Gaya Hidup

Ayo Pantau Keberlanjutan Lahan Ex-Konversi Hutan Gambut (langkah preventif meredam laju deforestasi, melestarikan biodiversitas dan menjaga cadangan karbon)

16 Mei 2018   11:19 Diperbarui: 25 Mei 2018   21:04 983 0 1
Ayo Pantau Keberlanjutan Lahan Ex-Konversi Hutan Gambut (langkah preventif meredam laju deforestasi, melestarikan biodiversitas dan menjaga cadangan karbon)
peat-5b0812cfab12ae60705a5fc4.jpg

Hutan rawa gambut di Borneo (Sumber: Mongabay.com)

Ekosistem yang unik dan kaya manfaat banyak dijumpai di pelosok Nusantara. Salah satunya adalah bentang lahan bernama Gambut tropis atau tropical peatland. Pengelolaan gambut berkelanjutan telah menjadi sorotan dan mendapatkan perhatian khusus dari berbagai pihak. Hal tersebut ditandai dengan diadakannya JAMBORE Masyarakat Gambut pada 28-30 April 2018 di Banjar, Kalimantan Selatan yang melibatkan 265 desa masyarakat gambut di Indonesia. Gambut disinyalir sebagai harta karun terpendam yang mana fungsinya selalu menunjukkan hubungan aksi-reaksi dengan perkembangan tata guna lahan serta pengelolaan lingkungannya, namun disisi lain dapat berubah menjadi bom waktu bagi keberlangsungan kehidupan di dunia.

Mengapa demikian? Simak ulasan tentang keberlanjutan pengelolaan lahan dan hutan gambut, dinamika penggunaan lahan gambut dan polemik pro-kontra yang sedang hangat terjadi antara pengikut paham konservasionisme dan developmentalisme di Indonesia berikut ini.

Apa itu gambut?

peat-intro-5b0815ec5e13736ea06d9a14.png
peat-intro-5b0815ec5e13736ea06d9a14.png

  Tanah gambut (Sumber: Global Landscapes Forum dan Veloo et al))

          Gambut atau histosol merupakan salah satu jenis tanah dengan kemasaman tinggi yang terbentuk dari akumulasi timbunan bahan organik dari pelapukan tanaman, ranting, daun, batang yang tidak terdekomposisi sempurna dan cenderung lambat dengan ketebalan lebih dari 50 cm serta terbentuk dalam kurun waktu ratusan tahun (Pengembangan Inovasi Pertanian, 2008). Tanah gambut bersifat seperti sponge dengan pori lebih banyak dari tanah mineral sehingga memiliki kapasitas menyerap air yang tinggi. Indonesia menduduki urutan keempat dengan luasan lahan gambut terbesar di dunia setelah Kanada (170 juta ha), Uni Soviet (150 juta ha), serta Amerika Serikat (40 juta ha). Namun demikian, faktanya 60% gambut tropis di dunia tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi serta Papua memiliki luasan gambut lebih dari 20 juta hektar dengan masing – masing persentase luasan 35%; 32%; 3%; dan 30% (BB Litbang SDLP, 2008 dalam Agus dan Subiksa, 2008).

Seberapa penting lahan dan hutan gambut?

gambut-696x464-5b080957f133445a481e5882.jpg
gambut-696x464-5b080957f133445a481e5882.jpg
Beragam manfaat gambut belum banyak diketahui oleh masyarakat. Lahan dan hutan gambut memiliki fungsi hidrologis dan ekologis yang bersifat fundamental dan berperan penting sebagai penyangga kehidupan. Fungsi hidrologis seperti sumber air, dan daerah resapan air tanah serta fungsi ekologis sebagai reservoir dan sequester karbon terbesar sekaligus pengendali iklim global dengan kemampuan menyimpan karbon 20 kali lebih banyak dibandingkan tanah mineral dengan total 57 juta ton (Jaenickle et al., 2011), apabila Indonesia terus kehilangan gambut hingga tahun 2050 maka hal tersebut merupakan pemicu bom waktu dari kenaikan suhu global.

Gambut berperan sebagai habitat keanekaragaman hayati, serta sumber pangan dan ekonomi bagi makhluk hidup di sekitarnya, dimana 30% dari lahan gambut berpotensi dalam pengembangan pertanian.

peran-5b0808b1dd0fa85d9b143052.jpg
peran-5b0808b1dd0fa85d9b143052.jpg
Peran Penting Gambut (Sumber: www.firmanupdate.wordpress.com)

Selain itu, meskipun kondisi kemasaman tanah tinggi, keanekaragaman hayati yang tinggi tetap ditemukan pada lahan dan hutan gambut. Hutan gambut merupakan habitat dari berbagai spesies tanaman, hewan dan mikroba endemik yang dapat bertahan hidup di kondisi anaerob dan miskin hara (Yule, 2008). WWF dan LIPI (2007) melaporkan terdapat 808 spesies flora di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan dan 261 jenis flora di Taman Nasional Berbak, Jambi (Giesen, 1991). 

orangutans-fire-main-5b080c51cf01b41ea858e892.jpg
orangutans-fire-main-5b080c51cf01b41ea858e892.jpg
Orangutan sebagai spesies endemik hutan gambut (Sumber: AntaraFoto/Reuters)

Beberapa flora endemik pada hutan gambut memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan menguntungkan masyarakat lokal, seperti tanaman perepat (Combretocarpus rotundatus), bengeris (Kompassia malaccensis), dan jelutung rawa (Dyera costulata). Selain itu, WWF melaporkan, tercatat 34 spesies ikan, 35 spesies mamalia dan 150 spesies burung di hutan gambut. Lima spesies endemik hutan gambut yang dilindungi menurut IUCN Red diantaranya adalah harimau sumatera, beruang madu, langur, orang utan dan buaya sinyulong.

 

Ada apa dengan lahan dan hutan gambut?

gambut-kebakaran-5b080e29caf7db4205445cf2.jpg
gambut-kebakaran-5b080e29caf7db4205445cf2.jpg
Kebakaran Gambut, mimpi buruk bagi dunia (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Luasan lahan produktif bagi pengembangan pertanian yang kian menyusut, disusul populasi penduduk Indonesia yang meningkat pesat dan berbanding lurus dengan kebutuhan pangan serta infrastruktur menyebabkan alih guna lahan gambut marak terjadi. Pada umumnya, lahan dan hutan gambut kebanyakan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit ataupun hutan tanaman industry (HTI). Dari total lahan gambut di Indonesia, 875 ribu ha telah terbakar dan rusak (tidak dapat kembali ke sifat awal karena memiliki sifat hidrofobik) pada tahun 2015, 6,2 juta ha merupakan lahan gambut yang belum terusik, 2,8 juta ha merupakan kawasan kubah berkanal, dan 3,1 juta ha digunakan sebagai lahan budidaya. Miettinen et al (2011) menyatakan Indonesia kehilangan lahan dan hutan gambut 28% lebih rendah dari Malaysia dengan total luasan 2.199 m ha dalam kurun waktu 10 tahun (2000-2010). 

seasia-peat-cover-change-5b080c22bde57506367962d2.jpg
seasia-peat-cover-change-5b080c22bde57506367962d2.jpg
Hilangnya luasan gambut di Indonesia, Malaysia dan Papua Nugini (Sumber: Miettinen et al, 2011 dan Mongabay.com)

Pada umumnya, lahan dan hutan gambut kebanyakan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit ataupun hutan tanaman industry (HTI). Dari total lahan gambut di Indonesia, 875 ribu ha telah terbakar dan rusak (tidak dapat kembali ke sifat awal karena memiliki sifat hidrofobik) pada tahun 2015, 6,2 juta ha merupakan lahan gambut yang belum terusik, 2,8 juta ha merupakan kawasan kubah berkanal, dan 3,1 juta ha digunakan sebagai lahan budidaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3