Mohon tunggu...
tiin agustin
tiin agustin Mohon Tunggu... Freelancer - Ne

Semoga memberi manfaat kepada penulis dan juga pembaca.

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Satu Aksi, Selamatkan Bumi

21 November 2021   16:25 Diperbarui: 22 November 2021   09:03 542
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Akhir-akhir ini, perubahan iklim menjadi perbincangan yang teramat hangat, terkhusus dalam media sosial. Memang benar adanya, perubahan cuaca yang begitu ekstrim memang perlu digagas. 

Tak sedikit platform yang bersedia mengampanyekan tentang pelestarian alam guna menjaga bumi, hingga mengorbankan diri dan juga waktunya guna bakti pada bumi. 

Begitu banyak hal remeh-temeh yang kita lakukan setiap hari, setiap saat, juga setiap waktu. Memang tak dapat dipungkiri, seiring berkembangnya zaman, manusia tentu mengandalkan hal yang mudah lagi praktis dilakukan. Namun jika hal tersebut hanya memberi keuntungan pada diri, apakah kepraktisan tersebut tetap dilanjutkan?.

Perubahan iklim atau yang biasa dikenal dengan Climate Change, yang berarti perubahan cuaca yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang, dan lebih lama daripada cuaca harian. 

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti halnya; pemakaian kendaraan bermotor secara berlebihan, penggunaan plastik sekali pakai yang tidak lagi dapat terkendali, pohon yang jarang ditemui, dan pemakaian masker sekali pakai yang dianggap remeh.

Polusi udara yang sangat berlebihan dapat menipiskan lapisan ozon hingga mempermudah masuknya sinar matahari tanpa penyaringan, ini bukan lagi hal tabu. 

Lalu mengapa bumi menjadi lebih panas dari biasanya?, hal ini dikarenakan polusi udara yang di produksi sangat berlebihan, selain kendaraan bermotor, asap pabrik, dan pembakaran sampah plastik dan sampah masker juga turut menjadi penyumbang polusi udara yang begitu mengkhawatirkan. 

Dari polusi udara tersebut, panas yang masuk kedalam bumi terikat oleh partikel-partikel polusi, sehingga panas tidak dapat keluar dengan bebas, hingga mengakibatkan bumi lebih panas dari biasanya.

Transportasi menyumbang gas rumah kaca sebesar 14% (14% of 2010 global greenhouse gas emissions; Greenhouse emissions from this sector primarily involve fossil fuels burned for road, rail, air, and main transportation). Penyumbang gas rumah kaca terbesar justru dari kendaraan (43%). 

Jakarta tercatat motor menghasilkan jumlah polutan tertinggi setiap harinya (kompas.com/Agustus 2019). Mobil menyumbang 0,27 Kg CO2/km sedangkan motor 0,15 Kg CO2/km, Bus 0,08 kg CO2/km, dan kereta 0,04 kg Co2/km. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun