Sosbud

Upacara Pemakaman Terindah di Dunia

16 September 2018   18:28 Diperbarui: 16 September 2018   18:48 262 0 0

Setiap ada perjumpaan, pasti ada perpisahan. Begitu juga dengan manusia yang lahir, pada akhirnya akan meninggal. Untuk mengenang orang yang telah meninggal dan memberi dukungan terhadap keluarga yang ditinggalkan, maka dilakukanlah upacara pemakaman.

Upacara ini bersifat sakral dan merupakan penanda bahwa manusia adalah makhluk yang beragama dan berbudaya. Pada umumnya, penyelenggaraan upacara pemakaman dilaksanakan menurut agama, tradisi dan adat istiadat yang dianut oleh orang yang telah meninggal tersebut.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak tradisi dalam melakukan upacara pemakaman. Salah satunya ialah Pulau Dewata atau Pulau Bali yang mempunyai sebuah kekhasan upacara pemakaman tersendiri dan merupakan upacara pemakaman terindah di dunia, yang dikenal dengan Upacara Ngaben (Soesandireja, 2015).

Kata Ngaben berasal dari kata api. Dengan kata lain, Upacara Ngaben merupakan upacara pembakaran jenazah atau pengabuan orang Bali (William, 2018). Upacara ini dilakukan oleh umat Hindu-Bali dan tergolong sangat unik karena berbeda dengan upacara lainnya. Keunikan Upacara Ngaben terdapat pada peralatan yang digunakan selama  prosesi upacara, contohnya jenazah yang akan dibakar dalam sebuah patung. 

Patung yang digunakan umumnya berbentuk lembu. Jenazah tak hanya dibakar dalam patung, tetapi juga dibakar dengan bunga dan persembahan lainnya. Prosesi ini membutuhkan waktu yang cukup panjang dan biaya yang cukup besar (150-200 juta rupiah) karena terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan yang rumit (Sita, 2017).

 Menurut Soesandireja (2015), berikut di bawah ini penjelasan mengenai rangkaian Upacara Ngaben, meliputi:

  • Ngulapin. Upacara untuk memanggil roh yang meninggal.
  • Nyiramin/Ngemandusin. Upacara memandikan dan membersihkan jenazah.
  • Ngajum Kajang. Upacara yang ditujukan sebagai kemantapan keluarga yang ditinggalkan, melepas kepergian untuk perjalanannya ke alam selanjutnya.
  • Ngaskara. Upacara penyucian roh.
  • Mameras.Upacara untuk menuntun jalan dan karma baik yang mereka lakukan bagi yang sudah memiliki cucu.
  • Papegatan. Upacara yang bertujuan untuk memutuskan hubungan duniawi yang akan menghalangi perjalan roh.
  • Pakiriman Ngutang. Upacara mengusung jenazah dan semua perlengkapan upacara menuju kuburan.
  • Ngeseng. Upacara pembakaran jenazah.
  • Nganyud. Upacara menghanyutkan abu jenazah ke laut, atau sungai.
  • Makelud. Upacara untuk membersihkan serta menyucikan kembali lingkungan keluarga dari kesedihan setelah ditinggalkan.

Tidak hanya memiliki rangkaian upacara yang unik, tetapi Upacara Ngaben juga memiliki beberapa jenis bentuk upacara (Mutayasaroh, 2015), seperti:

1. Ngaben Sawa Wedana

Sawa Wedana adalah upacara ngaben dengan melibatkan jenazah yang masih utuh (tanpa dikubur terlebih dahulu) . Biasanya upacara ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3-7 hari terhitung dari hari meninggalnya orang tersebut. Sementara pihak keluarga mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara maka jenazah akan diletakkan di balai adat yang ada di masing-masing rumah dengan pemberian ramuan tertentu untuk memperlambat pembusukan jenazah.

Dewasa ini pemberian ramuan sering digantikan dengan penggunaan formalin. Selama jenazah masih ditaruh di balai adat, pihak keluarga masih memperlakukan jenazahnya seperti selayaknya masih hidup, seperti membawakan kopi, memberi makan disamping jenazah, membawakan handuk dan pakaian, dll sebab sebelum diadakan upacara yang disebut Papegatan maka yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan masih berada dilingkungan keluarganya.

2. Ngaben Asti Wedana

Asti Wedana adalah upacara ngaben yang melibatkan kerangka jenazah yang pernah dikubur. Upacara ini disertai dengan upacara ngagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang belulang yang tersisa.

Hal ini dilakukan sesuai tradisi dan aturan desa setempat, misalnya ada upacara tertentu di mana masyarakat desa tidak diperkenankan melaksanakan upacara kematian dan upacara pernikahan maka jenazah akan dikuburkan di kuburan setempat yang disebut dengan upacara Makingsan ring Pertiwi ( Menitipkan di Ibu Pertiwi).

3. Swasta

Swasta adalah upacara ngaben tanpa memperlibatkan jenazah maupun kerangka mayat, hal ini biasanya dilakukan karena beberapa hal, seperti : meninggal di luar negeri atau tempat jauh, jenazah tidak ditemukan, dll. Pada upacara ini jenazah biasanya disimbolkan dengan kayu cendana (pengawak) yang dilukis dan diisi aksara magis sebagai badan kasar dari atma orang yang bersangkutan.

4. Ngelungah

Ngelungah adalah upacara untuk anak yang belum tanggal gigi.

5. Warak Kruron

Warak Kruron adalah upacara untuk bayi yang keguguran.

Pada kesimpulannya, Upacara Ngaben merupakan salah satu upacara terbesar di Pulau Dewata ini. Upacara Ngaben terbentuk dari hasil peleburan ajaran Agama Hindu dengan adat kebudayaan Bali dan biasanya dilakukan dengan semarak serta tidak ada isak tangis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2