Mohon tunggu...
Agung MSG
Agung MSG Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis - Trainer - Coach

Hidup untuk berbagi dan berkarya mulia @agungmsg #haiedumain

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Baca Riset Ini dan Temukan Arti Sebuah Pekerjaan

27 November 2022   07:07 Diperbarui: 27 November 2022   07:06 359
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto : pixabay/@dominickide

Era disrupsi itu seperti ledakang gunung berapi. Dampaknya dahsyat, dan semua seperti dibarukan kembali. Sebuah ekosistem baru yang menuntut semua serba baru dan jauh berbeda dengan ekosistem lama. Disrupi teknologi, pandemi, perbedaan antar generasi dan digitalisasi, memaksa kita untuk sejenak berhenti. Menyapa hati, menimbang rasa, berintrospeksi : sudah benarkah kita memaknai arti pekerjaan di era penuh desruptif ini ?

Arti sebuah pekerjaan, bagi setiap orang tentu saja berbeda. Ada yang diartikan sebuah aktivitas untuk mendapatkan uang atau penghasilan sebagai mata pencaharian atau pokok kehidupan. Dengan bahasa lain, ada orang yang bekerja yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan diri, keluarga, hingga lingkungan sekitarnya. Namun, ada juga yang menginginkan agar ia mendapat status sosial di masyarakat yang lebih baik.

Disisi lain, ada juga yang memaknai lebih sederhana, yaitu punya isian waktu yang produktif dan bisa berkontribusi lebih baik dan lebih luas kepada masyarakat. Bila kita perluas, maka pemberian makna itu sendiri bisa beragam antara satu orang dengan orang lainnya. Ada yang karena jabatan dan prospek karirnya bagus, ada pula yang berfokus pada apa yang dilakukan pada kegiatan sehari-hari. Makna yang lain, ada yang disematkan pada pentingnya kerja dan soliditas team, core values yang diusung organisasi, pengakuan pada keahlian dan loyalitas, hingga sektor aktivitas industri yang digeluti atau produk / jasa yang dijual.

Semua orientasi atau dimensi diatas, menunjukkan kepada kita bahwa pemaknaan pekerjaan adalah sebagai proses permanen dalam upaya diri untuk  menyeimbangkan aspirasi diri dan apa yang ditawarkan oleh perusahaan / institusi.

Apa pun arti dan makna sebuah pekerjaan, kita pasti sepakat bahwa sebuah pekerjaan itu harus bermanfaat, bermakna dan mengubah keadaan. Baik untuk dirinya sendiri agar bisa lebih mandiri dan tidak menjadi beban orang lain, hingga untuk keluarga dan lingkar terkecilnya, dimana ia bisa berada untuk berbagi bagi sesama.

Antara pekerjaan dan profesi tentu saja berbeda. Profesi biasanya ditujukan untuk jenis pekerjaan yang menuntut pendidikan, pengalaman, atau keahlian khusus. Profesi-profesi yang menuntut pendidikan khusus, biasanya mempunyai asosiasi atau ikatan profesi, dan dilindungi dengan kode etik yang melindungi kemurnian profesi itu. Namun, tidak menuntut kemungkinan profesi di jaman sekarang tidak menuntut pendidikan khusus, karena dapat dicari ilmu dan informasinya di dunia maya. Asal punya konsep yang jelas dan ia bisa bangun keahlinya dengan jam terbang yang memadai, maka jadilah ia sebagai sebuah profesi. Seperti content creator, youtuber, influencer, dan lain-lain.

Kemampuan kita dalam memaknai arti pentingnya pekerjaan, tentu akan bermanfaat untuk memberikan proporsi yang tepat antara kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan dan prospek karir dari profesi itu sendiri.

Dari sini pemberian arti dan makna yang tepat inilah, maka kebahagiaan hidup dan produktivitas kerja akan lebih mudah kita dapatkan. Bila tidak, maka tidaklah mengherankan apabila ada orang yang merasa tidak betah dengan pekerjaan dan profesinya. Ada yang minta pindah ke departemen lain, lalu tak lama kemudian dia pun ingin berpindah lagi dengan beragam alasan. Ada pula  yang diri fisiknya di suatu cabang, namun hati dan pikirannya ingin selalu minta dipindahkan ke cabang diluar kota yang ia inginkan. Lebih parah lagi, ada juga yang jadi kutu loncat. Loncat sana, tak betah disini.

Temuan yang menarik justru ditemukan pada hasil riset Deloitte --- sebuah jaringan layanan profesional global --- berfokus pada permasalahan makna di tempat kerja. Hasil riset ini menegaskan bahwa mayoritas karyawan (63%) masih mengharapkan arahan yang jelas dari atasan, manajemen mereka, atau divisi Sumber Daya Manusia (SDM).

Tujukan Pada Tiga Hal Penting Ini !

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun