Agustinus Wahyono
Agustinus Wahyono Penganggur

Bukan siapa-siapa sejak 29 Maret 2018. Bukunya: kumpulan cerpen "Gadis yang Mengendarai Ombak" dan "Aku Ingin Menjadi Malam" (http://guepedia.com/penulis/agustinus-wahyono/).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Fiksi Sehari-hari

13 April 2018   03:21 Diperbarui: 13 April 2018   03:37 278 0 0

Dosen Filsafat Profesor Rocky Gerung mengudal-adul pemahaman bahkan keyakinan sebagian orang dengan kalimat "Kitab Suci Itu Fiksi" dalam acara televisi Indonesia Lawyer Club (ILC) pada Selasa, 10 April 2018. Tanpa menyebutkan "kitab suci suatu agama", serta-merta disambut hiruk-pikuk tanggapan.

"Tidak ada yang baru di bawah matahari," kata Pengkotbah untuk mengingatkan saya pada kisah Nuh membuat bahtera dan ditanggapi orang-orang sezamannya, atau pun Ayub yang begitu tegar pada "sesuatu yang tidak nyata" hingga mendapat cercaan istrinya bahkan nasihat teman-temannya.

Masih banyak kisah lain dalam kitab suci, khususnya Injil, yang menuai aneka tanggapan. Tidak kalah seru dibanding Thomas, yang meskipun sering bersama Yesus Kristus tetap saja ia minta bukti faktual. Lalu Yesus memberi 'penghiburan' yang cukup terkenal, "Berbahagialah mereka yang tidak melihat tetapi percaya."

Saya belum pernah bertemu langsung dengan Yesus Kristus, padahal melalui Youtube saya sering menonton kesaksian lebih dari lima orang di dunia mengenai perjumpaan mereka dengan-Nya. Apakah semua itu merupakan fakta, ataukah justru fiksi?   

Faktanya, jelas, saya belum pernah bertemu langsung dengan Yesus Kristus. Jika demikian, apakah itu bisa diasumsikan sebagai fiksi? Aduhai, saya khawatir jika asumsi justru ditafsirkan sebagai entah apa sehingga menjadi sesuatu yang sensitif.

Saya tidak ingin meneruskan hal sensitif semacam itu. Saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang terlihat nyata-faktual tetapi sesungguhnya justru tipuan-fiktif (fiksi). Ya, saya masih teringat pada buku Kebenaran dan Dusta dalam Sastra-nya Radhar Panca Dahana (2001), Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Berbicara-nya Seno Gumira Ajidarma (1997), dll. hingga menyinggung sejarah Indonesia sendiri, terlebih seputar 1965.  

Waktu masih kanak-kanak, saya terkesima pada kepala daerah atau kepala-kepala lainnya. Dalam benak kanak-kanak saya yang juga dibentuk oleh omongan sebagian orang dewasa, pak kepala daerah atau pak-pak kepala lainnya adalah tokoh yang sangat mengagumkan. Sayangnya, pada masa itu saya berada jauh dari mereka.

Waktu dewasa inilah baru saya melihat sebagian fakta mengenai segelintir kepala daerah, apalagi pada perkembangan selanjutnya tidak satu-dua kepala daerah diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal, kalau saya melihat mereka, aduhai banget deh.

Ya, tidak sedikit saya bertemu dengan orang-orang yang menampilkan sisi fiksi mereka. Istilah yang dikenal adalah bersandiwara. Senyum sana-sini, tebar pesona, begitu berkharisma, dan seterusnya. Yang paling dekat adalah tokoh-tokoh dalam pilkada. Yang paling jauh, meski di depan mata, adalah warganet atau teman-teman di media sosial. Bukankah hal ini terjadi setiap hari?

Selain itu, berita-berita di media massa pun bukanlah suatu fakta seutuhnya. Tidak semua fakta akan diungkapkan oleh media massa. Ya, biasalah. Saya pun pernah aktif di jurnalisme mahasiswa.  

Jadi, pendapat Rocky Gerung tadi, menurut saya, biasa-biasa saja. Lantas, apakah saya percaya bahwa kitab suci agama saya (Injil) termasuk dalam kategori fiksi? "Bukan soal percaya-tidak percaya, tetapi bagaimana kita menyikapinya," pesan Harry Panca dulu dalam setiap akhir episode Dunia Lain.

*******   

Panggung Renung -- Balikpapan, 13 April 2018