Agustina Purwantini
Agustina Purwantini Administrasi

Pengelola www.tinbejogja.com

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan

Pilpres yang Merecoki Puasa Kita

11 Mei 2019   02:27 Diperbarui: 11 Mei 2019   09:54 83 12 3

SORE hari Ramadan 1440 H, puasa hari keempat, saya melangkah penuh harapan ke mushala X. Harapan apa? Harapan bahwa pengajian jelang berbuka puasanya bisa mencerahkan dan menyejukkan jiwa. Bisa kembali menguatkan tekad saya untuk menjadi muslim yang lebih baik dan benar.

Alhamdulillah saya tidak telat datang. Nyaris telat saja. Begitu saya duduk, doa-doa pembuka pun mulai dilantunkan. Iya, iya. Saya akui bahwa saya datang lebih belakangan daripada sang ustazah. Hehehe  ....

Usai berdoa, pengajian dimulai. Kata sang ustazah, "Sebetulnya saya hendak membahas tentang shalat. Tapi katanya tema shalat sudah disampaikan kemarin, ya? Ya sudah kalau begitu. Kita membahas hal lain saja."

Para jamaah manggut-manggut. Menyatakan setuju tanpa kata. Tentu termasuk saya. Bagi kami selaku jamaah, yang penting ada tausiah. Yang tentunya bisa mengingatkan diri ini untuk senantiasa berproses menjadi muslim yang baik dan benar.

Sang ustazah kemudian melanjutkan, "Baik. Ini saja. Kita bahas tentang kondisi belakangan ini saja. Yang mau tak mau ibu-ibu wajib mengetahuinya. Iya. Bagaimanapun ibu-ibu memang wajib tahu."

Deg! Hati saya berdesir. Perasaan saya mulai tidak enak.

"Saya ingin mengajak ibu-ibu untuk memperbanyak zikir. Banyak berdoa semoga kita mendapatkan pemimpin yang amanah bla-bla-bla ...."

Fix! Perasaan tidak enak saya mulai terbukti.

"Situasi negara kita bla bla bla ...."

Selanjutnya dari lisan sang ustazah meluncur serentetan narasi tentang kecurangan pilpres 2019. Tentang ratusan petugas KPPS yang meninggal, yang diyakini betul oleh beliau bahwa matinya diracun. Tentang nasib UBN yang konon dikriminalisasi, dicari-cari kesalahannya sebab vokal menyuarakan suara umat. Dan, isu-isu provokatif lainnya.

Ya Allah, Ya Tuhanku. Kenapa begini lagi begitu lagi? Saya 'kan ke mushala untuk menentramkan hati. Untuk menambah ilmu dan wawasan keagamaan.  Aku mengeluh dalam hati.

Ironisnya, saya malah memperoleh up date berita politik dari pengajian ini. Padahal, saya sesungguhnya relatif  tak peduli dengan berita perpolitikan negeri ini. Bikin hati lelah. Hmm ....

Apa boleh buat? Tak ada pilihan bagi saya. Sembari memendam kecewa, saya tetap duduk manis. Menyimak dengan sedih sebab menurutku, sang ustazah malah mengajak berghibah dan bersuuzon. Astaghfirrullah.

Bukannya sok suci, nih. Justru karena merasa berlumur dosa, saya ogah untuk berghibah dan bersuuzon. Kepada siapa pun dengan alasan apa pun. Itulah sebabnya blog personal saya bernama PIKIRAN POSITIF.

Sedihnya, sang ustazah malah makin menggebu-gebu bergibah dan bersuuzon. Hingga akhirnya tatkala beliau menyebut nama Presiden Jokowi, pas baru sampai "Joko ... " (belum sampai "wiwi) seseorang menginterupsi.

"Maaf, Ibu, maaf banget. Tidak adakah topik lain yang sesuai dengan semangat Ramadan? Sedari tadi rasanya kok suuzon melulu?"

Sang ustazah terlihat agak kaget. Mungkin tak menyangka kalau bakalan diinterupsi. Katanya, "Ini fakta. Tidak suuzon."

Lalu dalam hitungan detik, sang ustazah sudah melanjutkan kembali "tausiah"-nya. Tentu masih dengan menggebu-gebu.

Sekonyong-konyong terdengar interupsi lagi., "Kita ini sedang berpuasa lho, Ibu. Kasus-kasus yang Ibu sebutkan tadi biarlah diurus oleh mereka yang bertanggung jawab. Lagi pula, kita tidak tahu fakta yang sebenarnya 'kan?"

Alhasil, adu argumentasi terjadi. Tausiah terhenti. Jamaah pun menjadi kasak-kusuk. Ujungnya, si penginterupsi didekati oleh pengurus mushala. Diminta tidak membantah. Ujungnya lagi,  diminta keluar dari mushala.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2