Agus Suwanto
Agus Suwanto Pekerja Proyek (Engineer)

Pekerja proyek yang hanya ingin menulis di waktu luang.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Lebih Beriman Justru Makin Mudah Tersinggung?

17 Februari 2017   08:26 Diperbarui: 17 Februari 2017   08:50 2072 11 15
Lebih Beriman Justru Makin Mudah Tersinggung?
Sumber: quitday.org

Beberapa bulan belakangan ini, dalam diskusi di group WhatsApp, Twitter maupun Facebook, sering didapati beberapa orang menjadi sangat sensitif terhadap hal-hal tertentu, terutama menyangkut keyakinan dan keimanan.

Ketika berbicara tentang Pilkada Jakarta dengan masalah Ahoknya, tentang ISIS dan juga Suriah dengan masalah Suni vs Syiahnya, sebagian orang menjadikan tafsir keyakinannya sendiri sebagai landasan pembenaran, sekaligus penolak bagi masukan yang berbeda.

Hal ini menyebabkan diskusi menjadi kaku dan tidak bebas lagi. Nada tulisan beberapa teman menjadi tinggi, menunjukan ketidaksukaan dan kemarahannya. Bahkan sudah mulai kotbah dan menjelaskan mana yang benar dan salah menurut keyakinannya. Sementara itu, saya sendiri beranggapan bahwa hal tersebut masih biasa-biasa saja.

Aneh memang, hal yang dulu biasa saja untuk dibicarakan, sekarang menjadi tabu dan sensitif, serta mengharuskan saya untuk lebih berhati-hati dalam berdiskusi. Hubungan tidak seakrab dan selepas dulu lagi akibat teman yang sudah merasa ‘lebih beriman’.

Iman Bagaikan Biji Tanaman

Sejatinya, pertumbuhan keimanan seseorang identik dengan pertumbuhan biji tanaman. Kalau biji tanaman yang di tanam, kemudian ditutup sekelilingnya sehingga tidak mendapat cahaya matahari sama sekali, maka bisa dipastikan biji tersebut akan mati, tidak sempat tumbuh menjadi tanaman.

Apabila hanya satu sisi sekat dinding saja yang dibuka, sementara sisi-sisi lainnya tertutup rapat, maka biji akan tumbuh, namun hanya akan tumbuh menjadi pohon yang kerdil dan tidak sempurna. Ini diakibatkan si pohon tidak menerima cahaya matahari secara optimal.

Begitu juga dengan iman, yang kalau hanya menerima dari satu sisi ‘cahaya kebenaran’ dan menutup sisi-sisi yang lain, maka iman tersebut hanya akan tumbuh kerdil. Output dari iman kerdil adalah fanatisme berlebihan dan mudah tersinggung bila sedikit saja keyakinannya diusik.

Secara lebih specific ,mereka hanya mau menerima ‘cahaya kebenaran’ yang datang dari kitab suci agamanya sendiri dan tidak mau menerima yang lain. Maka, tidaklah heran, mereka akan langsung bereaksi dan menolak apabila ada ‘cahaya kebenaran’ versi lain di luar kitab sucinya.

Bahkan ada juga yang mempersempit diri dengan hanya mau menerima ‘cahaya kebenaran’ dari aliran dan tafsir mereka saja dan menutup rapat aliran dan tafsir pihak lain meski sama kitab sucinya. Orang-orang semacam ini juga tidak akan segan-segan mengancam pihak lain yang dinilai bisa merusak kadar ‘keimanan’ mereka.

Biji Tumbuh Menjadi Pohon Berbuah

Sebaliknya, agar biji bisa tumbuh menjadi sebuah pohon yang subur dan berbuah banyak, maka dibutuhkan cahaya matahari yang optimal. Artinya dinding-dinding penyekat harus ditiadakan dan biarkan cahaya datang menyinari dari segala arah.

Untuk menjaga pohon tersebut dari gangguan binatang atau tangan jahil, maka dinding-dinding penyekat diganti dengan pagar berlobang, sehingga cahaya matahari masih bisa masuk.

Begitu juga dengan keimanan seseorang, jika menerima ‘cahaya kebenaran’ dari berbagai arah, dari berbagai ajaran dan kitab suci, kemudian percayakan kepada akal dan hati nurani untuk memagari serta mengolahnya, maka keimanan orang tersebut akan bisa tumbuh secara baik. Akan menjadikannya sebagai pribadi yang lapang hati, toleran, tidak mudah tersinggung apabila keyakinannya dihina dan dilecehkan, serta bisa menerima  berbagai perbedaan yang ada.

Sebaliknya, orang yang ‘kerdil iman’ adalah mereka yang selalu curiga dan bahkan tidak mau menerima keterbukaan dan pluralitas. Mereka hanya tahu dan mau dengan versinya sendiri, yang monoton dan diulang-ulang setiap tahun. Bila ini berlanjut terus, maka akan bisa mereduksi secara kuantitas dan kualitas kreatifitas anak bangsa.

Demi kemajuan bangsa kedepan, dibutuhkan dorongan dari masyarakat dan negara untuk terciptanya kondisi masyarakat terbuka. Setiap individu, dengan hati dan akalnya bebas menerima segala macam informasi, sepeti pengetahuan, budaya, paham keagamaan, keyakinan, dan lain-lain tanpa rasa takut. Kemudian bebas pula menyaring dan mengolahnya untuk menghasilkan buah yang baik dan banyak.

Orang yang bagaikan pohon yang berbuah, adalah orang yang dengan bakat dan pengetahuan yang dimilikinya, selalu berbuat baik bagi orang lain serta alam sekitarnya. Sekian.