Agung Webe
Agung Webe profesional

Mampir ke warung saya di sini: http://www.warungwebe.com

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Dewa Ruci, Sebuah Novel Cinta dan Spiritual

9 Oktober 2018   07:45 Diperbarui: 9 Oktober 2018   22:49 4835 7 4
Dewa Ruci, Sebuah Novel Cinta dan Spiritual
koleksi pribadi

Sebagai sebuah ilmu yang dianggap 'wingit' maka lakon Dewa Ruci menjadi sebuah cerita yang sangat diminati oleh para pejalan jiwa di setiap jaman. 

Kandungan inti dalam cerita Dewa Ruci yang berupa pembabaran tentang 'Sangkan Paraning Dumadi' atau Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, menjadi sulit diterjemahkan karena terselip di antara bahasa simbol pewayangan.  

Sebelumnya, sekitar tahun 2010, saya menemukan sebuah buku kecil dan penulisnya tertulis 'Pujangga Surakarta'. Judulnya Serat Dewa Ruci. Buku kecil yang seluruhnya berisi kisah Bima dalam mencari air suci ini ditulis dalam bahasa Jawa. Karena sudah banyak buku yang menulis tentang Dewa Ruci dalam bentuk aslinya dan juga terjemahannya, maka saya mempunyai ide untuk menuliskannya dalam genre novel modern. 

Ide ini berlanjut dengan hadirnya novel fenomenal Dunia Sophie yang ditulis oleh Jostein Gaarder. Sebuah novel filsafat yang aslinya rumit namun ketika diceritakan dalam bentuk novel menjadi ringan dan mengalir! Akhirnya Dewa Ruci saya tulis dalam bentuk novel kontemporer modern yang menggabungkan kisah cinta antara Bima dan Arimbi di jaman modern.

Novel ini bukan hanya merupakan transliterasi dari kidung kakawin Dewa Ruci yang ditulis oleh pujangga Surakarta ke dalam bahasa modern, namun juga merupakan sebuah konversi yang cantik dari lakon wayang menjadi kisah cinta anak muda dan perjalanan batinnya untuk menemukan cinta itu sendiri. 

Pembaca tidak hanya saya suguhi jejer lakon Dewa Ruci sebagaimana wayang apa adanya, namun pembaca juga saya ajak bertamasya ke dunia quantum, cerita fiksi modern, kesaktian, perjalanan cinta dan rahasia alam semesta.

Lho mengapa demikian? Ya, saya menghadirkan cerita tiga dimensi dalam novel ini, yaitu dimensi Bima sebagai keluarga Pandawa pada jaman kisah Mahabarata, dimensi Bima sebagai pemuda di jaman modern yang bekerja di Jakarta dan dimensi Bima yang hidup di dimensi empat puluh sebagai lambang masa depan. 

Dengan alur novel, saya sendiri berharap pembaca dapat mengikuti alur cerita Dewa Ruci dalam wayang yang belum banyak disukai oleh anak muda jaman sekarang. 

Novel ini saya awali dengan seorang pemuda bernama Bima yang ditinggal oleh kekasihnya yang bernama Arimbi. Arimbi menikah dengan laki-laki lain dan Bima merasakan saat-saat dihempaskan oleh cinta.

Bima kemudian pergi dari Yogya dan bekerja di Jakarta. Namun ia mulai merasakan aneh karena mengalami mimpi yang bersambung. Ia ingat dengan detail setiap cerita dalam mimpinya. Dalam mimpi tersebut Bima, menjadi Bima murid resi Druna, Bima keluarga Pandawa yang sedang berjalan mencari air suci ke gunung Candramuka. 

Karena ia merasa terganggu dengan mimpinya yang hampir setiap hari dan bersambung tersebut, ia mencari teman lamanya, seorang psikolog yang bernama Bunga.

Bima diobservasi oleh Bunga dan dicari apakah mempunyai trauma-trauma dalam kehidupannya. Dalam perjalanan observasinya tersebut, Bunga sebagai psikolog menyarankan Bima mencari alternatif untuk berdiskusi dengan temannya, seorang ahli Tarot (tarot reader) yang bernama Satya. Dari analisis tarot inilah, Bima harus mengambil keputusan untuk kembali ke Yogya. 

Kembali ke Yogya tentu bukan masalah ringan karena Bima harus berdamai dengan rasa sakit, kecewa dan bayang-bayang Arimbi yang meninggalkannya. Belum lagi ditambah masalah kotak misterius yang dititipkan oleh seseorang yang juga mengaku bernama Bima! 

Di Yogya inilah polemik mimpi bersambung Bima menjadi sebuah perjalanan yang penuh kejutan. Baik Bima di Yogya dan Bima di gunung Candramuka sama-sama meneruskan perjalanannya, hingga Bima sendiri menyadari apa makna ajaran yang diberikan oleh Dewa Ruci kepada Bima dari jaman kerajaan Amarta tersebut. 

Lalu bagaimana dengan Arimbi? Apakah Bima dapat berdamai dengan rasa kecewanya? Ternyata perjalanan Bima tidak hanya bersambung lewat mimpi-mimpinya yang mengakibatkan ia paham secara detail perjalanan Bima adik Yudhistira, namun Bima juga melakukan perjalanan dengan teknologi modern memasuki lubang cacing menembus antar dimensi, yaitu ke bumi dimensi empat puluh yang sudah menggunakan teknologi quantum sebagai bahan dasar kemajuan dimensinya. 

Di dimensi empat puluh, para ilmuwan tengah mengembangkan sebuah teknologi untuk kembali ke masa lalu agar dapat mengubah masa depan! Bahkan mereka sudah tidak memahami Tuhan sebagai penguasa dan pengatur alam semesta yang saat itu telah ditemukan banyak alam semesta (mutliverse). Perjalanan yang terjadi bukan lagi antar planet, bukan antar galaxy, namun lintas alam semesta! 

Bagaimana dengan Bima yang berada di Yogya menyelesaikan semua polemik tersebut? Menyelesaikan rasa kecewa atas hubungannya dengan Arimbi, menyelesaikan mimpi bersambungnya dan menyelesaikan apa yang dialaminya tentang bumi dimensi empat puluh dari alam semesta yang lain itu?

Akhirnya tentu saja, novel ini saya harapkan dapat menjadi sebuah Novel kontemporer (cinta dan spiritual) yang berani mengangkat tema rahasia dan disembunyikan dari 'Sangkan Paraning Dumadi', menjadi rangkaian kalimat-kalimat yang mudah untuk diselami dalam dunia modern ini.