Agustinus Wahyono
Agustinus Wahyono Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim, tapi bukan siapa-siapa sejak menjadi "Taruna" (29 Maret 2018). Tidak tertarik pada uang dari K-rewards, meski dia masih tergolong dalam kaum melarat (https://www.kompasiana.com/agustinuswahyono/5bd813cbaeebe115571e1586/konsistenitas-dalam-titik-terendah-dari-sebuah-keterbatasan). Bukunya: kumpulan cerpen "Gadis yang Mengendarai Ombak" dan "Aku Ingin Menjadi Malam" (http://guepedia.com/penulis/agustinus-wahyono/).

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Teror Penembak Jitu Ketika Itu

8 November 2018   23:36 Diperbarui: 9 November 2018   12:24 374 1 0

Beranjak dari "teror penembak jitu" yang mengenai kaca kamar pribadi di Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat pada Selasa, 25 April 2017. Kabarnya, waktu kejadiannya adalah pagi hari. Entah pukul berapa.

Hari itu sebenarnya termasuk agenda pemeriksaan atas kasus bisik-bisik asyik. Surat pemanggilan yang kedua. Dengan adanya "teror penembak jitu", jadilah alasan untuk tidak hadir lagi. Hanya saja, pergunjingan seputar bisik-bisik asyik telanjur berisik di media sosial.

Pada Jumat, 28 April, beredar kabar "TEROR SNIPER...". Tertulis begitu (dengan huruf kapital) dari sebuah akun Instagram. Peredarannya berbaur dengan pawai karangan bunga di Balai Kota Jakarta yang disebut "exit strategy yang elegant" oleh sebuah media pasca-kekalahan petahana DKI 1 pada 19 April.

Lazimnya kejadian terkait dengan jejak peluru dalam "teror sniper", perlulah informasi memadai dari aparat berwenang. Pada 28/4 pihak aparat mengatakan, belum menerima laporan. Bahkan, meragukan lubang di kaca itu adalah bekas tembakan.

"Kalau pecahnya kayak gitu itu, bukan pecah karena sniper. Kerikil melejit barangkali," ujar pihak aparat.

Begitulah kabar sepanjang 25 sampai 28 April di antara kesemarakan "teror sniper" dan bunga-bunga. Tidak seorang pun yang melihat si pemilik kamar pribadi diam-diam meninggalkan tanah air pada Rabu, 26 April.

Orang-orang terdekatnya mengaku bahwasannya mereka mengetahui justru ketika sudah sampai di luar negeri. Penampakan di luar negeri melalui sebuah foto di sebuah media edisi Kamis, 27 April.

"Tinggalkan tanah air gara-gara ditembak sniper. Kalau nggak salah, Selasa (25/4). Untungnya meleset, kena pendopo," ungkap sebuah sumber (28/4).

Sementara sumber lain mengatakan, keberangkatan ke luar negeri karena memenuhi sebuah undangan. Undangan untuk satu keluarga dari raja di luar negeri.

Visa yang digunakan pun, mungkin, berkategori "Visa Undangan". Perihal "visa undangan" semacam ini disampaikan oleh pejabat berwenang pada 25 Mei 2017. Raja yang baik hati, oh, betapa!

Ya, begitulah awal keberangkatannya. Entah "gara-gara ditembak sniper", atau "karena undangan dari raja" dalam waktu 2 hari saja. Yang jelas, diam-diam sejak 27 April 2017.

Tinggal menunggu kepulangannya. Mungkin kepulangannya nanti juga diam-diam. "Pergi tampak punggung, pulang tampak punggung," kata peribahasa nyeleneh.

Lha, terus, kapan kepulangannya? Sekarang 2018 akan segera berakhir lho. Masak, sih, 2017 sampai kelak lewat 2018?

Tunggu saja sebelum beranjak untuk melanjutkan episode "Menjadi Korban" (Playing Victim) berikutnya. Cobalah bersabar lagi. Sanggupkah? Semua akan aduhai pada waktunya lho.

*******

Kupang, 8 April 2018