Mohon tunggu...
ASH
ASH Mohon Tunggu... Founder Sang Penggagas; Penulis Buku Powerful Life; Seorang Pecinta Literasi; Bisa dihubungi di agilseptiyanhabib@gmail.com

Berbisik Dalam Sunyi, Bersuara Dalam Senyap, dan Mengubah...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Banjir Kiriman, Warga Pinggiran yang Dipinggirkan atau Dikorbankan?

20 Mei 2020   07:06 Diperbarui: 20 Mei 2020   06:58 157 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Banjir Kiriman, Warga Pinggiran yang Dipinggirkan atau Dikorbankan?
Banjir akibat hujan deras semata atau karena efek kebijakan? | Sumber gambar : suarabantennews.com

Sejak sekitar 2 tahun terakhir ini saya hampir selalu menyempatkan diri menulis setidaknya satu artikel untuk diterbitkan di laman kompasiana. Hampir setiap hari, kecuali pada saat tanggal merah saya rehat untuk menuangkan tulisan. Namun kemarin (19/05) saya "terpaksa" harus mengabaikan "komitmen" yang sudah saya bangun beberapa tahun terakhir ini. 

Kemarin saya alpha untuk menulis atau mempublikasikan satu "biji" tulisanpun di Kompasiana. Padahal kemarin bukan tanggal merah atau hari libur khusus. Mengapa? Karena kemarin saya harus membereskan rumah yang berantakan akibat terjangan banjir malam sebelumnya (18/05). Hari gini masih banjir? Iya, dan demikianlah kenyataannya.

Sebenarnya lokasi tempat tinggal saya pada tahun-tahun sebelumnya jarang sekali banjir. Bahkan tahun lalu tidak pernah sekalipun luapan air menggenangi rumah warga. Paling banter hanya menggenangi jalan raya sehingga sebatas mengganggu laju kendaraan yang melintas. Kondisi hujan juga tidak jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Beberapa kali hujan lebat, tapi air sungai tidak sampai "menginvasi" kami. Saya pribadi merasa ada yang cukup berbeda dengan kondisi tahun ini. 

Apa gerangan yang membuat sungai di sekitar perumahan kami demikian "sensitif" dan mudah meluapkan airnya? Daya tampung aliran sungai sebenarnya juga tidak berbeda jauh dengan sebelum-sebelumnya. Atau barangkali karena curah hujan yang lebih tinggi? Mungkin. Tapi seharusnya tidak seekstrem itu. Salah satu kemungkinan terbesar adalah adanya banjir kiriman dari wilayah Bogor.

Sebuah kecurigaan mengemuka terkait banjir kiriman yang "porsinya" semakin meningkat dari waktu-waktu terdahulu. Setahu saya, sejumlah besar air dari wilayah Bogor akan didistribusikan melewati sungai-sungai besar yang menuju arah Jakarta, Tangerang, dan sebagainya. Serta sebagian sungai-sungai "kecil" yang mengalir melewati daerah pinggiran

Belakangan saya merasa aneh dengan intensitas hujan yang masih cukup tinggi terjadi, wilayah "langganan" banjir seperti beberapa di daerah Jakarta masih "adem ayem". Pemberitaan tentang banjir ibu kota "hanya" ramai di awal tahun 2020 ini. Setelah periode itu cenderung lengang dari pemberitaan. Entah karena memang tidak ada atau karena tergeser pamor berita virus corona. Tapi anehnya, wilayah-wilayah yang berada di sekitar tempat tinggal saya justru mengalami semacam "anomali". Hujan lebat sedikit saja air langsung meluap. Tahun sebelumnya saya tidak menjumpai kondisi semacam itu.

Kawasan Industri Milenium sebelumnya sempat mengalami banjir lumayan tinggi. Merendam beberapa lokasi pabrik dan membuat para karyawan susah melewatinya. Kebetulan ada kerabat yang bekerja didaerah sana. Dan ia baru bisa pulang larut malam kala itu dengan bantuan mobil pemadam kebakaran (damkar) yang mengangkut karyawan disana sedikit demi sedikit. T

anggal 18 Mei malam banjir itu kembali terjadi. Dengan kondisi yang menurut saya terparah sejak saya mulai hidup di Tangerang pada media menjelang akhir tahun 2017. Sialnya, rumah tempat tinggal saya yang harus mengalaminya. Sebuah perumahan pinggiran yang kebetulan berdekatan dengan wilayah aliran sungai. Warga disana yang mengalami nasib serupa beberapa kali mengecam pihak developer perumahan yang menyajikan perumahan tidak seperti yang dijanjikan. 

Promosinya tidak banjir, tapi kenyataannya banjir. Beberapa kali kantor pemasaran milik developer digeruduk warga untuk meminta penyelesaian masalah ini. Bahkan kepala desa pun sempat diajak serta berdiskusi untuk menuntaskan masalah ini. Sangat tidak lucu setiap kali hujan turun hal itu justru memantik kecemasan akan musibah banjir kembali melanda.

 Sesuatu yang sebelum-sebelumnya justru hujan itu sangat dinantikan kehadirannya. Menilik kondisi ini saya mencoba melihat situasi di tahun sebelumnya. Nihil banjir. Lentas mengapa situasinya begitu berbeda sekarang? Kecurigaan saya alamatkan pada banjir kiriman yang kemungkinan porsinya ditambah. 

Distribusi air yang semestinya sebagian dialirkan pada sungai-sungai lain ditimpakan menjadi satu ke sungai yang mengalir dekat rumah tempat tinggal saya serta beberapa sungai "pinggiran" lain. Apakah mereka yang memiliki kewenangan untuk mendistribusikan air dari hulu itu sengaja melakukan yang demikian? Apakah karena Jakarta yang terkenal sering banjir itu "enggan" menerima "pasokan" air dari wilayah bogor dalam jumlah yang biasanya? Apakah karena kami yang berada di pinggiran ini dianggap minim sorotan sehingga biarpun banjir pemberitaan media masa akan jauh lebih kecil ketimbang hal itu terjadi di daerah ramai seperti Jakarta?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN