Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Wiraswasta

Menulislah & biarlah tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya... (Buya Hamka) Follow me : Twitter/ IG @agunghan_ , FB; Agung Han Email ; agungatv@gmail.com Tulisan lain ada di www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Maaf Ibu, Bukannya Aku Tidak Mau Mudik!

23 Mei 2019   14:10 Diperbarui: 23 Mei 2019   14:44 0 10 6 Mohon Tunggu...
Maaf Ibu, Bukannya Aku Tidak Mau Mudik!
ilustrasi-dokpri

"Hanafi, lebaran tahun ini, kamu mudik to?" terdengar pertanyaan dari ujung telepon "Han, denger ibu ngomong kan, kok diem wae"

Apa paling diharapkan perantau di penghujung Ramadan, setelah menjalani puasa demi puasa selama tigapuluh penuh. Kompasianer pasti bisa menebak, adalah pulang ke kampung halaman, bersua orangtua, sanak saudara, kerabat, sahabat dan handai taulan.

Idul Fitri, di Indonesia dimaknai dengan kembali suci atau kembali ke asal, diwujudkan dengan pulang ke tanah kelahiran. Kembali ke kampung halaman, ibarat  menengok muasal kehidupan, menjenguk masa kecil sumber dan muara setiap orang.

Orang yang menjaga puasa dengan baik, mengisi waktu longgar dengan membaca kitab Qur'an, membasahi lisan dengan dzikir, mereka bisa diindikasikan tengah menanti fitri. Namanya juga menanti 'fitri', pasti ada perasaan harap-harap cemas, namun teguh menggenggam seberkas sinar asa.

Tapi tidak dengan Hanafi, lajang duapuluh sembilan tahun, seperti memendam beban susah untuk diungkapkan. Puasa Ramadan berusaha dijalani sebaik-baiknya, taraweh dan sholat malam tak jeda ditegakkan, satu hari satu juz tak lupa ditunaikan dari awal.

Namun, satu hal yaitu tentang keinginan pulang kampung, rasanya susah sekali diungkapkan, entahlah, apakah dirinya termasuk golongan yang menanti fitri atau tidak.

Pahadal segala susah payah beribah dijalani, tentu harapannya bisa membersihkan diri, sungkem di pangkuan orangtua, bermaaf-maafan dengan kawan dan sanak saudara. Kembali Fitri, begitulah indikasi orang yang berhasil puasanya, ditandai dengan sikap sopan dan tutur kata yang enak di pendengaran.

ilustrasi-dokpri
ilustrasi-dokpri
"Piye, mudik lebaran apa enggak?" dari seberang, ibu masih menanti jawaban.

"Kepastiannya minggu depan ya buk," Hanafi, menjawab netral untuk mengakhiri pertanyaan.

Sambungan telepon ditutup, suasana ruangan menjadi lengang bercampur canggung, padahal Hanafi seorang diri di ruangan meeting yang sedang kosong itu.

------

Sebenarnya bukan masalah tidak punya uang untuk membeli tiket, Hanafi adalah marketing dengan kinerja yang bisa diandalkan. Sebagai pekerja keras dan ulet, target penjualan tahunan yang ditetapkan perusahaan kerap dicapai. Beberapa kali dikirim tugas ke luar kota, disediakan fasilitas transportasi pesawat, hotel bintang tiga serta uang saku dihitung harian.

Pernah, Hanafi pagi sebelum adzan subuh, berangkat ke satu kota dan dan pulang malam hari dengan penerbangan terakhir. Hal tersebut, dijalani selama dua minggu berturut-turut.

Alhasil, bonus penjualan diraih cukup besar, tabungan dan deposito semakin berisi. Apalagi sebagai bujangan, Hanafi tidak merokok dan tidak minum minuman keras. Tidak hoby nongkrong di cafe, apalagi bergaya hidup hedon---jauh dari kebiasaan Hanafi.

Sebagai anak yang patuh dan sayang orang tua, Hanafi tidak lupa mengirim uang bulanan untuk orangtua. Kalau rejeki sedang berlebih (mendapat binus), tak segan mengirim tambahan, bisa berupa barang keperluan orangtua di kampung.

ilustrasi-dokpri
ilustrasi-dokpri
Semingu berlalu,

"Hallo, Jadi mudik, to Han?" suara ibu nyelonong tanpa salam, setelah Hanafi mengangkat Telepon.

 "Saya belum bisa jawab" balasnya singkat. -KLIK---sambungan telepon ditutup, .

Rasa galau itu datang, beriringan dengan datangnya bulan Ramadan, empat minggu berpuasa rasanya berlalu begitu cepatnya, bagi orang yang tidak pengin mudik. Ketika teman sekantor cerita, keseruan hunting tiket kereta dan pesawat untuk mudik, Hanafi bergeming dalam bisu. Rencana pulang atau tetap di tanah rantau, seperti dua keputusan yang terjadi tarik ulur.

Lantas alasan apa, yang membuat Hanafi berat hati untuk mudik?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3