Mohon tunggu...
Mohamad Agus Yaman
Mohamad Agus Yaman Mohon Tunggu... Seniman

Penata Tari / kreator tari Prov. Kep. Bangka Belitung

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Adat pertunangan dan Pernikahan di Mentok Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung

23 Desember 2019   14:16 Diperbarui: 30 Desember 2019   10:47 49 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Adat pertunangan dan Pernikahan di Mentok Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung
ilustrasi foto kerabat

Pada umumnya pengaruh agama islam terhadap adat pernikahan di pulau Bangka sangat besar, karena itu dari cara-cara pernikahan ini tidaklah meninggalkan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan menurut adat setempat dan dari ajaran agama Islam.

Di beberapa Kabupaten, kecamatan dan kelurahan yang ada di pulau Bangka, pernikahan ini dilakukan secara massal, kadang-kadang berjumlah sampai tiga puluh pasang secara serentak seperti yang terjadi pada pesta pernikahan massal di daerah  Bangka Selatan (Toboali), dan juga di kampung Kimak di kecamatan Merawang.

Baiklah, melalui tulisan ini saya akan memperkenalkan secara ringkas tentang adat pernikahan yang terdapat di daerah Mentok Kabupaten Bangka Barat, terutama yang biasa dilakukan pada masa sebelum perang dunia kedua.

BUJANG DAN MIAK (GADIS)

Pemuda biasanya belum pernah melihat bakal isterinya, begitu juga sebaliknya si gadis belum pernah melihat bakal suaminya, artinya dalam hal ini mereka belum saling kenal mengenal satu sama lainnya. Hal ini disebabkan karena si gadis pada usia-usia menanjak remaja sudah di pingit menurut adat. Kalau sekiranya si gadis hendak keluar rumah maka haruslah memakai kerudung yang menutup kepalanya, itupun harus pula dikawal oleh ibu bapaknya atau saudara-sauddaranya yang laki-laki. Segala gerak geriknya si gadis selalu mendapat pengawasan ibu bapaknya, dimana waktu itu pergaulan bebas tidak ada atau belum dikenal seperti sekarang ini, hanya rumahlah menjadi tempat lingkungan hidup si gadis.

Si pemuda dalam memilih isteri atau jodohnya adalah urusan ayah ibunya. Jadi setelah mereka bersuami atau beristeri cinta mereka datang sesudah mereka menikah.

CARA MEMINANG GADIS

Pinangan atau lamaran biasanya dari pihak pemuda, dari sebelah pemuda mengirimkan beberapa utusan biasanya utusan itu pilihan/dipilih orang yang sudah tua dan ahli dalam berpantun, pintah dalam mengolah kata-kata lamaran, karena sebelum maksud melamar tersebut dikemukakan/diadakan lebih dahulu sambut menyambut pantun yang berkenaan dengan isi lamaran atau pinangan tersebut. Isi pantun itu juga harus menyebutkan nama "... bin ...". Ada juga yang menyebut anak gadis bapak atau ibu untuk dilamar anak lelakinya.

Bagaimana kiranya pandangan atau pendapat dari bapak atau ibu si gadis, hal ini tidaklah mudah seperti apa yang kita bayangkan karena ada adat ada juga bahasanya. Demikian pula untuk memberikan jawaban apakah lamaran itu diterima atau tidak dari pihak si gadis, hal ini juga harus dipantunkan pula dengan kata-kata yang halus dan tidak langsung menolak, jangan sampai menyinggung perasaan pihak yang melamar, untuk mengungkapkan dari pihak si gadis umumnya dikatakan anak gadisnya masih terlampau muda untuk mengurus suaminya, belum tahu menyambal belacan (terasi) (sambal terbuat dari terasi yang sudah menjadi kebiasaan memasak turun temurun di Bangka), kiranya ibu/bapak atau saudara dapatlah menunggu barang setahun atau dua tahun lagi. Demikianlah kalau lamaran itu tidak diterima oleh pihak si gadis. Ada kalanya sebelum pihak perempuan meminta waktu barang seminggu atau dua minggu untuk memberikan jawabannya.

Sementara itu dari pihak orang tua si gadis mengundang kaum keluarga dan famili-famili serta jiran-jiran yang terdekat untuk memusyawarahkan mengenai pinangan itu.

Bersambung...

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x