Mohon tunggu...
Agustinus Wahyono
Agustinus Wahyono Mohon Tunggu... Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim sejak 2009; asalnya Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, Babel, dan pernah belasan tahun tinggal di Yogyakarta (Pengok/Langensari, dan Babarsari). Bukunya tunggalnya, salah satunya adalah "Belum Banyak Berbuat Apa untuk Indonesia" (2018) yang berisi artikel non-fiksi dan berstempel "Artikel Utama" di Kompasiana. Posel : agustinuswahyono@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Seorang Kawan dari Papua yang Tidak Terlupakan

23 Agustus 2019   01:23 Diperbarui: 23 Agustus 2019   01:41 0 2 1 Mohon Tunggu...

Tentang situasi Papua hari ini dengan unjuk rasa dan kericuhan di Manokwari, merupakan salah satu kabar yang saya hindari ketika membaca media daring (online). Meskipun kawan-kawan di sekitar saya sering menayangkan berita aktual ataupun opini-opini terkait, saya tetap tidak ingin mengetahuinya.

Barangkali sebagian pembaca tulisan ini menduga bahwa saya tidak atau kurang peduli pada situasi nasional terkini. Atau, entahlah apa pun dugaan terhadap sikap saya ini.

Terus terang, saya benar-benar tidak mengetahui tentang situasi sebenarnya mengenai Papua, baik dulu, kini, bahkan nanti. Saya tidak mengerti, ada apa di balik semua yang terjadi akhir-akhir ini.

Apakah karena saya terlalu suntuk dengan projek (pekerjaan) saya? Barangkali itu pun menjadi bagian dari dugaan entah siapa.

Seorang Kawan dari Papua
Begini. Ketika masih tinggal di Yogyakarta saya pernah berkawan dengan seorang putera Papua selama beberapa tahun sampai akhirnya ia pulang ke daerah asalnya.

Sekian tahun itu merupakan sebuah perkawanan yang sangat berkesan bagi saya. Ia sering singgah ke kamar kos saya di Babarsari untuk menulis, karena saya memiliki komputer.

Saya selalu memberinya keleluasaan untuk menulis, tertidur pulas di kamar kos saya, bahkan ia pernah bertemu dengan bapak saya (2000). Beberapa kali juga saya diajaknya ke asrama Papua di Jalan Kusuma Negara.

Berita seputar pengibaran bendera Bintang Kejora pada 1998 pun seringkali saya dengar darinya. Sebagian masih terekam dalam ingatan saya, termasuk impiannya untuk masa depan Papua yang lebih baik.

Papua yang lebih baik. Anggaplah begitu. Ia pun meminta saya untuk membuatkan sebuah logo yang kelak mewujud dalam sebuah yayasan. Tidak lupa pula ia menjanjikan sebuah posisi untuk saya dalam struktur organisasi yayasannya.

Saya menolak, karena waktu itu saya ingin kembali ke kampung halaman saya (Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka) dan terlibat dalam kemajuan daerah saya yang baru menjadi provinsi (Bangka Belitung). Heroik, 'kan?  

Selain persinggahannya di indekosan saya, warung internet (warnet) merupakan salah satu tempat favoritnya, apalagi di sekitar indekos saya terdapat beberapa warnet. Ia pernah berada di sebuah warnet selama satu harian penuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x