Mohon tunggu...
Caesar Naibaho
Caesar Naibaho Mohon Tunggu... Guru - Membaca adalah kegemaran dan Menuliskan kembali dengan gaya bahasa sendiri. Keharusan

Pengajar yang masih perlu Belajar...

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Implementasi Kurikulum Merdeka, Wujudkan Profil Pelajar Pancasila

13 Agustus 2022   13:15 Diperbarui: 13 Agustus 2022   22:39 1906
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi kurikulum merdeka (Sumber: kompas.id/Heryunanto )

Kurikulum Merdeka menekankan pada pembelajaran Heutagogi, pembelajaran yang berpusat pada siswa, lebih jelasnya menurut Hase dan Kenyon (2007) Heutagogi, pembelajaran mandiri yang menerapkan pendekatan holistik -- pembelajaran berfokus pada pemahaman informasi dan mengaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan -- untuk mengembangkan kemampuan siswa dengan menempatkan siswa sebagai 'agen utama dalam pembelajaran mereka sendiri, yang terjadi sebagai akibat pengalaman pribadi'.

Mengacu pada Taksonomi Bloom, struktur hierarki mengidentifikasi keterampilan berpikir mulai dari jenjang rendah hingga ke jenjang lebih tinggi, maka pendekatan Heutagogi pada implementasi pembelajaran ranah kognitif revisi oleh Krathwohl dan para ahli aliran kognitivisme akan sampai pada level C-3 sampai C-6, yaitu: mulai dari menerapkan, menganalisis, mengevaluasi hingga membuat, karena di Kurikulum Merdeka, Guru pastinya menyampaikan jenis-jenis informasi, seperti: fakta, konsep, prosedur, hingga metakognitif yang sering disebut dengan dimensi pengetahuan.

Hidup di era Industri 5.0 mengharuskan guru dan orangtua berkolaborasi dan berdistribusi untuk sama-sama membangun karakter learning dan karakter industri agar generasi muda Indonesia memiliki dan mengedepankan lima unsur keseimbangan kehidupan manusia, yaitu menjaga sikap emosional, memiliki intelektual tinggi, fiskal, sosial, dan spiritualitas, sebab pengaruh dari revolusi industri 4.0 sangat besar dalam mendegradasi peran manusia akibat perkembangan mesin robotik.

Sistem kerja dari Socety 5.0, mentransformasi big data yang dikumpulkan melalui internet di segala bidang kehidupan dan mengajak manusia untuk tidak hanya mengedepankan teknologi, namun juga harus terintegrasi kuat dengan kebutuhan spiritualitas, sehingga diharapkan dapat membantu sesama manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, maka Kurikulum Merdeka dihadirkan untuk mewujudkan Generasi Muda Indonesia yang memiliki Kecakapan Hidup di abad 21, diantaranya 4C (Creativity, Critical Thingking, Communication, Collaboration).

Guru sebagai ujung tombak pendidikan di era Society 5.0 harus punya keterampilan digital dan berpikir kreatif, guru juga harus dapat menerima perubahan dan beradaptasi memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran, baik itu pembelajaran di kelas, maupun melakukan pembelajaran jarak jauh (distance learning). 

Guru sebagai motor atau penggerak Kurikulum Merdeka harus mampu jadi sosok yang memerdekakan siswa atau anak didiknya dengan menyesuaikan cara mengajarnya agar pembelajaran itu berpusat pada siswa, bukan berpusat pada guru lagi.

Kita sedang Menuju Era Society 5.0, dokpri
Kita sedang Menuju Era Society 5.0, dokpri

Peran guru di era kekinian harus mampu menjadi panutan. Mengembalikan ruh guru sebagai orang yang digugu dan ditiru, seperti yang digariskan Ki Hadjar Dewantara, dalam bukunya berjudul "Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sika Merdeka", mengatakan bahwa "Pendidikan itu segala pemeliharaan lahir dan batin terhadap pada anak-anak untuk dapat memajukan hidupnya lahir atau jasmani dan batin atau rohani".

Dalam Kurikulum Merdeka, jelas konsepnya bahwa guru harus bergerak mengutamakan siswanya dibanding dirinya sendiri. 

Inisiatif untuk melakukan perubahan pada siswanya, mengambil tindakan tanpa disuruh, terus berinovasi serta keberpihakan kepada siswa. Memerdekakan siswa dengan teladan sikap dan perilaku baik di dalam kelas maupun di luar kelas adalah keutamaan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun