Mohon tunggu...
ASH
ASH Mohon Tunggu... Founder Sang Penggagas; Penulis Buku Powerful Life; Seorang Pecinta Literasi; Bisa dihubungi di agilseptiyanhabib@gmail.com

Berbisik Dalam Sunyi, Bersuara Dalam Senyap

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Jakarta Banjir Lagi, Anies akan Disalahkan (Lagi)?

8 Februari 2020   11:00 Diperbarui: 8 Februari 2020   11:02 210 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jakarta Banjir Lagi, Anies akan Disalahkan (Lagi)?
Anies Baswedan dan Banjir | Sumber gambar : legaleraindonesia.com

Pagi ini (08/02) Jakarta kembali dilanda banjir. Sebuah weekend yang cukup tidak mengenakkan untuk dijalani. Beberapa tempat diberitakan tergenang banjir sehingga menyulitkan para pengguna jalan. Genangan air sudah menacapai ketinggian beberapa centimeter di beberapa tempat. Bahkan sejak semalam sebenarnya wilayah Jakarta dan sekitarnya sudah diminta untuk waspda terkait kondisi Bendung Katulampa di Bogor yang sedang dalam status siaga 3. 

Hal ini berarti bisa kapan saja "suplai" air dari Bogor segera menuju wilayah Jakarta dan lantas menggenanginya. Terbukti, pagi ini air sudah "menguasai" beberapa tempat di wilayah ibukota dan sekitarnya. Lantas siapakah pihak atau sosok yang paling patut disalahkan terkait dengan banjir yang kembali terjadi ini? 

Apabila menyinggung perihal banjir Jakarta, maka bisa jadi Anies Baswedan (ABW) akan kembali mendapatkan caci maki dari orang-orang yang kecewa terhadap kondisi ini.

Jakarta banjir lagi, apakah perlu menyalahkan ABW lagi? Situasi banjir ini akan terus berulang kembali dimasa mendatang apabila situasi dan kondisinya masih tetap seperti sekarang. Jakarta dan beberapa wilayah di sekitar bisa dibilang sebagai "korban" atas kiriman air yang berlebihan dari wilayah hulu sumber mata air. 

Umumnya wilayah Bogor disebut sebagai hulu dan sumber dari berlimpah ruahnya air yang menggenangi Jakarta dan sekitarnya. Semakin tinggi intensitas hujan di hulu, maka warga yang ada di Jakarta dan sekitarnya mesti bersiap mendapatkan "paket" kiriman air dari daerah sebelah. Dan hal itu masih akan terus terjadi apabila tidak ada penanganan yang memadai serta tindakan preventif yang tepat. 

Daerah Jakarta dan sekitarnya memang harus "bertanggung jawab" untuk melakukan pengelolaan sampahnya secara bertanggung jawab, membuat jalur aliran air yang baik, dan sejenisnya. Hal-hal yang sekiranya menjadi pemicu banjir dari lingkup internal wilayah Jakarta dan sekitarnya mesti dituntaskan sesegera mungkin. 

Sedangkan jika menyangkut penyebab dari luar seperti "kiriman" air dari daerah lain tentu membutuhkan campur tangan pemerintah pusat untuk menanganinya. Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang pernah menyatakan bahwa banjir Jakarta akan lebih mudah diatasi tatkala beliau menjadi presiden haruslah direalisasikan secara nyata. 

Banjir ibukota tidak bisa dituntaskan dengan memindahkan ibukota ke Kalimantan, akan tetapi harus membereskan sumber penyebab utama dari "budaya" banjir yang hampir setiap tahun terjadi. Barangkali upaya "menyulap" wilayah hulu agar lebih mampu menahan air hujan bisa dilakukan dengan membangun infrastruktur pendukung yang memadai disana serta beberapa kelengkapan lain yang sekiranya mampu menanggulangi masalah ini. 

Mungkin untuk saat ini anggaran yang disiapkan untuk memindahkan ibukota lebih baik diprioritaskan untuk menuntaskan segala bentuk tindakan pencegahan banjir di seluruh wilayah tanah air. Lebih khusus untuk daerah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Warga terdampak banjir memang paling mudah untuk mengalamatkan musibah tersebut sebagai ketidakbecusan pemerintah dalam melakukan tindakan penanganan dan terlebih pencegahan. Hanya saja hal itu selamanya tidak akan mengubah apapun apabila tidak ada langkah nyata yang ditempuh. 

Saya pribadi yang saat ini tinggal di wilayah pinggiran Kota / Kabupaten Tangerang masih seringkali khawatir setiap kali hujan turun. Pengalaman beberapa hari lalu tatkala air sungai meluber dan menggenangi perumahan masih terus membayang. Dan usut punya usut sepertinya limpahan air itu juga berasal dari wilayah Bogor. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN