Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Ordinary People

One of Fruitaholic of The Year 2017/2018 | Danone Blogger Academy 2017 | 2nd Wing's Journalist Award 2016 | Twitter @_agunghan | IG @agunghan_ | FB; Agung Han Email | agungatv@gmail.com blog www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jangan Sepelekan Utang dengan Saudara!

16 Juni 2019   07:16 Diperbarui: 20 Juni 2019   03:26 0 1 0 Mohon Tunggu...
Jangan Sepelekan Utang dengan Saudara!
ilustrasi-dokpri

Di balik suka cita mudik,  biasanya  ada saja cerita terjadi di kampung halaman. Dalam satu keluarga inti,  biasanya saudara tertua yang dijadikan sesepuh,  menjadi jujugan para sanak kerabat dan keturunan yang lebih muda.
Ibu saya, sulung dengan tujuh adik (2 sudah meninggal), anaknya sendiri 6 -- saya bungsunya--,  kemudian ada juga anak dari adik-adiknya, para cucu dan buyutnya. Dari garis (alm) ayah, mereka yang terhitung lebih muda juga pada berkunjung. 

Pada hari lebaran kedua, rumah benar-benar ramai,  menjadi tempat berkumpul keluarga besar. Kalau dihitung bisa mencapai jumlah ratusan, untungnya saudara tidak datang pada waktu bersamaan, kalau barengan bisa bisa rumah tidak muat untuk menampung sekian banyak orang. 

Sementara di kampung,  ibu juga menjadi orang disepuhkan, para tetangga (jauh/dekat) datang bergantian berkunjung ke rumah. Dari pagi sampai jelang malam,  tamu keluar masuk rumah. Biasanya datang berkelompok, baik satu keluarga atau satu group anak anak muda.

Seperti pada umumnya orang kampung,  di rumah ibu menyediakan aneka jajanan kampung (rengginang,  likak likuk,  jadah,  jenang, bolu kampung, kembang goyang dsb). Tamu yang datang atau (biasanya) keluarga lebih muda,  datang dengan membawa bingkisan,  pulangnya akan diganti jajanan bungkusan.

Saya tidak luput mengikuti tradisi,  membawa serta bingkisan,  satu tas berisi minyak, kue,  gula, teh,  kopi atau barang keperluan lain dipersiapkan dari rumah.  

Agar orangtua didatangi terhibur dan senang, kemudian doa pengharapan dipersembahkan saat sungkeman . Kepulangan kami,  biasanya akan dibawakan beberapa jajan dan anak anak mendapat sangu.

Tradisi saling memberi,  menurut saya harus dipertahankan,  membuat jalinan persaudaraan semakin kuat dan erat. Kami anak cucu,  selalu menyempatkan datang,  sebagai tanda berbakti dan menghormati para sesepuh.

dokpri
dokpri
"Bagaimana kabarnya,  mas/mbak X pulang nggak?
Obrolan ke sana kemari menjadi hal lumrah, bertukar kabar berbagi cerita,  memenuhi sepanjang persuaan di hari kemenangan. 

Bagi saudara dekat, bisa ngobrol lebih lama dan panjang waktu berkumpulnya, karena kami bisa menginap bersama di rumah orangtua atau kerabat dekat.  Sedang dengan saudara jauh, lazimnya hanya ketemu dan ngobrol sekedarnya.

Dari sekian banyak saudara,  ada saja terselip satu dua cerita tak mengenakkan. Bisa berupa kasak kusuk saja,  atau silang sengketa antar saudara. Sungguh disayangkan memang,  tapi begitulah kenyataan yang terjadi.  Meski saudara sekandung,  jalan hidup ditempuh berbeda, jalan pikiran juga tidak sama,  membawa nasib sendiri sendiri.

"Mas/mbak X, pulang nggak? "

"Enggak,  kabarnya mudik bulan depan"
Lalu terbetik kabar, alasan dibalik ketidak pulangan saudara ini.

------

Kompasianer,  mungkin pernah mendapati kasus (atau pernah berhadapan dengan)  orang yang berutang tapi susah membayar. Sampai (kita)  orang yang berpiutang, malas nagih karena saking susahnya. Sementara yang punya utang,  ngeles kesana kemari atau pura-pura lupa,  menganggap yang diutangi merelakan uangnya tidak dibayar.

Utang tetaplah utang, semua yang dipinjam (sesuai akad di awal)  musti dikembalikan. Tidak ada alasan atau pembenaran,  bagi orang yang tidak punya niat untuk mengembalikan utang. (meskipun saudara sendiri)

Utang dengan orang lain,  berakibat pada hilangnya kepercayaan dan turunnya kredibilitas si pengutang. Utang kepada saudara,  lebih lebih lagi,  selain hilang kepercayaan dan turun kredibilitas,  akan berdampak pada renggangnya jalinan persaudaraan. 

Dampak utang ke orang lain memang tidak bagus apalagi utang ke saudara, berpotensi menyebar ke saudara lain, menimbulkan stigma tidak baik pada si pengutang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3