Mohon tunggu...
Agus Subali
Agus Subali Mohon Tunggu... Guru - Penikmat keheningan.

Belajar Untuk Kebaikan.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Kolaborasi UMKM dan JNE: Upaya Bangkit di Tengah Badai Pandemi

23 Januari 2022   18:25 Diperbarui: 23 Januari 2022   18:31 374
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

                                                                                  Ilustrasi UMKM. Sumber: Shutterstock via Kompas.com

Dari pasar becek Wuhan Tiongkok--tempat jual beli daging binatang apa saja. Mulai kalong sampai trenggiling. Virus zoonosis baru, menyebar dengan kesenyapan menggelisahkan. Virus yang sepintas gejalanya tak jauh dari flu biasa ini diluar dugaan:brutal!

Awal Desember 2019 Pemerintah Tiongkok masih bereaksi standar. Bulan Januari 2020 Pemerintah Tiongkok mulai terkesiap, melakukan upaya serius penanganan wabah tersebut. Dua bulan berselang, berbagai belahan dunia melaporkan kasus serupa. Februari 2020, tercatat 24.551 orang dari 28 negara di dunia terjangkit. Laju virus tidak terhenti, pergerakannya adalah hitung eksponensial. Dua jadi empat; empat jadi delapan dan seterusnya.  Dunia kelabakan: Lockdown diberlakukan. Ekonomi macet, pasar keuangan tumbang. Resesi ekonomi terjadi.

           -----

Saat Pemerintah Tiongkok gaduh dengan penanganan Covid-19 dan kepanikan mulai merambah negara-negara di dunia: Pemerintah dan masyarakat Indonesia masih (kelewat) santai. Pasar masih ramai, ngopi bareng, dan acara konser musik belum terusik. Seolah Covid mustahil masuk Indonesia. Bahkan ada pejabat publik yang--ini tidak bercanda--mengatakan Covid susah masuk ke Indonesia karena perizinannya susah. Bisa jadi mereka berasumsi seperti wabah ebola yang muter-muter hanya di Afrika.

Santainya masyarakat Indonesia tidak bertahan lama. Senin 2 Maret 2020, Presiden Indonesia mengumumkan Covid-19 sudah masuk ke Indonesia dan menjangkiti 2 orang di Depok. Informasi dari RI-1 ini cukup sah dan meyakinkan: Indonesia terpapar Covid. Wabah virus ini seperti gunung es--yang terjangkit lebih kolosal dibandingkan yang tampak. Tidak butuh waktu lama, Covid menyebar dengan cepat. Kepanikan terjadi. Bulan Maret 2020, Pemerintah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Drama pilu ekonomi dimulai.

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang diterapkan pemerintah membawa dampak cukup dalam di bidang ekonomi. Pergerakan orang dibatasi. Akibatnya semua sektor ekonomi tersendat. Industri pariwisata kena pukul, perusahaan transportasi tengkurap, dan produk kebutuhan tersier sepi pembeli. 

Diluar kebutuhan pokok dan obat-obatan seolah bukan lagi prioritas. PSBB mempengaruhi daya beli masyarakat. Sirkulasi perusahaan (produksi, konsumsi, distribusi) nyaris terhenti. Pemutusan hubungan kerja tidak terhindarkan. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan per 7 April 2020--hanya sebulan setelah pengumuman invasi virus--tercatat 39.977 perusahaan di sektor formal merumahkan karyawannya. Tercatat 1.010.579 orang berstatus baru: Pengangguran!

Gambaran suram ekonomi Indonesia membayang. Kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi ambles -5,32 persen. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat dari 4,9 % Februari 2020, menanjak 6,17--6,65% pada Maret 2020. Masuk kuartal III, pertumbuhan ekonomi tetap memprihatinkan, minus 3,49%. Oktober 2020 Indonesia secara resmi mengumumkan masuk jurang resesi.

Berjuang Untuk Bertahan

Sebagaimana hukum kekekalan energi:  Energi tidak dapat diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan, energi hanya berubah bentuk. Banyak orang yang di PHK tidak lagi bisa bekerja di kantor. Banyak pula pedagang yang tidak bisa lagi membuka tokonya. Dananya habis untuk konsumsi. Namun, bukan Homo sapiens jika tidak bisa melepaskan dari jerat  Covid-19. 

Nenek moyang kita berkali-kali sudah berhadapan dengan fenomena kehancuran fatal yang lebih serius--harusnya manusia juga musnah. Namun ternyata tidak. Homo sapiens tetap eksis menjejak kaki, hingga saat ini populasinya cukup melimpah: hampir mendekati  8 milyar. Populasi yang hanya bisa disamai oleh serangga semisal laron, semut, atau belalang.

Hantaman meteor 65 juta tahun lalu, memusnahkan dinosaurus tapi tidak Homo sapiens. Zaman es berakhir, menenggelamkan banyak daratan tapi tidak manusia. Wabah Pes, Ebola, Perang Dunia I, Perang Dunia II adalah beberapa malapetaka hebat, namun manusia tetap eksis. Gambaran itu seolah memberi sinyal, Covid seolah hanya ombak standar di tengah samudera peradaban Homo sapiens. Saat membaca sejarah ada optimisme: walau samar!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun