Mohon tunggu...
Caesar Naibaho
Caesar Naibaho Mohon Tunggu... Guru - Membaca adalah kegemaran dan Menuliskan kembali dengan gaya bahasa sendiri. Keharusan

Pengajar yang masih perlu Belajar...

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pengalaman Pernah Bersekolah di Asrama

13 September 2022   10:44 Diperbarui: 15 September 2022   02:07 1256
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sungguh miris dengan apa yang ditampilkan dan menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial belakangan ini. 

Ada kasus polisi tembak polisi yang sampai saat ini pangkalnya belum terbukti dan ujungnya belum juga terselesaikan, lalu ada kenaikan harga BBM bersubsidi yang sampai saat ini juga masih belum dapat diterima oleh masyarakat umum dengan aksi demo berkelanjutan. 

Tak hanya itu, berimbas pada kenaikan bahan pokok dan tarif-tarif lainnya, termasuk tarif angkot dan ojol, sementara pendapatan alias gaji tak juga naik.

Belakangan, kita harus mengakui bahwa ada degradasi moralitas anak bangsa yang semakin jauh dari agama dan adat istiadat. 

Pemberitaan akan bobrok dunia pendidikan kita khususnya ditelanjangi dengan aksi-aksi yang mengentak nalar kesadaran, membuat kita 'mengelus dada', selain berkata 'miris' dan 'menyedihkan', menyayat hati sekaligus menampar wajah Pendidikan kita.

Hasil yang dilakukan oleh oknum-oknum itu telah berhasil mencoreng dunia pendidikan kita. Bagaimana tidak? Sekolah-sekolah yang dianggap agamais itu mendadak harus menahan kelu oleh kelakuan oknum-oknum, sekali lagi oleh kelakuan oknum-oknum yang ada di lembaga pendidikan berbasis asrama, seperti yang terjadi di pondok pesantren di Jombang, di mana anak seorang kiai adalah pelaku kekerasan seksual terhadap lebih dari satu anak pesantren.

Pengepungan berlangsung dramatis, di mana polisi harus bekerja ekstra keras untuk menangkap pelaku pencabulan anak itu yang justru dilindungi oleh penghuni pondok pesantren. 

Kelakuan para santri yang justru melindungi predator ini yang menjadi tanda tanya besar, ada apa dengan dunia pendidikan kita, khususnya lembaga pendidikan berbasis asrama?

Mengapa seorang predator seksual malah mendapatkan perlindungan dari dalam sendiri? Padahal aksinya telah memakan korban hingga lima dan bahkan bisa lebih apabila masih ada korban yang mau buka mulut.

Jika memang terbukti benar? Maka kasus ini akan mempertegas dan melengkapi pernyataan para ahli dan peneliti yang selama ini sudah pernah berkoar-koar bahwa memang terdapat oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab dan sering menggunakan "topeng agama" untuk melancarkan aksi-aksi bejatnya, seperti pelecehan seksual, kekerasan fisik, bahkan untuk korupsi, anarkisme, radikalisme, terorisme, serta eksploitasi dan pelecehan seksual terhadap kaum perempuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun