahami hakekat dirinya dan hakekat kehidupan. Kesempurnaan kehidupan hanya dapat kita peroleh, selami dan implementasikan bila kita memahami hakekat diri dan hakekat kehidupan. Memahami hakaket penciptaan dan kejadian manusia, memahami hakekat Tuhan dan memahami hakekat agama. Centrum dan kontrol serta penuntun kehidupan adalah nilai-nilai agama melalui kuasa Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan realitas hubungan beda Negara.

            Semua agama telah mengajarkan hakekat kejadian manusia dan hakekat kehidupan adalah perbaduan antara esensi fisik dan esensi non fisik. Esensi fisik adalah anatomi tubuh kita dengan segala komponennya yang dapat terlihat dan teraba yang asal usulnya dari ibu bapak kita, melalui hasil pertemuan atau pembuahan sperma dengan ovum. Non fisik adalah esensi diri yang tidak terlihat akan tetapi terasa adanya yang asal usulnya dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Unsur non fisik inilah yang utama dalam kehidupan kita karena fisik ini tidak dapat berfungsi bila yang non fisik itu tidak ada. Penjelasan logis tentang hal ini dapat kita lihat dan saksikan pada orang yang meninggal. Orang yang meninggal secara anatomis semua komponennya masih ada dan lengkap akan tetapi kenapa tidak bisa lagi berfungsi. Tangannya tidak bisa lagi bergerak demikian juga dengan kakinya. Matanya tidak bisa lagi melihat demikian juga dengan otaknya tidak lagi bisa berfikir, ada apa? Tentu jawabannya jelas karena esensi dirinya yang membuat tangan dan kaki bergerak, mata bisa melihat, telinga bisa mendengar serta yang membuat otak kita bisa berfikir itu sudah tidak ada dan kembali ke asalnya yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN