Mohon tunggu...
Agil S Habib
Agil S Habib Mohon Tunggu... Founder Sang Penggagas; Penulis Buku Powerful Life; Seorang Pecinta Literasi; Bisa dihubungi di agilseptiyanhabib@gmail.com

Berkarya dan hidup bersamanya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Doa Bertarif

23 September 2019   07:00 Diperbarui: 23 September 2019   07:06 0 5 2 Mohon Tunggu...
Doa Bertarif
Acara selamatan | Ilustrasi gambar : www.nu.or.id

Sudah sewajarnya acara peringatan keagamaan, acara adat, selamatan, atau sejenisnya melibatkan doa-doa didalamnya. Acara pernikahan, khitanan, bahkan kematian sekalipun tidak lepas dari ritual doa-doa, terutama di kalangan umat Islam. Bisa berupa tahlilan, khataman Al-Qur'an, ataupun sholawatan. 

Bagi masyarakat pedesaan kegiatan seperti itu sudah lumrah terjadi, ketika warga desa berbondong-bondong datang ke rumah salah seorang warganya yang mengadakan suatu acara. 

Mereka datang berkunjung, ikut berdoa, mengucapkan kata-kata selamat ataupun belasungkawa, dan sejenisnya. Kesan keakraban dan solidaritas seakan tercermin dalam setiap kegiatan tersebut.

Warga perkotaan barangkali patut iri dengan guyub rukunnya masyarakat pedesaan, terlebih suasana pedesaan zaman dulu yang memang penuh dengan kebersahajaan. Sesuatu yang tampaknya berbeda jauh dengan yang ada sekarang. Saat ini acara "kumpul-kumpul" mungkin masih terus bertahan, namun nilai yang ada didalamnya sudah sangat jauh berbeda. 

Dahulu, saat sebuah keluarga hendak mengadakan acara selamatan, mereka akan meminta bantuan kepada orang-orang di desa yang biasa menjadi "pengisi acara" untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Orang-orang ini biasanya diberikan tanda terima kasih sebatas kemampuan keluarga yang meminta tolong, tanpa ada patokan jumlah yang harus diberikan. 

Terkadang tanda terima kasih yang diberikan itu tidak selalu berupa uang, sekantong beras atau setandan buah pisang pun bisa dijadikan tanda terima kasih. Tidak ada keberatan atau penolakan dari orang-orang tersebut karena bagi mereka yang utama adalah membantu keluarga bersangkutan dengan dilandasi semangat menggapai ridho Sang Mahakuasa. Bagaimanapun juga, menjadi bagian dari "pengisi acara" kegiatan tersebut memiliki nilai ibadah. Semua dilandasi oleh semangat ibadah mencari ridho ilahii.

Saat ini, bahkan seseorang sudah berani memasang tarif untul "pelayanan" terhadap acara-acara selamatan ataupun aktivitas sejenis. Ada penawaran semacam borongan layaknya transaksi bisnis. Untuk mengaji selama satu hari harus dibayar berapa. Terkadang tarif yang diberlakukan oleh beberapa kelompok tertentu berbeda dengan yang lain. 

Keluarga yang ingin mengadakan acara selamatan memperingati wafatnya salah seorang kerabatnya pun sampai harus mencari uang kesana sini guna membayar orang-orang untuk "mengisi acara" itu. 

Doa-doa yang dulu bisa dipanjatkan secara "gratis" pun kini sudah tidak ada lagi. Asas mencari ridho Sang Khaliq telah bergeser menjadi asas ekonomi dimana semuanya didasarkan pada prinsip mencari keuntungan ekonomis. Solidaritas yang terlihat hanyalah sesuatu yang semu. Keikhlasan menguntai doa diragukan keberadaannya seiring transaksi ekonomi yang ada di belakangnya.

Sudah sebegitu materialistiskah kita sekarang sehingga hal-hal yang sensitif perihal ritual keagamaan sekalipun telah menjadi komoditas ekonomi. Mungkin untuk kegiatan-kegiatan yang "berbau" euforia atau suka cita cukup etis tatkala para pengisi kegiatan keagamaan mendapatkan "amplop" ucapan terima kasih. 

Namun untuk acara yang didalamnya mengandung unsur duka cita sungguh hal itu patut dipertanyakan. Terlepas dari apapun itu, memasang tarif untuk doa yang hendak dipanjatkan memantik kekhawatiran dari kualitas doa itu sendiri. Bisa jadi yang disebut sebagai doa itu menjadi sesuatu yang tidak lebih dari sekadar lantunan kalimat-kalimat biasa tanpa isi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x