Mohon tunggu...
Agus Sutisna
Agus Sutisna Mohon Tunggu... Pegawai Swasta -

Akademik LCC Tasikmalaya

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Sebening Dia

10 Agustus 2012   18:41 Diperbarui: 25 Juni 2015   01:58 75
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com


Air mineral itu bercerita padaku..
Ia selalu kehausan mencari hal yang bisa menerimanya.
Dengan sukarela atau dengan terpaksa.
Dengan kelebihannya atau dengan ketidak sempurnaanya.

Berjalan laksana air pegunungan.
Melangkah bersama deru hujan yang basah.
Ia sendiri tersenyum diantara kehampaannya.
Ia percaya bahwa suatu saat ia akan diterima dunia.
Yah, ia percaya bahwa ia istimewa.
Meski kadang kepercayaan dirinya termakan hasutan kesombongan dan termakan sikap rendah dirinya.

Mengalir menebarkan harum yang tak terdeteksi.

Menitipkan jejak-jejak yang dikiranya tak seberapa.

Ada kekuatan saat ia berkawan.
Mengumpulkan pasukan dan bersenda gurau. Berlari mengitari pelangi mencari sesuatu yang bisa membesarkannya.

Terkadang ia bertemu dengan air bah, berpapasan dengan limbah dan pernah tercampur minyak yang tumpah.

Selalu ada keyakinan pada dirinya bahwa ada oksigen pada tubuhnya. Yang luar biasa kekuatannya.

Air mineral yang belum terolah.
Kesana kemari mencari kepastian masa depannya.
Berharap ada yang bisa menemukannya dan membuatnya terlihat mewah.
Air mineral yang belum terolah. Merasa terbiasa dengan kesederhanaan, meski kadang ingin mencoba meniti pelangi.
Ada hal yang tidak bisa ia jelaskan meski ia berguncang hebat, namun tak satupun yang menangkap perasaannya.

Ia hanya air mineral, bukan air lautan.
Membuat ombak saja ia tak mampu.
Ia hanya air mineral biasa, yang tak mengenal lelah mencari kifayah untuk masa depannya.
Ia hanya air mineral biasa yang rapuh terbakar ampuhnya matahari. Ia bisa saja menguap atau malah membeku saat musim salju.

Jangan bertanya padanya tentang matematika.
Ia tak mengerti bahasa atau angka-angka logaritma.
Tapi berilah ia pelukan untuk meraih masa depan.
Pelukan keyakinan..
Jika ia benar-benar istimewa. Dan bisa mengguncang dunia dengan caranya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun