Mohon tunggu...
Agustinus Triana
Agustinus Triana Mohon Tunggu... Wiraswasta - Tinggal di Lampung

Menulis agar ada jejak

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tragedi Amplop Kondangan dan Masalah Sosial

15 Januari 2020   23:00 Diperbarui: 16 Januari 2020   11:03 2901
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: Dokumen pribadi

Sekarang sudah berbeda, undangan disampaikan dalam bentuk kartu ataupun hantaran makanan, bahkan kalau si empunya hajat lupa mengundang dan waktu sudah sangat mepet, sedangkan yang akan diudang beralamat jauh, maka tuan rumah cukup memakai handphone.

Rasanya kalau harus memakai cara seperti zaman dahulu, bakal merepotkan. Bayangkan, 2 atau 3 minggu mungkin tidak akan cukup waktu hanya untuk mengundang orang.   

Kekhasan tradisi memang sudah pudar. Cara yang dulu dianggap sebuah penghormatan kepada orang, sudah digantikan dengan cara yang lebih praktis. Soal penghormatan kepada yang diundang, pembaca bisa menilai sendiri. Toh kita yang diundang juga bisa memaklumi keadaan ini, dan tidak terlalu pusing dengan soal penghormatan tersebut.

Hanya sedikit berbeda jika kita adalah saudara yang punya hajat, atau kita merasa sebagai tokoh yang harus disegani, atau atasan dari si empunya hajat, bolehlah sedikit merasa tersinggung jika undangan tidak disampaikan secara langsung.

Apakah persoalan menggelar resepsi hanya bisa bermasalah pada soal menyampaikan undangan saja? Tidak juga. Bagi yang diundang juga bisa jadi masalah tersendiri.

Di masyarakat luas, ada istilah yang sudah sangat umum, yaitu "musim kondangan". Istilah ini mengacu pada satu masa dimana terjadi musim hajatan, entah  hajat pernikahan, hajat khitanan ataupun hajat syukuran kelahiran berjamaah.

Pada masa ini, kartu undangan atau hantaran resepsi yang datang pada kita "bak jamur tumbuh di musim hujan". Atau kalau meminjam istilah BMKG, mirip "intensitas air hujan ekstrem". Akibatnya, curah undangan ekstrem ini, isi amplop kondangan juga harus disediakan dalam jumlah cukup besar.

Pada "musim kondangan" keluhan tidak hanya milik kaum ibu rumah tangga. Kaum bapak juga bakal tidak malu-malu curhat pada kawan atau tetangga. Namun suka tidak suka anggaran kondangan harus tetap disediakan. Apalagi jika pernah menggelar hajat dan pernah menerima amplop juga.   

Jadi, apakah soal kondangan bisa dikatakan sudah jadi masalah sosial? Jujur saya sendiri tidak berani menyampaikan pendapat saya soal yang satu ini.

Mungkin, kita hanya perlu lebih bijaksana menentukan siapa-siapa saja yang harus kita undang saat menggelar hajat atau resepsi. Karena mengundang bukan saja soal hak dan kewajiban, tetapi juga perlu mempertimbangkan budget dan empati pada yang akan diundang.  

Sedangkan, untuk para penerima undangan di saat "musim kondangan", bijaksanalah menentukan mana undangan yang harus dipenuhi dan tidak dipenuhi, termasuk juga bijaksana menentukan besaran isi amplopnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun