Agung Pratama
Agung Pratama Mahasiswa

20 tahun, mahasiswa konsentrasi Public Relation, Pogram Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Penikmat sosmed, dan wartawan muda.

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Pilpres 2019 dan Propaganda Media

4 April 2019   12:27 Diperbarui: 4 April 2019   12:40 252 0 0
Pilpres 2019 dan Propaganda Media
Ilustrasi: Swararakyat.com

Serangan verbal yang terjadi antara dua kubu pendukung kedua paslon masih menjadi polemik yang hangat di media online ataupun pada saat kampanye terbuka, namun yang menarik pada pembahasan saya kali ini bukan hanya soal pengguna sosial media dan individu dari kubu-kubu tersebut, melainkan media massanya sendiri, dengan sebutan lainnya si "Penggiring Opini Publik".

Sosial media menjadi sasaran empuk bagi instansi pemberitaan dalam menjalankan cyber campaign yang tentunya sangat masif bagi masyarakat. Media massa tidak lagi menjadi suatu Organisasi yang netral, seperti yang tertera pada Kode Etik Jurnalistik Pasal 1 yang berbunyi :

Pasal 1

Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Penafsiran

  1. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.
  2. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
  3. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
  4. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Hal ini memperkuat anggapan Gunther dan Schmitt (2004) dalam Handbook Ilmu Komunikasi Bab Efek Media massa yang berbunyi "individu-individu yang menjadi partisan pada suatu isu cenderung merasakan liputan berita itu berpihak sehingga bersikap memusuhi (atau setidaknya tidak bersimpati) dengan posisi mereka", berikut salah satu contoh publikasi salah satu media pers :

(dokpri)
(dokpri)

beda lagi dengan laman lain yang juga notabenenya terpercaya :

(dokpri)
(dokpri)

(dokpri)
(dokpri)

dengan mengkomparasi opini seperti yang saya kutip di atas, tentu saja ini menimbulkan persepsi "apakah media massa meraup profit dari kampanye media, sehingga terdapat ketimpangan informasi dalam menyebarkan berita?", "apakah media itu memang tidak netral dan mungkin terdapat konspirasi dibaliknya?", "lalu yang mana yang harus masyarakat percaya?" sekumpulan pertanyaan ini mari kita lakukan riset dalam pembuktiannya, dan ingat, kita sebagai individualis idealis bisa menyaring informasi yang layak atau tidak untuk dipercaya.

Hal ini adalah dampak negatif dari perkembangan media massa, semakin banyak media pers yang populer, semakin besar celah untuk menyisipkan pesan-pesan dan informasi provokatif dan disebarluaskan oleh individu yang konotasi hanya menelan mentah-mentahi nformasi tanpa membuktikan kebenarannya.

Marilah kita menjadi pengguna sosial media yang tidak gampang terprovokasi, Salam Komunikasi !

Semoga Bermanfaat.

Referensi:
kompas.com
Charles E. Berger dkk. 2014. Handbook Ilmu Komunikasi. Bandung : Nusa Media.