Mohon tunggu...
ASH
ASH Mohon Tunggu... Founder Sang Penggagas; Penulis Buku Powerful Life; Seorang Pecinta Literasi; Bisa dihubungi di agilseptiyanhabib@gmail.com

Berbisik Dalam Sunyi, Bersuara Dalam Senyap, dan Mengubah...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Orang Tua "Musiman" dan Cara Penyikapannya

22 Juni 2020   13:09 Diperbarui: 22 Juni 2020   13:16 42 11 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Orang Tua "Musiman" dan Cara Penyikapannya
Ilustrasi keluarga | Sumber gambar : mubaadalahnews.com

Menjalani hidup terpisah dengan sang buah hati sangatlah tidak diinginkan oleh kebanyakan orang tua. Namun hal itulah yang seringkali terjadi pada sebagian ayah atau ibu yang mesti terpisah jarak dengan putra-putri tercintanya oleh karena pekerjaan di tanah seberang. Tidak setiap orang tua bisa berkumpul bersama buah hatinya karena mungkin pasangan suami-istri sama-sama bekerja sehingga tidak ada yang menjaga putra-putrinya di rumah. 

Menitipkannya pada pengasuh bukanlah pilihan terbaik bagi sebagian orang mengingat beberapa kekhawatiran terkait kemungkinan buruk yang terjadi. Sehingga opsi terbaik adalah meminta bantuan orang tua dari suami atau istri untuk menjaga cucu-cucunya. Atau paling tidak mereka yang memiliki hubungan kekerabatan langsung memiliki kesempatan untuk lebih dipercaya ketimbang orang lain yang bukan siapa-siapa kita.

Terlepas dari apapun alasan yang mendasari terjadinya hubungan jarak jauh antara orang tua dengan anak-anaknya, dengan intensitas pertemuan yang tidak terjadi setiap saat tentu saja hal itu akan berimbas terhadap kualitas hubungan yang dimiliki. 

Bisa saja tidak terjalin kedekatan ataupun keakraban antara sosok ayah ibu dengan buah hatinya. Bahkan sebagian orang hanya menganggap hubungan orang tua dan anak tak lebih dari sekadar kewajiban memenuhi aspek finansial semata. 

Memberi makan, memfasilitasi pendidikan, atau sekadar membelikan hal-hal yang diinginkan oleh sang anak. Pemahaman seperti itu harus diluruskan. Bahwa ada hubungan yang jauh lebih penting daripada itu. Jalinan psikologis orang tua anak memiliki nilai yang jauh lebih penting ketimbang semuanya. 

Namun, seiring dengan keterpisahan jarak tadi, yang berakibat para orang tua hanya bisa menjumpai buah hatinya seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, bahkan beberapa tahun sekali apakah hal itu masih memungkinkan jalinan psikologis yang baik antar kedua belah pihak? Mungkinkah ikatan batin yang baik akan terjalin diantara orang tua anak meski mereka jarang berinteraksi satu sama lain? Menjadi orang tua "musiman" seharusnya tidak menjadi penghalang bagi kita mengupayakan diri menjadi sosok pengayom terbaik bagi buah hati kita.

Kualitas Pertemuan

Saya pribadi mengalami hubungan jarak jauh dengan putra saya. Saya dan istri bekerja di kota sebelah, dan tidak setiap hari bisa berjumpa sang buah hati. Kebetulan anak saya dirawat oleh orang tua kami. Ingin sebenarnya mereka tinggal bersama kami, hanya saja situasinya belum memungkinkan. 

Mau tidak mau perjuampaan dengan anak baru bisa kami lakukan setidaknya seminggu sekali setiap akhir pekan. Atau pada hari-hari tertentu saat hari libur nasional. Hanya saja biarpun intensitas pertemuan kami kecil, saya mengupayakan agar setiap detik perjumpaan itu memiliki kualitas didalamnya. Komunikasi dengan anak harus tetap dilakukan meski waktu perjumpaan sangat singkat.

Apalagi saat ini hubungan antara orang tua dan anak-anaknya memiliki "ujian" lain dalam bentuk gadget atau smartphone. Saat seorang anak rewel, lebih mudah bagi orang tua untuk memberinya tontonan di smartphone

Anak-anak akan terdiam dari tangisannya dan mulai asyik menyaksikan layar gadget yang diberikan kepadanya. Dan para orang tua pun bisa bersantai tanpa harus diribetkan oleh tingkah polah putra-putrinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN