Mohon tunggu...
Caesar Naibaho
Caesar Naibaho Mohon Tunggu... Guru - Membaca adalah kegemaran dan Menuliskan kembali dengan gaya bahasa sendiri. Keharusan

Pengajar yang masih perlu Belajar...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ketika Pak Jokowi Jadi Bagian Keluarga Batak

30 November 2017   23:15 Diperbarui: 30 November 2017   23:20 1400
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jokowi memamerkan keahliannya manortor Batak Mandailing dengan belajar dari youtube. sumber: www.nasional.kompas.com

"Bukka ma pittu, bukkama harbangan. Ai nungga rade labuan ni hopal habang internasional"(Siapkan diri untuk berubah, karena sudah tersedia lapangan terbang internasional)

Itulah umpasa alias pantun dalam bahasa Batak Toba yang menjadi kalimat pembuka Pak Jokowi saat meresmikan Bandara Internasional Silangit jadi gerbang terwujudnya Danau Toba sebagai kawasan wisata Internasional yang mampu lebih meningkatkan taraf hidup dan perekonomian daerah-daerah di kawasan Danau Toba dan juga aplikasi dari semboyan "Marsipature Huta Na Be" (Saling Membangun Kampung Masing-Masing) yang sejak almarhum Raja Inal Siregar -- Gubernur Sumatera Utara ke-13 memerintah tahun 1988-1998 - sudah didengung-dengungkan.

Pak Jokowi, siapa yang tidak kenal beliau? Terlahir di Jawa Tengah, tepatnya di Solo, 56 tahun yang lalu, Pak Jokowi mendapat pendidikan yang sangat menghormati dan menghargai perbedaan dan budaya-budaya Nusantara. Begitu juga dengan sikap toleransi yang sangat tinggi, terbukti dari cerita-cerita yang beredar bahwa Pak Jokowi selalu membonceng Pak Toto yang beragama Katolik dengan sepeda jengkinya dari rumah mereka yang kebetulan berdekatan ke SMP 1 Manahan, Solo.

Jadi tidak heran apabila Pak Jokowi menjadi orang yang paling berpengaruh dan selalu menjadi perbincangan hingga ke seluruh dunia berkat etos kerja, cara kerja dan sikap sederhana serta kegigihannya dalam mempertahankan budaya Indonesia di mata internasional. 

Baru-baru ini, media sosial dibuat gempar dengan munculnya deretan souvenir khas Rusia bergambar tiga sosok yang sangat berpengaruh dari Indonesia, Pak Jokowi, Ahok dan Ir. Soekarno, The Founding Fathers Republik ini. Mereka bersanding dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin yang menggambarkan betapa Pak Jokowi adalah sosok yang telah mampu membawa Indonesia benar-benar diakui dunia Internasional berkat kerja kerasnya.

Jadi Bagian Batak

Kejeniusan dan ketaatan Pak Jokowi akan nasehat para leluhur kita untuk tetap melestarikan budaya, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang baik yang diwariskan turun-temurun serta menghargai budaya dari seluruh pelosok nusantara tergambar dari kebiasaan beliau saat mengunjungi daerah-daerah dari Sabang hingga Merauke dengan meminta agar budaya-budaya mereka ditampilkan dan Pak Jokowi selalu tidak lupa untuk mencicipi makanan khas daerah tersebut dan mencoba selalu ikut terlibat dalam prosesi adat-istiadat yang dipertunjukkan serta tidak sungkan untuk mengenakan pakaian adat khas daerah tersebut. Itulah Pak Jokowi sangat mencintai budaya Indonesia.

Kali ini kembali kita dibuat tercengang-cengang karena Pak Jokowi sukses menyelenggarakan acara perpaduan dua adat besar, yaitu Adat Jawa dengan Adat Batak. Pak Jokowi yang memang sangat mencintai keindahan Danau Toba, terbukti dengan menjadikan Danau Toba sebagai satu dari 10 destinasi wisata unggulan tanah air yang digadang-gadang bisa mendatangkan devisa bagi negara. Tidak hanya itu, kecintaan Pak Jokowi akan Tanah Batak, yang terdiri dari Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola dan Mandailing telah dibuktikan dengan aksi nyata kerja, kerja dan kerja.

Mulai dari membangun jalan tol -- terpanjang dalam sejarah tujuh presiden di Indonesia -- dimana Pak Jokowi meresmikan dua ruas tol, yaitu: tol Medan -- Kualanamu -- Tebing Tinggi seksi 2-6 sepanjang 41,7 km dan ruas Medan -- Binjai seksi 2-3 sepanjang 10,5 km. Belum lagi jalan tol lainnya yang masih digenjot pembangunannya sehingga nantinya Medan -- Binjai -- Deli Serdang -- Karo menjadi kawasan perkotaan metropolitan ketiga terbesar di Indonesia dan diharapkan nantinya waktu tempuh dari Bandara Kualanamu International ke Danau Toba lewat jalan darat bisa hanya menempuh waktu 1-2 jam, sehingga harapan geliat pembangunan ekonomi di Tanah Batak dapat terwujud dengan baik.

Belum lagi puncak Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-71 dirayakan dengan meriahnya di Danau Toba dengan tema "Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 2016" dengan atraksi panggung apung ditengah-tengah danau kebanggaan suku Batak tersebut dan mampu menahan beban sebanyak 60 ton.

Bandara Silangit, walau sudah diresmikan sebagai bandara Internasional, Pak Jokowi tetap meminta agar memperpanjang runway dari 2.650 meter menjadi 3.000 meter. Itulah bukti kecintaan Pak Jokowi terhadap seluruh suku-suku dan budaya-budaya di Indonesia dan beliau selalu menekankan disaat kunjungan kerja baik didaerah manapun di seluruh pelosok tanah air agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan, terutama dalam hal menjaga kerukunan hidup antar umat beragama, maupun antar penganut kepercayaan, terutama dalam memajukan budaya tanah air agar tidak tergerus maupun hilang ditelan oleh masuknya budaya asing, sebab negara kita terdiri dari 714 suku bangsa dan ada 1.100 bahasa lokal yang harus dipertahankan eksistensinya sebagai harta tak terhingga dari budaya Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun