Mohon tunggu...
Agung Dwi
Agung Dwi Mohon Tunggu... When the night has come

Menulis - Menyunting - Mengunggah.

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Menanti "Chemistry" Jorge Lorenzo dan Ducati

25 Februari 2018   20:04 Diperbarui: 26 Februari 2018   01:04 3133 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menanti "Chemistry" Jorge Lorenzo dan Ducati
Lorenzo selepas memuncaki tes pramusim di Sepang, Malaysia (30/1). Foto: crash.net

Berpindah motor setelah 9 tahun loyal pada satu pabrikan tentu tidak mudah. Begitulah yang dirasakan Jorge Lorenzo. Apalagi, karakter kedua motor dan gaya balap Lorenzo saling berpunggungan. Di tahun kedua, bisakah Lorenzo dan Ducati menemukan kecocokan?

Ketika menandatangani kontrak berdurasi 2 tahun dengan Ducati pertengahan 2016 silam, harapan besar ditumpahkan di pundak Jorge Lorenzo. Apalagi, nilai kontrak Lorenzo dengan Borgo Panigale ini cukup fantastis, 12,5 juta euro per tahun. Namun, wajar juga Lorenzo memenangkan kontrak itu. Dia adalah juara dunia lima kali di balap motor prototipe ini: 2 kali di kelas 250cc dan 3 kali di kelas premier.

Tanpa guyuran dana besar, Jorge pasti pikir ulang. Dan ingat, kala menandatangani kontrak, Ducati sedang puasa gelar juara dunia dan juara grand prix--Ducati baru bisa menempati podium satu di Spielberg, Austria, pada Agustus 2016, sedangkan kontrak ditandatangani Jorge pada pertengahan April 2016.Ditambah lagi, rivalitas dengan Valentino Rossi dalam paddockYamaha kian memanas.

Jorge seperti berjudi dengan karier balapnya, mengingat rentetan hasil kurang memuaskan Ducati pasca-Casey Stoner. Rossi pun sempat merasakan kegetiran ketika menunggangi GP11 dan GP12. 

Namun, ada ambisi besar Lorenzo ketika menyeberang ke pabrikan Italia, yakni memenangi grand prixdan juga juara dunia dengan motor lain. "Ya, itu adalah salah satu motivasi terbesarku," aku Lorenzo, April 2016 silam. Memang tidak banyak pebalap MotoGP yang menjadi juara dunia di dua pabrikan berbeda. Selama era 4-tak, cuma Rossi dan Casey Stoner yang bisa.

Bagi Ducati sendiri, Lorenzo dinilai tepat. Pertama, Ducati punya kelemahan saat melahap tikungan, terutama di tikungan cepat nan panjang yang membutuhkan posisi lean angleyang lama. Dengan pengalaman Lorenzo di Yamaha selama 9 tahun dan kecepatan Lorenzo di mid-corner,pengembangan motor Ducati akan makin sempurna. Masukan Lorenzo akan sangat berharga untuk menciptakan tunggangan yang mudah dikendarai di tikungan cepat, seperti Phillip Island, Australia.

Kedua, Ducati butuh sosok juara dunia. Ini untuk meningkatkan motivasi seluruh awak Borgo Panigale yang dipimpin oleh Gigi Dall'Igna. Bagi tim yang sudah lama tak meraih posisi pertama, kehadiran sosok juara dunia akan melipatgandakan kinerja engineerdi Bologna dan kru di paddock.Rekan setim pun juga akan terpacu untuk meningkatkan performa.

Ketiga, kehadiran Jorge ini akan menarik minat sponsor ke Ducati. Selain nama besar Stoner yang lebih dulu dijadikan brand ambassadordan test rider,rekam jejak Jorge bakal memudahkan pengembangan brand Ducati secara global. Ingat, Jorge punya fan baseyang besar setelah Rossi dan Marc Marquez.

Masa Orientasi

Tahun pertama (2017) di Ducati, prestasi Jorge bisa dibilang tak terlalu mengilap. Ia hanya bisa mencatat 3 podium: podium 3 di Jerez (Spanyol), 3 di Aragon (Spanyol), dan 2 di Sepang (Malaysia). Total ia mengoleksi 137 poin dan duduk di peringkat ke-7 (prestasi terburuk sepanjang berkarier di kelas MotoGP). Jauh dari harapan memang. Apalagi, bila dibandingkan prestasi teammateAndrea Dovizioso. DesmoDovi secara mengejutkan mampu menjadi pesaing utama Marquez hingga seri terakhir. Dovi memenangi 6 balapan sepanjang 2017 dengan total 261 poin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN