Mohon tunggu...
AGIL S HABIB
AGIL S HABIB Mohon Tunggu... Just Me..

Berbisik Dalam Sunyi, Bersuara Dalam Senyap

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Pigai Memang Kritis, tapi Jangan Jadi Sasaran Rasis

26 Januari 2021   10:53 Diperbarui: 26 Januari 2021   18:09 671 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pigai Memang Kritis, tapi Jangan Jadi Sasaran Rasis
Natalius Pigai dan Ambrocius Nababan | Sumber gambar : tribunnews.com

Natalius Pigai bisa dibilang sebagai salah satu sosok yang paling getol mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak lama. Setiap kebijakan yang ditelurkan oleh pemerintah hampir tidak pernah luput dari sasaran sikap kritisnya. 

Mantan Komisioner Komnas HAM itu terakhir kali sempat mengkritik pemerintahan Jokowi yang mewajibkan vaksinasi kepada warganya. 

Menurut Pigai seharusnya pemerintah bisa lebih dekat dengan rakyatnya khususnya selama periode pandemi, melakukan pendekatan humanis, dan tidak ujug-ujug mengeluarkan peraturan pidana sementara landasan undang-undangnya belum jelas. Lebih lanjut beliau mengatakan tidak ingin divaksin menggunakan vaksin Sinovac yang beberapa waktu lalu disuntikkan kepada Presiden Jokowi.

"Rasis bukanlah balasan atas sikap kritis. Bahkan rasisme hendaknya dibumihanguskan dari bumi nusantara agar setiap orang terlihat setara dalam menyampaikan hak-haknya, suaranya, aspirasinya, ataupun kritiknya." 

Namun sepertinya sikap kritis Pigai tersebut tidak membuat senang beberapa orang, salah satunya Ambroncius Nababan. Mantan kader Partai Gerindra tersebut membuat sebuah unggahan di Facebook berisikan gambar Natalius Pigai yang disandingkan dengan gambar gorila. 

Ambrocius mengatakan bahwa unggahan tersebut memang benar dirinya yang melakukan. Hal itu dilandasi oleh perasaan marah dan kesal terhadap Natalius Pigai yang disebutnya kerap kali melayangkan kritik kepada pemerintah menyangkut berbagai isu. 

Menurutnya Pigai sering mengkritik tanpa dasar kepada pemerintah. Tapi yang paling membuat Ambrocius jengah adalah kritik penolakan Pigai untuk menggunakan vaksin Sinovac. Hal itu disebutnya sebagai tindakan provokatif sehingga berpotensi menghambat pelaksanaan program vaksinasi di masyarakat.

Bagaimanapun juga Natalius Pigai memang begitulah adanya. Sikapnya cenderung kritis. Terlepas dari semua yang dikritisinya tersebut semuanya benar atau ada sebagian di antaranya yang kurang tepat. Hanya saja memang seperti itulah sebuah negara demokrasi berjalan. 

Pemerintah tidak bisa adem ayem bekerja tanpa ada pihak-pihak yang berlaku kritis dengan tujuan sebagai penyeimbang. Jika Fahri Hamzah dan Fadli Zon yang terkenal begitu vokal mengkritik pemerintah saja mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra dari Presiden Jokowi, maka mengapa untuk Pigai tidak lantas diberikan apresiasi serupa? 

Kalaupun tidak mendapatkan apresiasi sejenis tapi paling tidak Pigai janganlah diberikan perlakuan rasis semacam itu. Ambrocius Nababan boleh saja kesal, marah, jengah, dan sebagainya kepada Pigai atau mungkin orang lain yang memiliki cara pandang serupa. Begitupun dengan orang-orang yang sepandangan dengan Ambrocius sah-sah saja bersikap serupa. 

Tapi ketidaksesuaian cara pandang bukanlah pelegalan untuk berlaku merendahkan. Rasisme adalah sebuah tindakan tidak etis yang semestinya dijauhi. Ekskalasi yang ditimbulkan sebagai efek rasisme ini bisa sangat buruk bagi keutuhan kita sebagai bangsa yang dituntut bersatu melawan pandemi COVID-19 ini.

Sehingga mau tidak mau Ambrocius Nababan harus lebih dari sekadar meminta maaf. Karena bisa jadi hal itu tidak akan menghapus efek dari unggahan rasis yang ia lakukan. Hal ini semestinya tetap harus diproses hukum agar tindakan serupa tidak diulang oleh orang lain dan agar kita semua bisa lebih menghargai orang lain tanpa semena-mena menjadikannya bahan ejekan rasis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN