Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Learning People

Menulislah & biarlah tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya... (Buya Hamka) Follow me : Twitter @sapadunia2 ; IG @agunghan_ , FB; Agung Han Email ; agungatv@gmail.com Tulisan lain ada di www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Sehatdangaya Artikel Utama

Dampak Positif Ini Bisa Dirasakan, Jika Anda Menjalankan Puasa dengan Benar!

10 Juni 2019   06:02 Diperbarui: 10 Juni 2019   10:34 0 7 0 Mohon Tunggu...
Dampak Positif Ini Bisa Dirasakan, Jika Anda Menjalankan Puasa dengan Benar!
Ilustrasi: Shutterstock

Assalamualaikum Kompasianer, euforia dan riuh mudik rasanya masih lekat di benak, suasana lebaran belum sepenuhnya pergi. Ramadan baru beberapa hari pergi, bulan suci sebagai jalan kita menggapai kemenangan hakiki. 

Di meja tamu keluarga masih belum habis aneka kue lebaran, kantong anak-anak masih tebal, baru saja angpao dihitung, sembari berencana membeli ini dan itu (biasanya) barang kesayangan.

Arus balik dari mudik baru saja selesai, di timeline medsos tampak melalui status dan gambar, beberapa teman justru baru berangkat mudik (termasuk saya dan keluarga, yang mudik seminggu setelah lebaran). 

Selain memanfaatkan sisa hari libur masih ada, bagi pekerja freelance (memilih mudik telat, salah satunya) untuk menyiasati harga tiket supaya kembali normal.

Tapi lebaran memang belum sepenuhnya selesai, kalau di kampung halaman saya, ada lebaran kedua yang dinamakan lebaran ketupat atau lebaran syawal atau syawalan. Dirayakan pada hari ke tujuh setelah idul fitri, dihitung setelah puasa enam hari setelah puasa syawal (dimulai tanggal 2 syawal).

Lebaran syawal atau syawalan memang tak seheboh Idulfitri, tetapi warga di kampung tetap memasak ketupat meski tidak atau belum puasa syawal. Karena enam hari puasa syawal, bisa dikerjakan bertahap (dicicil) yang penting masih di bulan syawal.

suasana mudik di rest area- Dokumentasi pribadi
suasana mudik di rest area- Dokumentasi pribadi

-------

Puasa Ramadan tahun ini, dari awal saya bertekad mengulang sukses Ramadan tahun lalu, yaitu ingin membuang lemak (yang mulai) berlebih. Maka saya relatif ketat, memperhatikan asupan saat berbuka dan sahur. 

Masuk waktu berbuka dan sahur, sebelum masuk makanan apapun, saya awali dengan minum air putih hangat-hangat kuku (ingat jangan terlalu panas).

Subhanalloh, saat menulis artikel ini, saya masih bisa mengingat dan merasakan bagaimana nyamannya lambung yang kosong ketika disiram air putih hangat ini, rasanya legaaaa banget -- Kompasianer musti coba.

ilustrasi-Dokumentasi pribadi
ilustrasi-Dokumentasi pribadi

Setelah air putih hangat, saya makan ubi ungu rebus yang saya masak sekira jam lima kurang sedikit dan matang empatpuluh menitan. Beberapa menit menunggu bedug maghrib, ubi ungu sudah matang dan dibelah dua.

Heeem, asap dari ubi ungu yang matang mengepul, bau wanginya keluar menyebar ke udara, sungguh enak ketika aroma menusuk indera penciuman. Ubi ungu rebus ini cukup nendang untuk mengawali berbuka, cukup makan separuh saja lambung rasanya penuh, kemudian saya minum air putih hangat lagi.

Nah, sembari memberi jeda untuk pencernaan menyesuaikan diri, saya tinggal dulu makanan dan menunaikan sholat maghrib (kebetulan rumah saya tidak jauh dari masjid). Suasana sholat di masjid begitu semarak, ketemu anak-anak, remaja atau jamaah yang sedang berbuka di masjid dan biasanya takmir menyediakan buah-buahan. 

Selepas sholat maghrib, sambil pulang saya bisa mengambil buah (kadang jeruk, semangka, salak). Sampai rumah, melanjutkan berbuka dengan ubi rebus dan makan buah.

ilustrasi-Dokumentasi pribadi
ilustrasi-Dokumentasi pribadi

Agar tidak bosan, saya membuat variasi menu berbuka, misalnya keesokan konsumsi telur rebus, mix dengan buah (pisang, jambu, pepaya), kemudian siomay, otak-otak bakar (saya menghindari gorengan).

Meski tidak dipungkiri, namanya manusia tetap punya keinginan motek gorengan (punya anak yang biasanya nggak habis), nasi putih sesendok untuk menghilangkan rasa pengin, tapi ingat jangan kebablasan 

-----

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3