Mohon tunggu...
Agung Webe
Agung Webe Mohon Tunggu... Penulis buku tema-tema pengembangan potensi diri

Buku baru saya: GOD | Novel baru saya: DEWA RUCI | Menulis bagi saya merupakan perjalanan mengukir sejarah yang akan diwariskan tanpa pernah punah. Profil lengkap saya di http://training.inspiranusa.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Lailatul Qadar (Bagian Pertama)

3 Mei 2021   04:53 Diperbarui: 3 Mei 2021   06:34 710 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lailatul Qadar (Bagian Pertama)
pic; kompas.tv

Apakah keyakinan Arab pra Islam yang membawa paganisme tersebut murni pagan? Seperti contohnya Latta, Uzza dan Manat yang ditulis sebelum ini? Apa yang membawa transformasi mereka sehingga memodifikasi dewi-dewi Yunani dan dikaitkan sebagai anak Allah lalu disembah? Memang kaum pagan Arab dapat dikatakan hampir musnah setelah Nabi Muhammad menghancurkan berhala-berhala yang ada di kuil-kuil mereka yang dinamakan Dzul Khalashah.

Bulan suci kaum Pagan Arab adalah bulan ke 1 -- 7 -- 9 dan 12 dalam kalender Arab (Muharram, Rajab, Ramadhan, Dzulhijjah). Berkaitan dengan nama kalender Islam, yaitu dengan sebutan H -- hijrah, apakah baru dibuat pada jaman Nabi Muhammad? 

Tentu saja tidak, karena masyarakat Arab pra Islam sudah menggunakan penanggalan bulan dengan nama-nama sama dalam penanggalan Hijrah, yaitu 1-Muharram, 2-Safar, 3-Rabiul awal, 4-Rabiul akhir, 5-Jumadil awal, 6-Jumadil akhir, 7-Rajab, 8-Sya'ban, 9-Ramadhan, 10-Syawal, 11-Dzulkaidah, 12-Dzulhijjah. Jadi ini bukan kalender Islam, melainkan kalender Arab. Hanya saja saat itu kaum Arab tidak menyebutkan tahun dan tahun hanya ditandai dengan sebuah peristiwa.

Contohnya adalah hari lahir Nabi Muhammad. Apabila kalender itu adalah kalender Islam, maka penyebutan bulan lahir Nabi Muhammad seharusnya tidak ada. Namun lahirnya Nabi Muhammad dapat disebutkan pada bulan ke 3 yaitu Rabiul awal. 

Hanya saja penamaan tahun sebelum Islam belum ada, jadi hanya ditandai lahirnya Nabi Muhammad pada tahun Gajah, yaitu peristiwa bergajah. Kemudian agar tanda tahunnya jelas. Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah dan dimulailah saat itu sebagai tahun 1 H -- pertama.

Di sini kita melihat bahwa nama-nama bulan Arab telah digunakan oleh masyarakat Arab jauh sebelum Islam. Dan bulan-bulan yang dianggap suci di atas  (Muharram, Rajab, Ramadhan, Dzulhijjah) adalah bulan-bulan larangan untuk pembantaian, balas dendam, perang, perkelahian dan pertengkaran. Karena penanggalan Arab ini terkait dengan siklus bulan, maka beberapa sejarawan mengatakan bahwa hal ini terkait dengan kebudayaan kuno Arab yang menyembah dewi Bulan (Lunar).

Kaum Arab kuno pra Islam yang bernama kaum Sabi'un, yaitu baik Sabi Harrania maupun Mandaia melakukan puasa di buan Ramadhan, karena bulan ini dianggap sebagai bulan suci dari turunan keyakinan masyarakat mereka. Di tulisan awal-awal juga sudah saya tuliskan bahwa perintah Puasa ini ada bukan dari jaman Nabi Muhammad, melainkah sebuah perintah untuk berpuasa seperti kaum sebelumnya.

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS 2: 83)

Nabi Muhammad melakukan 'akulturasi' atau peleburan budaya agar apa yang disampaikannya sebagai inti dari 'tauhid' dapat diterima. Hal ini di tanah Jawa juga dilakukan oleh Wali Sanga, dimana budaya-budaya sebelumnya tidak dihilangkan, namun diadopsi untuk kemudian dimaknai ulang. Bayangkan apabila kepercayaan kuno bangsa Arab yang sudah diyakini bertahun-tahun lalu dihilangkan begitu saja, apa yang akan terjadi? Mungkin Nabi Muhammad akan memerlukan beberapa abad lagi untuk membuat kebudayaan baru yang nantinya dikatakan sebagai 'original Islam'.

Original atau bukan, tentu bukan hal yang harus kita permasalahkan. Dengan mengetahui latar belakang sejarah seperti ini kita semua akan tahu dan mendudukkan masalah pada tempat yang tepat. Dan akan memahami mengapa Nabi Muhammad melebur budaya kaum Arab Kuno dengan memaknai ulang dan membiarkan ritual-ritual yang ada tetap berjalan dengan makna baru. Lalu apakah sebagai umat Islam akan menolak sejarah dan akan mempertahankan bahwa sholat, puasa, haji adalah original dari Nabi Muhammad? Tentu saja tidak bukan?

Bahkan pada tradisi kekristenan Arab (sebelum Islam) yang juga menganggap bahwa bulan ke 9 -- Ramadhan merupakan bulan suci juga diperintahkan untuk berpuasa:

Adapun dalam tahun yang kelima pemerintahan Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda, dalam bulan yang kesembilan (penulis: Ramadhan), orang telah memaklumkan puasa di hadapan TUHAN bagi segenap rakyat di Yerusalem dan bagi segenap rakyat yang telah datang dari kota-kota Yehuda ke Yerusalem. (Yeremia 36:9)

Apabila bulan Ramadhan sudah dianggap sebagai bulan yang mulia dari sejak peradaban Arab kuno sebelum Islam, maka 'belief' ini yang dipakai untuk diteruskan sebagai 'jembatan' meningkatkan kualitas diri manusia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN