Agung Han
Agung Han Wiraswasta

Menulislah & biarlah tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya... (Buya Hamka) Follow me : Twitter/ IG @agunghan_ , FB; Agung Han Email ; agungatv@gmail.com Tulisan lain ada di www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Menafkahi Keluarga dari Ngeblog, Kenapa Tidak!

4 Mei 2019   06:03 Diperbarui: 11 Mei 2019   13:29 1096 40 21
Menafkahi Keluarga dari Ngeblog, Kenapa Tidak!
Sumber: SurFoks.com

"Mas ngeblog saja ya, emang istrinya kerja kantoran?"

Saya pernah (beberapa kali) mendapat pertanyaan semacam itu, dan di dalam intonasi suara yang tertangkap gendang telinga seperti ada yang disimpan di benak penanya.

"Ya, Saya Seniman !" Ujar Dian Sastro mantap

Kompasianers, saya yakin sudah sangat familiar dengan nama Dian Sastro dong, artis seni peran dengan beberapa judul film yang sudah tidak asing. Ketika saya mendatangi sebuah acara peluncuran produk, Dian Sastro hadir sebagai bintang iklan sekaligus bertindak sebagai narasumber.

Pada sebuah sesi talkshow, ada insight keren saya dapatkan dari alumni fakultas Filsafat UI ini, bahwa kita musti bangga dan percaya diri dengan pekerjaan yang kita jalani (pekerjaan yang baik tentunya). Sekarang coba saya mau tanya, siapa menyangsikan kualitas akting perempuan yang biasa disapa "DiSas" ini?

Berkat permainan yang gemilang, beberapa judul film yang memasang namanya sebagai peran utama, berhasil menyabet penghargaan bergengsi. Dian termasuk artis bertalenta yang diperhitungkan, hampir semua judul film dibintangi laris di pasaran dan diterima khalayak luas. Namanya seolah, menjadi jaminan keberhasilan atas peran yang dibawakan.

Menurut pemeran Aruna di film "Aruna dan Lidahnya" ini, kunci yang dia pegang adalah bangga dengan pekerjaan yang dilakoni. Perasaan bangga pada pekerjaan inilah, yang (niscaya) akan memicu rasa percaya diri dan totalitas atau kesungguhan dalam bekerja.

Dian Sasto- dokpri
Dian Sasto- dokpri
Kalau seseorang sudah bersungguh-sungguh, maka dia akan sepenuh hati mengerjakan apa yang sedang dihadapi dan siap dengan segala resiko. Ibarat kata, mau pergi pagi pulang malam, atau musti pindah naik kendaraan umum sambil terkantuk di jalanan tidak peduli, semua ketidakenakan sama sekali tidak mengendorkan semangat. 

Hal ini berlaku untuk semua pekerjaan secara umum, apapun kalau dikerjakan dengan hati riang, maka segala kelelahan dan aneka rupa rintangan tidak akan menyurutkan langkah. 

"Jadi banggalah dan bersungguh-sungguhlah dengan apapun yang kalian kerjakan (sekali lagi pekerjaan yang baik ya)", begitu pesan Dian Sastro, yang saya tangkap sepanjang perbincangan kala itu.

"Ya, saya seniman,"ulang Dian Sastro mantap, seolah menunjukkan kepada kami peserta talkshow, bahwa dia bangga menjalani profesinya sebagai seniman atau pemain film.

wefie bersama DiSas- dokpri
wefie bersama DiSas- dokpri
-------

"Mas ngeblog saja ya, emang istrinya kerja kantoran?"

Saya pernah (beberapa kali) mendapat pertanyaan semacam itu, dan di dalam intonasi suara yang tertangkap gendang telinga seperti ada yang disimpan di benak penanya. Entahlah, apa saya saja yang sedang terlalu perasa atau baper, tapi dalam pertanyaan di atas, seperti ada nada menyangsikan (meski saya pikir ada juga nada merendahkan) dengan pekerjaan ngeblog.

Saya menangkap di kalimat pertanyaan tersebut, terbalut pertanyaan bersayap, sebuah kesan laki-laki yang sudah menjadi suami dan ayah, apa cukup menafkahi keluarga dengan ngeblog saja. Selanjutnya, (masih perasaan saya nih) kepala keluarga yang ngeblog, dimungkinkan "mengandalkan" penghasilan dari pihak istri -- semoga perasaan saya salah, hehehe.

Kali pertama mendapat pertanyaan seperti itu, (jujur, tidak bisa dipungkiri) sempat ada perasaan kesal menyelinap. Tetapi setelah dua tiga kali mendengar pertanyaan sama, akhirnya saya terbiasa dan berdamai, kemudian dengan santai menjawab seperlunya (sebatas apa yang ditanyakan)

"Istri saya ibu rumah tangga," jawab saya tidak terpancing.

Sejak dari awal menikah, (tanpa intervensi saya) memang istri ingin menjadi ibu rumah tangga untuk mengurus anak-anak. Saya semula ragu dengan pilihan ini, bahwa hidup di kota besar dan dari satu sumber pendapatan. Namun, saya meyakini bahwa rejeki tidak tertukar, kami bisa menjalani dan kini setelah anak-anak besar, istri berjualan secara online.

"Oooo" balasnya, seperti ada rasa tidak enak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2