Mohon tunggu...
ASH
ASH Mohon Tunggu... Founder Sang Penggagas; Penulis Buku Powerful Life; Seorang Pecinta Literasi; Bisa dihubungi di agilseptiyanhabib@gmail.com

Berbisik Dalam Sunyi, Bersuara Dalam Senyap, dan Mengubah...

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Menyoal Kesiapan Infrastruktur Penunjang Pendidikan Jarak Jauh

7 Juli 2020   15:36 Diperbarui: 17 Juli 2020   09:04 172 19 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyoal Kesiapan Infrastruktur Penunjang Pendidikan Jarak Jauh
Ilustrasi PJJ | Sumber gambar : ppmipakistan.org

Sudah beberapa bulan terakhir ini segenap peserta didik di Indonesia harus menjalani program pendidikannya dari rumah sebagai akibat pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia.

Meskipun sudah memasuki periode tahun ajaran baru, tanda-tanda bahwa prosesi belajar mengajar akan kembali normal masih belum terlihat. Bahkan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan bahwa metode Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) ini akan terus diberlakukan dimasa depan biarpun pandemi sudah usai.

Di satu sisi hal ini cukup positif sebagai upaya penyelarasan dan sinergi dunia pendidikan terhadap perkembangan teknologi saat ini.

Akan tetapi, disisi lain hal itu juga berpotensi memunculkan masalah terkait kualitas tidak maksimal layanan pendidikan sebagai akibat infrastruktur minim dan kurang mendukung. 

Tidak semua pelaksana pendidikan memiliki kemudahan dalam mengakses teknologi. Seperti halnya tidak semua guru memiliki perangkat elektronik memadai untuk mendukung tugasnya mengajar, pun demikian tidak setiap murid memiliki perlengkapan serupa dalam menunjang aktivitas belajarnya.

Terkait PJJ ini saya memiliki pengalaman dari seorang kerabat yang sempat kehilangan kesempatan belajar selama beberapa waktu oleh karena tidak memiliki gawai yang menunjang untuk mengakses materi pelajaran dari sekolahnya.

Gawai lama miliknya rusak, dan ia tidak punya cukup biaya untuk memperbaikinya terlebih untuk membeli yang baru. Ini hanyalah satu contoh sederhana betapa PJJ itu sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur teknologi seperti gawai, kuota, jaringan internet, dan lain sebagainya.

Lebih jauh lagi, gawai yang berkualitas biasa-biasa saja dibandingkan dengan high class tentu menghadirkan efek yang berbeda bagi "pemeran utama" pendidikan yang dalam hal ini adalah guru dan murid.

Begitupun dengan kualitas jaringan yang lelet dibandingkan yang supercepat. Beberapa hal itu akan sangat berpengaruh dalam menentukan proses belajar mengajar yang dilakukan jarak jauh. Menyampaikan materi dengan sinyal buruk pasti akan menghambat pembelajaran.

Demikian juga saat ada keperluan browsing materi pelajaran, performa infrastruktur penunjang yang buruk akan membuat aktivitas belajar mengajar akan lebih banyak menemui kendala.

Tentu sangat tidak adil apabila ada suatu wilayah yang memiliki dukungan infrastruktur memadai sedangkan ada wilayah lain yang sekadar memperoleh sinyal saja susah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x