Mohon tunggu...
Caesar Naibaho
Caesar Naibaho Mohon Tunggu... Guru - Membaca adalah kegemaran dan Menuliskan kembali dengan gaya bahasa sendiri. Keharusan

Pengajar yang masih perlu Belajar...

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pengalaman Pernah Bersekolah di Asrama

13 September 2022   10:44 Diperbarui: 15 September 2022   02:07 1256
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pengalaman Menempuh Pendidikan di Asrama. sumber gambar: https://marsudirini-bgr.sch.id/asrama/

Mereka sortir, misalnya saya yang punya hubungan famili dengan kakak kelas yang sudah tiga tingkat di atas saya waktu itu.

Saya sebutkan namanya, saya katakan bahwa saya adalah adiknya beliau -- karena memang saya dan beliau masih ada hubungan famili, dimana ibu kami masih satu keturunan kakek dan nenek -- para senior kami -- satu tahun di atas kami -- yang jadi kakak kelas langsung -- meminta saya dan teman yang punya beking tadi untuk keluar dari ruangan jemuran dengan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan yang mereka anggap salah tadi.

Namun, ada teman kami yang tidak punya deking tadi tetap di dalam kamar jemuran dan pintu ditutup rapat-rapat oleh abang kelas tersebut. Lantas apa yang terjadi? Entahlah karena setelah itu mereka (ada 3 orang) jadi pendiam dan tak mau menceritakan kejadian yang ada di kamar jemuran tersebut dan terlihat teman kami ini traumatis untuk melakukan pelanggaran yang sama.

Memang senioritas dalam dunia pendidikan kita tak dapat dimusnahkan, sudah berlangsung sejak lama, sejak saya diasrama hingga sekarang, kekerasan yang dilakukan kakak kelas alias senior kepada junior kerap terjadi. 

Walau masa orientasi sekolah dilakukan lebih humanis, tak melibatkan senior di sekolah, namun dalam situasi dan kondisi tertentu, masih terjadi pemalakan, pungli berujung kekerasan fisik, hingga adik kelas harus menunjukkan rasa hormatnya kepada kakak kelas.

Kasus yang menimpa santri yang berasal dari Palembang, Albar Mahdi (AM) yang meninggal dunia setelah mengikuti Perkemahan Kamis-Jumat (Perkajum), program dari Pondok Pesantren yang awalnya diduga mengalami kelelahan. Namun, akhirnya terungkap bahwa santri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Ponorogo itu meninggal karena mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh kakak kelasnya.

Dengan dalih memberikan hukuman, dua kakak kelas AM, berinisial MFA (18) dan IH (17) telah melakukan penganiayaan yang berujung pada kematian adik kelasnya. Yah, mungkin darah muda yang masih mengalir membuat kedua pelaku gelap mata hingga melakukan pemukulan yang melebihi dari standard.

Saya membayangkan betapa dulu ketika kami di kamar jemuran tersebut, menurut pengakuan teman-teman yang pernah masuk ke dalam, menceritakan bagaimana kakak kelas itu terkadang gelap mata dan melakukan tendangan atau pukulan yang melebihi kata normal.

Yah maklum saja karena darah muda, di samping emosi, juga keasyikan melakukan pemukulan, padahal kondisi fisik semua orang kan tidak sama, ada yang kebal, ada yg lemah dan tak tahan ketika menerima pukulan.

Ciptakan Sekolah Ramah Anak, Hapus Senioritas

Walau ada kenangan pahit ketika menempuh pendidikan selama tiga tahun di asrama itu, namun setidaknya ketika saya setelah keluar dan menghadapi dunia nyata, terlihat lebih siap dengan segala kondisi dan keadaan yang dihadapi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun