Mohon tunggu...
Agus TriLaksono
Agus TriLaksono Mohon Tunggu... Guru - Guru SMPN 3 Pringapus

yang saya tulis disini adalah pengimajinasian peristiwa dari perjalanan hidup dan orang-orang baik di sekitar saya....melalui cerita.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Dewan

31 Oktober 2022   13:35 Diperbarui: 31 Oktober 2022   13:37 81
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Pak Tri sibuk apa tidak?" kalimat pesan WA dari Pak RW baru saja kubuka dan kubaca. Ragu aku membalasnya. Wah, Pak RW ini ada apa ya? Batinku pun bertanya. Biasanya kala beliau menanyakan hal yang serupa pasti ada hal yang penting atau bisa jadi sesuatu yang lain dan itu membutuhkan tenaga dan pikiranku. 

Masih bingung aku membalasnya. "Ada apa to Pak? Liatin HP serius banget. Nonton nakal ya?" seloroh istriku yang ternyata sedari tadi mengamatiku. "Huzz...sembarangan!" jawabku sambil mencubit tanganya yang putih dan halus itu. Istriku mengaduh dan cemberut atas sikapku. Tak banyak cara segera saja kuimbangi dengan ledekan manja hingga senyum manisnya pun terlepas. Ah mudah saja bagiku tuk menenangkannya.

"Lagi bingung membalas chat WA Pak RW ini loh Bu" jawabku atas pertanyaan istriku. "Halah bilang aja tidak bisa. Pak RW tu kaya gitu sukanya, kalo ada apa-apa mesti hubungin Bapak. Ingatkan kemarin gimana beliau setelah tau Bapak kena covid? Bukannya disuruh istirahat eh malah diminta bantu ini itu. Bukannya khawatir malah seolah Bapak dimanfaatkan. Aku sebagai istri, seolah sepele ndak diperhatiin perasaannya. Terus Bapak sendiri ya gitu, apa ndak mikir perasaan istri?" ungkap istriku dengan kekesalannya. 

Aku pun hanya diam dan merasa tidak enak dengan istriku sendiri. Benar juga kata istriku, aku tak mempertimbangkan perasaan istriku kala itu. Betapa khawatirnya dia pada kondisiku pascaterkena covid. Tanpa meminta pertimbangan, kusetujui saja permintaan Pak RW untuk terjun langsung menangani pasien covid yang tidak tercover tim nakes. Aku menjadi relawan pengantar pasien covid ke RS rujukan.

Kuterima saja waktu itu sebagai rasa syukurku terlepas dari wabah yang kala itu belum ada vaksinnya. Nyawa menjadi taruhanku kala itu. Sementara istri dalam keadaan hamil ditambah lagi anak pertamaku sedang aktif-aktifnya. Kebayang betapa berat perjuangan istri dan anakku untuk menguatkan diri menerima kenyataan. 

Rasa syukur itu tak pernah terlepas dari hidup kami hingga kini. Masa yang takkan mudah hilang dari memori kami. 

Terlepas dari itu, pascaterkena covid keegoisanku ternyata muncul. Ya dengan menyetujui permintaan Pak RW. Apakah hal itu akan aku ulang hari ini? Itulah yang menjadi keraguanku membalas chat WA. Apalagi istriku seolah tidak merestui apapun yang nantinya diminta oleh Pak RW.

"Trus gimana baiknya Bu?" tanyaku memastikan hati istriku. "Balas saja asal bukan yang aneh-aneh saja," jawab ketus istriku. 

Kubalas chat WA Pak RW. Betul saja, dugaan kami. Beliau menginginkanku untuk ikut aktif dalam organisasi dilingkungan perumahan. Sempat istriku meninggi ucapannya, karena dia tau tabiatku. Kuterima saja dengan sabar.

"Ya sudahlah Pak, pesanku jangan sampai jadi seksi bendahara" jawab istriku pasrah. Alhamdulillah jawaban itu membuatku lega. 

Namun, setelah kuambil keputusan itu, justru aku sendiri menjadi ragu. Aku bukan orang baik, banyak yang kurang dari diriku. Sementara itu, rekan-rekan yang lain, aku sedikit tau riwayat mereka, orang baik, orang yang taat, tidak seperti diriku. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun