Esdi A
Esdi A Pekerja

"Write Like Nobody Will Rate You!"

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Mengancam Jokowi, Bahar bin Smith Harus Baca Berita Ini

15 Maret 2019   14:54 Diperbarui: 15 Maret 2019   15:41 2100 2 1
Mengancam Jokowi, Bahar bin Smith Harus Baca Berita Ini
Bahar bin Smith ditahan di Polda Jabar (medan.tribunnews.com).

Semua orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri, baik di dunia terlebih di akhirat. Apabila di dunia masih bisa lolos, maka di akhirat tidak mungkin lewat.

Bahar bin Smith diadili karena kasus penganiayaan dan entah kenapa pada saat selesai persidangan kemarin tiba-tiba ia mengancam Jokowi.

Dalam prasangka dirinya, Jokowi bertanggung jawab atas penderitaan yang dialaminya. 

Padahal, urusan Bahar dengan hukum adalah ranah yudikatif, penculikan dan penganiayaan anak di bawah umur; Jokowi sebagai presiden memegang urusan eksekutif. Artinya beda gerbong dan beda kereta.

Berita terbaru yang menggemparkan kita adalah tertangkapnya Romahurmuzy  dalam Operasi Tangkap Tangan KPK. Hal ini bisa menjadi contoh yang baik yang perlu dibaca Bahar tentang bagaimana Jokowi memisahkan wewenangnya sebagai pimpinan tertinggi lembaga eksekutif.

Romy sebagai Ketum PPP adalah bagian dari kubu Jokowi-Ma'ruf, dan sebelumnya sudah cukup dekat dengan Presiden Jokowi. Bisa kita lihat rekam jejaknya di media.

Sebagai anggota Tim Kampanye Nasional dalam Pilpres 2019, logis jika Jokowi berusaha menyelamatkan Romy agar tidak muncul ke publik karena hal itu tidak bagus untuk elektabilitasnya.

Akan tetapi, meskipun Romy dekat dengan presiden tidak berarti ia kebal hukum, dan Jokowi pun tidak bisa mencampuri urusan pribadi Romy. Kamu berbuat, kamu sendiri yang harus bertanggung jawab; begitu kode berada di lingkaran Jokowi.

Apakah Romy kemudian terbukti bersalah atau tidak, nanti pengadilan yang membuktikan. Tidak perlu membawa massa dan tidak perlu menuding kubu lawan dalam penyelenggaraan pilpres.

Berbeda dengan Bahar, sepertinya Romy tidak akan menyeret nama Prabowo sebagaimana Bahar menuduh Jokowi sebagai pihak yang berada di balik nasib buruknya.

Contoh kasus yang baik sebelumnya, Ketum Golkar  Setya Novanto, juga berurusan dengan KPK dan sekarang sudah masuk sel di Sukamiskin.

Manuver Golkar  merapat ke petahana membuat penulis berburuk sangka bahwa Setya Novanto sedang mencari perlindungan dari kasus-kasus hukum yang berkaitan dengan dirinya. Toh akhirnya kecurigaan penulis tidak terbukti, Setnov ternyata tidak aman di samping Jokowi.

Begitu pun Idrus Marham, petinggi Golkar yang lain yang tersangkut kasus korupsi di PLTU Riau-1.

Mantan Sekjen Golkar dan bahkan menjadi menteri di Kabinet Kerja tidak luput dari cengkeraman hukum atas perbuatannya merugikan uang negara. Idrus Marham menyusul  Setnov, merasakan dinginnya lantai penjara.

Ada cukup banyak fakta bahwa Jokowi menghindari campur tangan pribadi termasuk keluarganya dengan tugas sebagai kepala negara. Fokus mantan Gubernur DKI ini adalah kerja, tidak ingin tersandera oleh urusan-urusan yang tidak penting.

Jika di tahanan ada komputer online, barangkali Bahar bisa pinjam untuk browsing rekam jejak Jokowi dan masalah ketatanegaraan. Belajar dan memperluas wawasan baik buat pencerahan dirinya agar tidak sesat pikir berujung kebencian.

Seperti saran yang sudah dikatakan Moeldoko: "Perlu belajar lagi Smith itu...!"

***