Mohon tunggu...
Agung Webe
Agung Webe Mohon Tunggu... Penulis buku tema-tema pengembangan potensi diri

Buku baru saya: GOD | Novel baru saya: DEWA RUCI | Menulis bagi saya merupakan perjalanan mengukir sejarah yang akan diwariskan tanpa pernah punah. Profil lengkap saya di http://training.inspiranusa.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Negative Cash Flow, Bagaimana Solusinya?

22 April 2020   01:10 Diperbarui: 22 April 2020   08:20 883 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Negative Cash Flow, Bagaimana Solusinya?
Pasar - dokumentasi pribadi | AGUNG WEBE

Saat ini siapa yang tidak mengalami kesulitan keuangan? Semuanya mengalami, hanya dengan kadar yang berbeda. Saat pemberlakuan jarak sosial dan jarak fisik lalu orang harus diam di rumah, maka otomatis roda perekonomian perlahan tumbang. 

Yang terkena dampaknya pertama kali adalah mereka yang membuka usaha sendiri, buruh upah harian dan mereka yang mencari nafkah dengan harus berada di luar rumah.

Para pegawai swasta (bukan pegawai BUMN atau ASN) sudah banyak yang dirumahkan  bahkan Sebagian perusahaan kecil swasta juga sudah memutuskan hubungan kerja karena tidak sanggup menanggung beban pengeluaran yang disebabkan tidak adanya produksi dan penjualan.

Yang masih relatif aman adalah pegawai Negeri dan BUMN. Walaupun ada pemotongan gaji sampai 50%, setidaknya setiap bulan masih mendapat penerimaan rutin untuk biaya makan keluarga.

Toko pakaian banyak yang tutup. Apalagi yang masih sewa tempat. Para pelanggannya yang rata-rata adalah pekerja yang membutuhkan pakaian kerja dan harian mereka, kini tidak ada lagi. 

Para pekerja yang sudah dirumahkan, sudah PHK dan tidak ada penghasilan lagi, maka tidak mungkin akan menggunakan uang untuk konsumtif. 

Beban toko untuk menggaji karyawan dan membayar sewa tempat (belum listrik) yang sementara ini tidak ada pemasukan adalah sangat berat. Pilihannya adalah tutup sampai waktu membaik atau menjual aset untuk makan.

Warung makan dari yang kecil sampai besar juga mengalami dampak yang sama. Kini, keluarga memilih masak sendiri untuk menghemat pengeluaran. 

Karena peraturan 'stay at home' maka otomatis tidak ada yang datang makan di sebuah rumah makan. Warung makan yang tadinya mengandalkan karyawan sekitar untuk makan siang saat isitrahat kantor, kini juga harus tutup karena tidak ada lagi yang makan siang.

Satu-satunya yang masih bergulir rodanya adalah pasar tradisional. Beberapa malam yang lalu saya ke pasar tradisional di daerah Bekasi. Para pedagang masih terlihat membuka dagangan dan belum ada lapak yang tutup. 

Saya sempat bertanya kepada para penjual di beberapa warung dan mereka menjawab bahwa tetap terjadi jumlah yang kurang dari pembeli yang datang ke pasar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x