Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Ordinary People

Kompasianer of The Year 2019 | Nomine Best in Spesific Interest Kompasianival' 19 | Admin Ketapels | IG agunghan_ | agungatv@gmail.com |

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pelaut Ulung Tidak Lahir dari Ombak yang Tenang, Pun Ayah!

15 Maret 2021   07:27 Diperbarui: 15 Maret 2021   09:38 452 10 2 Mohon Tunggu...

Singguh saya terkesan kalimat "Pelaut Ulung Tidak Lahir dari Ombak yang Tenang". Menyimak dan merasai makna kalimat ini, seperti mengalirkan semangat dan energi baru ke sanubari.  Saya merasa didorong agar menyediakan diri, bersanding dengan kerasnya tantangan dan ujian kehidupan.

Saya sendiri mengartikan kalimat di atas,  bahwa tidak ada ketangguhan yang diraih tanpa proses yang tertatih dibaliknya. Seandainya saja si pelaut, memilih melaut disaat ombak  tenang dan cuaca cerah bersahabat. Besar kemungkinan dia menjadi pelaut biasa-biasa saja.

Pelaut yang enggan menghadang ombak mungkin fisiknya ringkih, terkena angin sedikit saja langsung mabuk laut, bertemu riak besar sebentar kepalanya pusing mudah masuk angin dan seterusnya.

Jika hal demikian berkelanjutan, niscaya ikan dijaring dan dibawa pulang tidaklah banyak. Tak ada ketangguhan tak ada tekad kuat di dada si pelaut, sebab tiada proses penuh greget dilewati akibat enggan mengambil resiko.

Kompasianer, mungkin pernah membaca Tetralogi Laskar Pelangi, terutama pada sekuel keempat berjudul Maryamah Karpov. Ada bagian dari buku ini, mengisahkan perjuangan Ikal menemukan A Ling -- sepulang kuliah di Sorbon.

Pemuda sederhana bermental baja ini, bertekad berlayar ke Pulau Batuan tempat bersarangnya lanun kejam pimpinan Tambok.

Satu bagian cukup epic (dan saya sukai), ketika Ikal menyiapkan perahu dengan bantuan sahabatnya Lintang yang ahli fisika. Tak ayal cemoohan datang dari warga, tetapi tak menyurutkan semangatnya --  ujian mental dihadapi Ikal di bagian ini.

Kemudian perjalanan ke Pulau tujuan tak kalah seru, menghadapi ombak besar dan angin kencang -- kuatnya fisiknya menjadi hal penting di bagian ini. Dengan menemui situasi demikian, intuisi Ikal dalam berlayar terbentuk dan terbukti dia sanggup menaklukkan samudra.

Akhirnya A Ling bisa dijumpai, gadis pujaan yang ditaksir sejak di bangku Sekolah Dasar ( di buku pertama- Laskar Pelangi). Meskipun endingnya berujung menyedikan, yaitu tak mendapat restu orangtua si gadis-- ujian batin dialami sang tokoh. Ikal benar-benar diombang-ambing ombak kehidupan.

Pelaut Ulung Tidak Lahir dari Ombak yang Tenang, Pun Ayah !

Kisah samudra dengan ombak dan badainya, sangat relevan dengan samudra kehidupan dalam arti sebenarnya. Bukan hanya pelaut memiliki tantangan hebat, setiap orang dengan profesinya juga berhadapan dengan ombaknya sendiri- sendiri.

Supir angkot, tukang sayur, abang ojek online, penjual keliling, pemulung, tukang parkir, guru, pelatih renang, penulis, seniman, supervisior hotel dan restoran, pelaku UMKM, tenaga pemasaran, dan seterusnya dan seterusnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN