Mohon tunggu...
Esdi A
Esdi A Mohon Tunggu... write like nobody will rate you

Robbi auzi'nii an asykuro ni'matakallatii an'amta alayya, wa alaa waalidayya; ... ya Allah, betapa banyak nikmat karunia-Mu dan betapa sedikit hamba mensyukurinya. | esdia81@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Asal Muasal Obat Cacing Ivermectin Digunakan untuk Covid-19

22 Juni 2021   17:20 Diperbarui: 22 Juni 2021   17:46 332 16 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Asal Muasal Obat Cacing Ivermectin Digunakan untuk Covid-19
Obat Ivermectin yang diproduksi Indofarma (suarasurabaya.net).

KSP Moeldoko mengaku telah berinisiatif membagikan puluhan ribu dosis Ivermectin sebagai obat untuk melawan Covid-19. Tiga kecamatan di Kudus menerima bantuan obat murah tersebut ketika kasus harian melonjak tinggi di sana (detik.com, 7/6/2021).

Ketika Covid-19 semakin menggila hari-hari ini, Ivermectin kembali diperbincangkan. Moeldoko mengapresiasi Erick Thohir yang sigap mengurus izin ke BPOM agar bisa diterapkan secara legal untuk pasien corona.

Persoalannya adalah BPOM memang menyetujui penggunaan Ivermectin  tetapi bukan untuk Covid-19. Obat tersebut adalah antiparasit berskala luas terutama untuk membasmi cacing. Penerapan untuk membasmi corona masih memerlukan uji klinis terkait khasiat, dosis, dan efek sampingnya.

Penelitian di Monash University

Bagaimana bisa obat cacing merangkap obat virus? Ceritanya ternyata sudah dimulai sejak 2020 lalu.

April 2020, peneliti  Biomedicine Discovery Institute (BDI) di Monash University Australia menemukan dalam skala laboratorium bahwa Ivermectin dapat membunuh virus SARS-CoV-2  dalam tempo 48 jam (pharmaceutical-technology.com).

Tim riset Covid-19 BDI dan Monash University. Atas (ki-ka) Dr Kylie Wagstaff, Professor Robert Widdop; tengah (ki-ka) Dr Mark Del Borgo, Associate Professor Fasseli Coulibaly; dan bawah (ki-ka) Professor Jose Polo dan Professor Mibel Aguilar (monash.edu).
Tim riset Covid-19 BDI dan Monash University. Atas (ki-ka) Dr Kylie Wagstaff, Professor Robert Widdop; tengah (ki-ka) Dr Mark Del Borgo, Associate Professor Fasseli Coulibaly; dan bawah (ki-ka) Professor Jose Polo dan Professor Mibel Aguilar (monash.edu).
Soal mengapa peneliti punya ide itu, dasarnya adalah kandungan aktif obat diketahui dapat melawan virus HIV, dengue (demam berdarah), Zika, dan influenza secara in-vitro. Maksud in-vitro adalah perlakuan  yang diberikan baru sebatas percobaan laboratorium, belum langsung digunakan pada makhluk hidup (in-vivo).

Riset yang dilakukan bersama Doherty Institute itu menemukan bahwa dosis tunggal Ivermectin mampu melawan RNA virus dalam waktu 2 hari saja. Bahkan dalam 24 jam pertama saja obat tersebut sudah menunjukkan hasil nyata. Menurut Dr Kylie Wagstaff adalah realistis jika obat murah yang secara luas digunakan secara aman (sebagai anti-parasit) dapat menjadi pilihan saat vaksin belum tersedia.

Dr Kylie Wagstaff, BDI Monash University:

"We found that even a single dose could essentially remove all viral RNA by 48 hours and that even at 24 hours there was a really significant reduction in it." 

Pada waktu itu belum diketahui bagaimana mekanisme kerjanya dalam membantu sel inang melawan virus pendatang. Yang pasti, secara perizinan obat tersebut oleh FDA Amerika Serikat sendiri sudah ada yaitu sebagai obat antiparasit.

Digunakan di 16 negara

Meskipun baru sebatas uji lab tetapi kabar efektivitas Ivermectin segera meluas di tengah kelangkaan obat dan vaksin. Negara-negara miskin dan ekonomi menengah melihat peluang murah untuk membiayai perang melawan pandemi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x