Agustinus Wahyono
Agustinus Wahyono Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim sejak 2009; asalnya Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, Babel, dan pernah belasan tahun tinggal di Yogyakarta (Pengok/Langensari, dan Babarsari). Bukunya tunggalnya, di antaranya: kumpulan cerpen "Gadis yang Mengendarai Ombak" dan "Aku Ingin Menjadi Malam" (http://guepedia.com/penulis/agustinus-wahyono/).

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Antara "Ditukar" dan "Tertukar"

12 Februari 2019   03:04 Diperbarui: 12 Februari 2019   05:55 672 4 0
Antara "Ditukar" dan "Tertukar"
Sumber : Tribunnews

Mumpung masih hangat soal puisi karya Fadli Zon (FZ) pada 3/2, bahkan ulasan lugas "Fadli Zon dan Doa yang Ditukar" dari Khrisna Pabichara (8/2) menjadi tren minggu ini. Saya pun mencoba untuk berpendapat. Boleh, 'kan?

Pasalnya, saya membaca beberapa artikel sejenis itu menyebut judul puisi karya Sarjana Sastra Rusia itu dengan "Doa yang Tertukar". Sedangkan, setahu saya, judul aslinya "Doa yang Ditukar".

Doa yang Ditukar

doa sakral
seenaknya kau begal
disulam tambal
tak punya moral
agama diobral

doa sakral
kenapa kau tukar
direvisi sang bandar
dibisiki kacung makelar
skenario berantakan bubar
pertunjukan dagelan vulgar

doa yang ditukar
bukan doa otentik
produk rezim intrik
penuh cara-cara licik
kau Penguasa tengik

Ya Allah
dengarlah doa-doa kami
dari hati pasrah berserah
memohon pertolonganMu
kuatkanlah para pejuang istiqomah
di jalan amanah

Fadli Zon
Parung, Bogor, 3 Feb 2019

Lho, ada apa antara "Ditukar" dan "Tertukar"?

Saya bukanlah seorang pakar bahasa Indonesia. Hanya seorang arsitek sekaligus tukang gambar kartun. Tidak ada hubungannya dengan tulis-menulis (aksara) apalagi kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, 'kan?

Akan tetapi (nah, "akan tetapi"), saya merasa ada yang kurang aduhai dengan prefiks (awalan) antara "Ditukar" dan "Tertukar", meskipun keduanya kata kerja pasif, selain salah satunya merupakan kata depan (preposisi), kata sifat, bahkan "Tertukar" sudah tidak sesuai dengan aslinya ("Ditukar").

Kata depan (preposisi) itu, biasanya, untuk "di". Misalnya, "di depan", "di rumah", "di Balikpapan", dan seterusnya. Sedangkan kata sifat, biasanya, untuk "ter-" yang berarti "paling" atau "dalam kondisi/keadaan". Untuk arti "paling", misalnya "tercantik", "terindah", "terbaik", dan seterusnya. Untuk arti "dalam kondisi/keadaan", misalnya "terikat", "tertutup", "teraniaya", dan seterusnya.

Pada puisi karya FZ, prefiks "di-" dan "ter-", jelas berbeda arti. Umumnya, makna "di-" merupakan kata kerja pasif yang "sengaja", dan ada kata "oleh" serta "pelaku"-nya . Misalnya "Puisi yang ditukar oleh Oji dengan sekarung beras".

Sementara kata "tertukar" cenderung merupakan kata kerja pasif yang "tidak sengaja". Misalnya "kopernya tertukar dengan koper penumpang lainnya", "kutangnya tertukar dengan kutang orang lain di asrama", dan lain-lain.

Ya, prefiks "di-" pada judul puisi FZ cenderung menampilkan faktor "sengaja" atau "kesengajaan". Kalau diubah menjadi "ter-" dalam beberapa artikel, maknanya justru "tidak sengaja". Tentu saja, antara "sengaja" dan "tidak sengaja" merupakan dua hal yang berbeda, bukan?

Apa? Bukan? Berarti pemahaman saya yang keliru. Aduhai! Mohon maaf dan kritik atas kekeliruan saya. Maklumlah, sekali lagi, saya arsitek yang suka menggambar kartun, sehingga mudah keliru dalam penulisan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

*******
Balikpapan, 12 Februari 2019