Agung Han
Agung Han wiraswasta

Menulislah & biarlah tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya... (Buya Hamka) Follow me : Twitter/ IG @agunghan_ , FB; Agung Han Email ; agungatv@gmail.com Tulisan lain ada di www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Diet Itu Lebih dari Sekadar Jaga Asupan dan Aktivitas Fisik

11 Oktober 2018   13:27 Diperbarui: 11 Oktober 2018   21:02 2040 5 1
Diet Itu Lebih dari Sekadar Jaga Asupan dan Aktivitas Fisik
(jogja.tribunnews.com)

"Gue itu ya, minum air putih doang sudah jadi daging"

"Eh, kalau sudah umur 40 tahun, susah nurunin berat badan"

"Kalau sudah emak-emak atau bapak-bapak, metabolisme tubuh sudah berbeda, jadinya tubuh gini-gini saja, udah terima saja"

Dua tahun silam, pada awal menjalani diet, komentar di atas kerap saya dengar. Kalimat- kalimat pengendor semangat berseliweran, dari kanan kiri, atau teman di sekitar diri. Beberapa komentar malah to the point, menyatakan diet itu menyiksa diri sendiri -- hadeuh.

illustrasi- koleksi pribadi
illustrasi- koleksi pribadi
"Lu ngapain nyiksa diri dengan diet, enggak bebas makan kesukaan,"

"Kamu itu, pantesnya badan ya segini, kalau dikurusin jelek,"

"Ih, kurus mah kayak orang susah,"

Geming saya dengan kalimat penghambat, apalagi pernah merasakan sakit  akibat obesitas. Pernah saya tulis di artikel terdahulu, digerakkan sedikit saja badan saya kesakitan. Rupanya dalam tubuh gendut saya -- kala itu--, menyimpan aneka penyakit yang membuat tubuh tidak produktif.

Diet bagi saya, bukan sekedar membuang kelebihan lemak di tubuh. Diet bagi saya, bukan sekedar ingin terlihat bagus kalau di foto atau di-publish di instagram atau medsos. 

Tapi ada goal lebih besar, ingin saya capai dengan menjalani diet, yaitu ingin memiliki badan yang 'Sehat.' "Badan Sehat" itu keyword yang saya pegang, sementara urusan tubuh menjadi langsing, saya anggap sebagai bonus. Kemudian, kalau di foto jadi terlihat bagus, pakai baju tidak repot menyembunyikan perut, biarlah itu menjadi akibat dari diet.

Manusia adalah makhluk mulia, dilengkapi dengan akal pikiran sebagai pembeda dengan makhluk lainnya. Apa yang ada di pikiran manusia itulah, menjadi triger terhadap apapun yang hendak dilakukan dan dicapai.

Kerap kali manusia punya seribu satu alasan, membenarkan pilihan sikap --kurang tepat--- yang sudah diambil. Bahkan pilihan sikap tersebut,  (selanjutnya) tak jarang berusaha mengajak kepada orang lain (agar bersikap serupa denganya)

Termasuk dalam hal diet, ada saja teman kurang mendukung.  Kemudian membisikkan kalimat (entah bercanda atau sungguhan) meyakinkan, bahwa menjadi gemuk bukan satu kesalahan---hahaha. Bahwa memiliki badan subur tanda makmur, jadi tidak perlu dikuruskan lagi -- hehehe.

****

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Saya pernah membaca satu buku motivasi, menyatakan bahwa kesuksesan -- dalam hal apapun---adalah sebuah keniscayaan. Bahwa semua manusia, sangat dimungkinkan oleh kehidupan, meraih apa saja yang diimpikan. Bahwa dalam perjalanan -- mewujudkan mimpi---ada tantangan, itu sudah menjadi hukum alam.

Oh ya, Kompasianers yang suka membaca dan atau nonton film, saya yakin kenal novel yang juga difilmkan berjudul Laskar Pelangi. Kisah anak Belitong, orang tuanya bekerja sebagai buruh tambang di pabrik Timah. Keterbatasan tida menghalangi, bermimpi sekolah sampai luar negeri.

Ikal (tokoh utama di novel dan film ini) berusaha sangat keras, untuk menaklukkan hambatan yang dihadapai. Hingga akhirnya berhasil memeluk mimpinya, dengan diterima kuliah di Sorbonne University di Paris Perancis.

Tantangan inilah, yang akan menguji kesungguhan harapan manusia itu sendiri. Apakah impiannya sungguh-sungguh, atau hanya mimpi yang sekedarnya. Kekuatan pikiran yang menjadi kunci, sehingga focus terhadap apa yang ingin dicapai. Dari kekuatan pikiran ini pula, akan mempengaruhi sikap dan ucapan si manusia itu sendiri.

*Back to diet. Bagaimana diet kita bisa berhasil, kalau pikiran ini sudah dipenuhi dengan kalimat negatif seperti di awal artikel di atas. Bahwa ada teman atau orang sekitar -- terkesan---ingin menggagalkan diet kita, biar saja dan tidak masalah -- kalau kita tidak terpancing.

Akan berubah menjadi masalah -- bagi diri sendiri--,  ketika kita menuruti kalimat pengendor semangat tersebut. Sehingga memutuskan berhenti diet, meyakinkan "bahwa menjadi gemuk tidak masalah."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2