Agung Baskoro
Agung Baskoro Analis Politik Poltracking

Analis Politik Poltracking Indonesia | Tanoto Foundation Scholar | Next Leader Award Versi Universitas Paramadina-Metro TV 2009 | Buku Status Update For The Best Student (Gramedia Pustaka Utama, 2012) | Juventini | Contact : agungbaskoro86@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Muda

Mencetak Pahlawan "Millennial"

10 November 2017   10:52 Diperbarui: 10 November 2017   11:47 599 0 0

Sebaik-baik kemajuan membuat sebuah bangsa semakin kuat jati dirinya dan sebaik-baik masyarakat sebuah bangsa, adalah mereka yang bangga dengan negerinya.

Inspirasi perjuangan para pahlawan di masa lalu perlu senantiasa dihidupkan sehari-hari oleh semua pihak, agar aktivitas yang sedang dijalani dapat memberikan makna, dampak, dan bukan sebatas siklus kegiatan harian. Artinya kita paham apa yang sedang dilakukan dan dalam konteks 10 November ini, sudah seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk mengukur kemampuan kita sebagai manusia Indonesia dalam menghasilkan pemikiran dan karya terbaik bagi kemajuan bangsa. Di titik inilah, perayaan hari pahlawan harus didorong agar tak hanya berdimensi sejarah (baca : masa lalu) tapi, menghantarkan kita kepada masa depan yang kelak mampu memastikan diri ini sebagai pahlawan atau generasi kita berikutnya menjadi pahlawan.

Pahlawan dalam narasi ini bukan lagi sebatas hanya bermanfaat bagi diri dan keluarga saja, karena di masa lalu terminologi ini sudah usang. Pahlawan yang sedang ingin kita bahas sekarang harus mampu lebih berperan atau paling tidak sama dengan keberanian, dedikasi, dan pengorbanan yang telah diberikan oleh para pendahulu kita yang dengan susah payah merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.

Bila di masa lalu tantangan terbesar kita adalah mengusir penjajah, maka di masa sekarang wujud itu telah berubah menjadi masalah korupsi, kesejahteraan, dan keindonesiaan, sebagaimana telah disampaikan dalam tulisan saya beberapa waktu lalu di Kompasiana (28/10), berjudul "Pekerjaan Besar para Pemuda Generasi Milenial". 

Di titik inilah ada tiga kriteria milineal yang diharapkan dapat menjadi pahlawan. Pertama, visioner,  menjadi seorang visioner sederhananya adalah mereka bercita-cita bukan hanya untuk dirinya, namun mimpinya mampu menghidupi dan menggerakkan orang-orang lainnya. Hal ini berangkat dari (1) kesadaran penuh untuk memahami kualitas dirinya dan zaman di mana ia hidup, kemudian (2) mencoba menyelesaikan masalah yang ia dan orang-orang sedang hadapi, dan berikutnya (3) menghasilkan solusi agar masalah tersebut bisa segera teratasi.

Pengaruh nama-nama seperti Steve Jobs, Bill Gates, Jack Ma, Ellon Musk, dan sederet nama besar inovator lainnya bersanding dengan heroiknya perjuangan Bung Tomo, Sudirman, Sukarno, Hatta, dan nama pahlawan lainnya sebagai referensi pengetahuannya. Hasilnya, ia mampu menerjemahkan masukan ini dengan baik, lewat karya monumental bagi rakyat Indonesia saat ini. 

Kehadiran karya milineal seperti kitabisa.com, bukalapak.com, gojek, e-fishery, ruangguru, dll, adalah bukti mereka mampu merespon perkembangan mutakhir sekaligus menjawab tugas peradabannya. Kesuksesan ini tentu kabar baik sekaligus mengkonfirmasi fakta bahwa kualitas sumber daya manusia kita unggul. Pada bagian lain, kesuksesan mereka diharapkan dapat menggerakan generasi milineal lainnya untuk berlomba-lomba menghadirkan pemikiran dan karya hebat lainnya agar kesejahteraan masyarakat Indonesia semakin merata.

Kedua, integritas. Saat sekarang ini, kejujuran adalah barang mahal. Orang-orang yang jujur semakin langka. Mereka yang mampu menjadikan moral sebagai panglima hidupnya adalah figur yang sangat diharapkan dapat menjadi lokomotif perubahan bangsa. Karena korupsi dan sengkarut masalah pelik yang menjerat bangsa kita saat ini, hanya bisa diselesaikan oleh sosok milineal yang tak punya beban masa lalu dan tidak membebani masa depan dengan rekam-jejak bermasalah yang ia miliki. 

Generasi milineal pada tahap ini dituntut agar dapat menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat merusak kredibilitas. Menjaga nama baik memang bukan pekerjaan yang mudah, karena ada banyak nama yang dulunya diharapkan menjadi seorang bintang, akhirnya terjerembab akibat sebuah skandal. Kita tak ingin pelajaran pahit ini terulang kembali dan menunda harapan kita sedetik pun untuk merengkuh kejayaan.

Ketiga, terbuka. Di era keterbukaan seperti sekarang, setiap individu harus mampu beradaptasi dalam situasi apapun dan berkolaborasi dengan siapapun. Problem latarbelakang bukan lagi halangan, karena semua bergerak atas kesadaran dan mimpi bersama untuk lebih baik. 

Pada bagian lain, basis kerterbukaan ini bisa terlaksana karena visi dan integritas telah melengkapi sebelumnya, sehingga ada kepercayaan (trust)antara satu dengan yang lain. Memelihara atau merawat kepercayaan ini, menghendaki perlunya sikap saling membantu (baca: gotong-royong) diutamakan, karena tidak selamanya kerjasama yang dilakukan berujung pada keuntungan. Gotong-royong sebagai nilai-nilai luhur ini perlu dijadikan acuan, agar persaudaraan antar sesama anak bangsa terjalin kuat menembus batas-batas ruang, waktu, identitas, dan materi.

Ketiga kriteria pahlawan milineal di atas diharapkan dapat meminimalkan ekses dari kemajuan teknologi informasi yang tanpa sadar mulai menggerogoti nilai, etika, maupun norma yang selama ini menjadi panduan masyarakat kita dalam berinteraksi. Seringkali ada kesenjangan atau kesalapahaman yang terjadi antar generasi dalam memahami atau merespon sebuah situasi. Misal, bagaimana menempatkan relasi yang tepat antara orangtua dengan anak, murid dengan guru atau mahasiswa dengan dosen, pelanggan dengan pemilik usaha, pemimpin dengan yang dipimpin dan lainnya. Hal lainnya, karena semua serba cepat, penghargaan terhadap proses menjadi minimalis. Padahal kemerdekaan yang sekarang diraih atau teknologi yang sekarang dinikmati adalah hasil ratusan tahun usaha para pahlawan dan ribuan kali percobaan yang gagal.

Ujungnya, pahlawan milineal yang hidup di negara bernama Indonesia, harus siap merawat dan menghargai nilai-nilai keindonesian sebagai filter terhadap perubahan yang terjadi. Nilai-nilai keindonesiaan ini bukan sebatas ikatan kewarganegaraan, namun, di dalamnya hadir standar moral, budaya, sejarah, dan kemajuan bangsa sebagai perekat persatuan dan kesatuan antar anak bangsa.