Mohon tunggu...
Pace Imbiri
Pace Imbiri Mohon Tunggu... Nelayan - Santai

Sederhana baik adanya

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Irama Kekerasan, Masa Lalu dan Papua Kini

22 September 2019   22:34 Diperbarui: 27 September 2019   21:33 24 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Irama Kekerasan, Masa Lalu dan Papua Kini
Pemerintahan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Selama ini bisa di kata konflik di Papua hanya terjadi di daerah pelosok seperti di Puncak Jaya Mimika Intan Jaya dan Nduga serta kabupaten lainnya yang tersebar di daerah pegunungan Papua maupun pesisir. Ada dua sikap mendasar yang melatarbelakangi irama konflik di Papua yaitu pertama konflik yang didasari kekhasan tradisional berupa perang suku seperti sering terjadi di daerah pegunungan Papua. Dan konflik berlandas sikap politik yang melibatkan "kelompok sipil tertentu" dengan Aparat TNI/POLRI di berbagai wilayah di Papua dengan intensitas konflik yang bisa dikendalikan.

Beberapa waktu lalu pecah konflik di sejumlah pusat kota di Papua dan Papua Barat. Timbul pertanyaan "kenapa bisa sampai irama kekerasan yang tadinya hanya terjadi di daerah pelosok bisa mucul di pusat-pusat kota seperti di Kota Jayapura, Manokwari, Fakfak dan Deiyai dan daerah lainnya baik di Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat? Sebelum menyentuh pertanyaannya alangkah baiknya kita memahami Papua lebih dekat.

Kurang lebih di Papua ada 257 suku yang hidup tersebar mendiami daerah lembah perbukitan pinggiran danau dan garis pantai juga ada yang mendiami pulau-pulau kecil serta mendiami bantaran sungai juga daerah rawa seperti di selatan Papua. Semua suku-suku lokal ini tersebar di 7 wilayah adat di Papua yaitu Mamta, Saereri, ha'anim, Domberai, La Pago, dan Mee Pago.

Data dari Jaringan Rakyat Papua (JERAT-Papua) menyebutkan Wilayah adat Domberai dihuni 52 suku lokal, Saireri 31 Suku, Mamta 87 suku, Bomberai 19 suku, Me Pago 11 suku, La Pago 19 suku dan Anim Ha 29 suku. Penyebaran suku-suku lokal di tujuh wilayah adat se-Papua dan Papua Barat terus mengalami proses perubahan dari masa ke masa.

Masa Lalu, Kontak Pertama & Masa Kini

Proses perubahan itu dapat di poteret dari tiga periode  yang berbeda yaitu  periode masa lalu yang identik dengan tradisi alami, periode paskah kontak pertama yaitu masa-masa dimanah suku asli mulai melirik peradaban lebih maju, dan periode masa kini yang tidak bisa terpisahkan dari wujud moderenisme.

Kehidupan masa lalu suku-suku lokal pada periode pertama begitu buas, terisolasi dari dunia luar dan saling memusuhi antara suku satu dan lainnya. Masa ini bagi penduduk lokal di Papua dikenang sebagai masa-masa perang suku. Sudah tentu kehidupan saat itu begitu tertinggal dibanding daerah lainnya di luarnya. Warisan dari masa perang suku bagi generasi Papua masa kini adalah berbagai ungkapan bernada stigma yaitu "Papua zaman batu, masih primitif dan terbelakang serta ungkapan sentimen ras lainnya yang pasti menibulkan luka batin bila ungkapan-ungkapan tersebut sampai ditelinga penduduk lokal. Padahal masa-masa itu sudah berlalu sejak lama seiring dengan keberadaan suku-suku asli yang membuka diri menerima perubahan dari luar. 

Periode paskah kontak pertama, periode kedua ini adalah masa-masa di mana suku-suku asli mulai meninggalkan kebiasaan taradisionalnya dan mulai melirik peradaban dari dunia luar. Penduduk lokal daerah pesisir mulai meninggalkan kebiasaan perangnya seiring dengan upaya kristenisasi di Papua pada awal abad ke 19 oleh sending Ottow dan Geisler di Pulau Mansinan 15 Februari 1812. Sementara suku-suku di daerah pelosok yang belakangan menerima sentuhan dari dunia luar di beberapa daerah masih mempertahankan tradisi perang suku hingga kini.

Kehidupan suku-suku Pasaka kontak pertama dikisahkan dalan buku yang ditulis Miridan Widjojo  berjudul "Pemberontakan Nuku Persekutuan Lintas Budaya Maluku-Papua sekita 1780 s.d 1780  disebutkan telah ada interaksi antara penduduk lokal lebih khusus suku-suku pesisir dengan pengaruh kekuasaan kesultanan Tidore. Bahkan kekuatan tradisional suku-suku di daerah pesisir Raja Ampat ikut turut membantu Pangeran Nuku melawan dominasi VOC di Nusantara Timur. Mengutip salah satu babnya menyebutkan:

" Para Penyamun, Tidore dan Nuku"
...pada akhir abad ke 17 dan awal abad ke 18 aksi-aksi serangan penjarahan yang dilakukn rang-orag Papua berhasil memperluas daerah operasi mereka, Sebagaimana dikatakan Andayana serangan penjaraahn tidak dibatasi hanya ke Ambon, Buru dan Seram tetapi meluas ke selatan hingga kepulauan Aru-Key, Tanimbar, Seram Laut dan ke barat hingga Sula, Bangga dan Sulawesi Utara. Kemajuan ini menentang rust en orde (kedaimaian dan ketertibaan) yang diperlukan VOC."

Kutipan diatas memberi gambara kehidupan suku-suku pesisir Papua paskah kontak pertama yang tidak bisa terpisahkan dari instrumen kekerasan yang sekaligus menjadi kekuatan tradisional yang cuku disegani di perairan timur nusantara sejak abad 17 hingga abad ke 18 masehi. Eksistensi pelauat papua dari suku-suku pesisr ini menjadi legenda yang dikenang suku-suku penduduk lokal se-Papua dan Papua Barat hingga kini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pemerintahan Selengkapnya
Lihat Pemerintahan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan